Monday, 24 August 2026 | 19:19 WIB

Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Melaut Nelayan Natuna

Kabut asap tebal kembali menjadi momok bagi nelayan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Aktivitas melaut terpaksa dihentikan karena jarak pandang yang menyusut drastis.Kondisi itu berlangsun...

Aug 24, 2026 - 17:28
0 0
Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Melaut Nelayan Natuna

Kabut asap tebal kembali menjadi momok bagi nelayan di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Aktivitas melaut terpaksa dihentikan karena jarak pandang yang menyusut drastis.

Kondisi itu berlangsung setelah asap kebakaran hutan dan lahan dari Kalimantan terbawa angin hingga ke wilayah pesisir Natuna. Para nelayan yang biasanya berangkat subuh kini memilih menunda keberangkatan.

Sejumlah saksi mata di pesisir melaporkan langit pagi diselimuti kabut keabu-abuan. Perahu-perahu yang biasanya berjejer di dermaga tampak sepi dari aktivitas bongkar muat hasil tangkapan.

Jarak Pandang Menyusut, Risiko Meningkat

Jarak pandang di perairan Natuna disebut sangat terbatas. Nelayan mengaku hanya mampu melihat objek dalam jarak dekat. Hal itu membuat navigasi manual menggunakan kompas dan tanda alam menjadi sulit dilakukan.

Risiko kecelakaan di laut pun meningkat. Kapal kecil rentan tersesat saat pandangan terhalang kabut. Ancaman tabrakan antarperahu dan kandas di perairan dangkal juga menjadi kekhawatiran utama para nelayan.

Beberapa nelayan mengaku sempat nekat melaut. Namun mereka memilih berputar arah setelah merasa tidak aman. Pengalaman buruk itu membuat yang lain semakin berhati-hati.

Nelayan Pilih Bertahan di Darat

Daripada mempertaruhkan keselamatan, mayoritas nelayan memilih bertahan di darat. Mereka menggunakan waktu luang untuk memperbaiki jaring dan merawat mesin perahu. Sebagian lainnya hanya menunggu kabut berangsur menghilang.

Keputusan itu diambil dengan berat hati. Pasalnya, setiap hari tanpa melaut berarti kehilangan penghasilan. Padahal hasil tangkapan menjadi tumpuan utama keluarga di daerah pesisir.

Seorang nelayan yang ditemui di dermaga mengatakan kondisi seperti ini biasanya berlangsung hingga angin berganti arah. Tidak ada yang berani memastikan kapan aktivitas bisa kembali normal.

Penghasilan Harian Terhenti

Dampak ekonomi langsung dirasakan keluarga nelayan. Pendapatan harian yang biasa diperoleh dari hasil laut kini terhenti. Para istri nelayan pun ikut merasakan tekanan karena kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Pedagang ikan di pasar tradisional juga terdengar mengeluh. Pasokan ikan segar menurun karena tangkapan minim. Harga sejumlah jenis ikan sempat bergejolak akibat berkurangnya suplai dari laut.

Kondisi ini menambah daftar panjang kerugian akibat karhutla. Bukan hanya kebakaran yang melahap lahan, tetapi asapnya pun menyebar hingga mengganggu mata pencaharian masyarakat di daerah lain.

Asap Datang dari Jauh

Kabut asap yang menyelimuti Natuna berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Angin membawa partikel asap melintasi lautan sebelum akhirnya menumpuk di wilayah Kepulauan Riau.

Fenomena ini bukan kali pertama terjadi. Pada musim kemarau, kabut asap lintas batas kerap menjadi masalah tahunan. Pola angin musiman membuat sebaran asap sulit diprediksi secara pasti.

Pemerintah daerah di Kalimantan terus berupaya memadamkan titik api. Namun luasnya area kebakaran membuat penanganan berjalan lambat. Bantuan pemadaman dari udara juga terkendala kondisi cuaca.

Imbauan Utamakan Keselamatan

Berbagai pihak mengimbau nelayan untuk mengutamakan keselamatan. Melaut dalam kondisi jarak pandang terbatas dinilai terlalu berisiko. Para nelayan diminta memantau perkembangan cuaca sebelum berangkat.

Komunikasi antarnelayan juga dianggap penting. Mereka diminta saling memberi informasi tentang kondisi laut terkini. Jika kabut kian pekat, seluruh aktivitas diharapkan dihentikan sementara.

Di sisi lain, nelayan diingatkan menjaga kesehatan. Kabut asap mengandung partikel halus yang berbahaya bila terhirup dalam waktu lama. Penggunaan masker saat berada di luar rumah sangat disarankan.

Perkembangan kondisi ini masih terus dipantau. Masyarakat berharap kabut segera sirna agar laut kembali ramah bagi para pencari nafkah. Seluruh pihak berharap musim karhutla tidak berkepanjangan.

Pemerintah pun diminta menyiapkan langkah antisipasi. Bantuan logistik dan pendampingan ekonomi bagi nelayan terdampak perlu dipikirkan sejak dini. Dengan begitu, beban warga pesisir bisa diringankan selama masa sulit ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User