Dunia maya kembali dihebohkan oleh peredaran konten manipulatif yang menyalahgunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Kali ini, figur publik ternama sekaligus Chairman CT Corp, Chairul Tanjung, menjadi sasaran rekayasa digital berupa video tiruan (deepfake) yang mempromosikan skema investasi palsu. Manajemen secara tegas memastikan bahwa video tersebut merupakan hoaks dan tindak penipuan bermotif siber.
Penyalahgunaan teknologi generatif AI untuk menduplikasi rupa dan suara tokoh terkenal kini semakin marak digunakan oknum tidak bertanggung jawab. Konten hoaks tersebut sengaja dirancang menyerupai gaya bicara dan gestur khas pengusaha nasional tersebut demi membangun kredibilitas palsu guna menjebak korban.
Kronologi Temuan dan Eskalasi Konten Hoaks
Berdasarkan penelusuran digital, peredaran konten manipulatif tersebut berlangsung melalui tahapan berikut:
- Kemunculan di Media Sosial: Video pertama kali terlacak beredar melalui platform media sosial dan aplikasi pesan instan dalam format potongan video pendek berkualitas tinggi.
- Manipulasi Audio Visual: Pelaku menggunakan rekaman video wawancara resmi masa lalu, lalu mengganti artikulasi bibir serta audio menggunakan teknologi kloning suara AI untuk membacakan skrip ajakan investasi instan.
- Penyebaran Iklan Bersponsor: Video kemudian dipromosikan secara masif menggunakan akun-akun anonim melalui fitur iklan berbayar demi menjangkau masyarakat awam dalam skala luas.
- Klarifikasi Resmi Manajemen: Pihak CT Corp dan perwakilan manajemen langsung mengeluarkan sanggahan tegas serta mengimbau publik untuk tidak mempercayai tawaran finansial ilegal tersebut.
"Kami menegaskan bahwa Chairman CT Corp Chairul Tanjung tidak pernah terlibat, mempromosikan, maupun mendukung platform investasi skema cepat kaya yang beredar di video tersebut. Konten tersebut 100 persen hasil rekayasa AI murni," tegas pernyataan perwakilan manajemen.
Modus Operandi 'Deepfake' dan Ciri-Ciri Penipuan Finansial
Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa modus deepfake scam kini menjadi ancaman serius bagi sektor finansial digital di Indonesia. Pelaku biasanya memanfaatkan ketenaran tokoh bereputasi tinggi untuk meyakinkan korban agar menyetorkan sejumlah dana ke rekening penampung.
Masyarakat diimbau untuk selalu cermat dan waspada mengenali tanda-tanda video rekayasa AI:
- Sinkronisasi Bibir yang Janggal: Gerakan bibir (lip-sync) sering kali tidak sepenuhnya selaras dengan tempo pengucapan kata atau intonasi suara.
- Kedipan dan Ekspresi Kaku: Mimik wajah hasil olahan AI kerap terlihat tidak natural, memiliki kedipan mata yang tidak wajar, atau tekstur kulit yang tampak kabur di sekitar tepi wajah.
- Janji Imbal Hasil Tidak Masuk Akal: Video menawarkan keuntungan finansial yang sangat besar dalam waktu singkat tanpa risiko yang jelas.
- Tautan Mencurigakan: Tautan pendaftaran mengarah ke situs web tidak resmi yang meminta data pribadi perbankan atau transfer deposit awal.
Langkah Antisipasi dan Imbauan Regulasi
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperketat pengawasan terhadap lalu lintas konten digital manipulatif. Publik diminta untuk segera memverifikasi legalitas setiap entitas investasi melalui kanal resmi OJK sebelum memutuskan bertransaksi.
Bagi masyarakat yang menemukan peredaran video hoaks serupa, diharapkan segera melakukan pelaporan ke kanal aduan resmi pemerintah atau platform media sosial terkait guna memutus rantai penipuan digital yang berpotensi merugikan masyarakat luas.
Comments (0)