Sep 17, 2026
Nasional

JAKARTA — Pemprov DKI Didesak Pemerataan Placemaking Kawasan TOD

Derap langkah ribuan komuter bergemuruh setiap sore di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di antara riuhnya perpindahan moda transportasi MRT, LRT, dan Tra

JAKARTA — Pemprov DKI Didesak Pemerataan Placemaking Kawasan TOD

Derap langkah ribuan komuter bergemuruh setiap sore di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Di antara riuhnya perpindahan moda transportasi MRT, LRT, dan TransJakarta, ruang-ruang publik berkonsep placemaking di area ini tampak hidup dengan pertunjukan musik jalanan, lapak UMKM yang tertata, serta area pejalan kaki yang luas. Namun, pemandangan kontras terlihat ketika bergeser ke kawasan transit berorientasi (Transit-Oriented Development/TOD) lainnya di pinggiran Jakarta, di mana area stasiun masih terasa dingin, steril, dan sekadar menjadi tempat perlintasan tanpa jiwa.

Pembangunan infrastruktur transportasi massal di Ibu Kota memang melesat pesat dalam lima tahun terakhir. Kendati demikian, filosofi dasar TOD tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik stasiun atau integrasi rel semata. Keberhasilan TOD sangat bergantung pada placemaking—sebuah pendekatan perencanaan kota yang merancang ruang publik untuk meningkatkan kualitas hidup, interaksi sosial, serta ekonomi komunitas lokal di sekitar simpul transit.

Ketimpangan Wajah Kawasan Transit Ibu Kota

Saat ini, ketimpangan kualitas ruang publik antar-kawasan TOD di Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah yang menumpuk. Pusat kota seperti Dukuh Atas dan Blok M menikmati penataan yang masif, sementara simpul transit di area pendukung seperti Lebak Bulus, Ciracas, hingga Pegangsaan Dua terkesan diabaikan aspek ruang ketegangannya.

Berdasarkan pengamatan para ahli tata kota, sekitar 70 persen aktivitas placemaking bermakna masih terkonsentrasi di jalur utama MRT Jakarta Fase 1 kawasan pusat. Kawasan pinggiran umumnya hanya dilengkapi trotoar seadanya dan minim ruang terbuka hijau yang aktif, sehingga gagal mendorong warga untuk berlama-lama atau berinteraksi.

"TOD tanpa placemaking yang inklusif dan merata hanya akan menciptakan stasiun pemindah penumpang yang gersang. Stasiun tidak boleh hanya menjadi tempat orang lalu lalang, melainkan harus bertindak sebagai jantung kehidupan sosial masyarakat setempat," ujar Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti.

Perbandingan Kesiapan Placemaking di Kawasan TOD Jakarta

Untuk memahami peta ketimpangan penataan ruang publik pada titik-titik transit utama di Jakarta, berikut data perbandingan kondisi lapangan saat ini:

| Sangat Baik (Taman, Plaza, Trotoar Luas)
Kawasan TOD Integrasi Moda Ketersediaan Ruang Publik Tingkat Aktivitas Warga
Dukuh Atas Sangat Tinggi (MRT, LRT, KRL, TJ) Sangat Tinggi
Blok M Tinggi (MRT, TransJakarta) Baik (Taman Literasi, Kuliner Integrasi) Tinggi
Lebak Bulus Tinggi (MRT, Bus Interkota) Sedang (Aksesibilitas Terbatas) Sedang
Ciracas Sedang (LRT Jabodebek) Minim (Kurang Ruang Interaksi) Rendah

Strategi Mewujudkan Ruang Publik Inklusif

Pemerataan penataan kawasan transit membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BUMD pengelola TOD seperti PT MRT Jakarta, serta pihak swasta. Pendekatan placemaking yang terencana tidak harus selalu berbiaya mahal, melainkan berfokus pada fungsi dan keberlanjutan interaksi publik.

Langkah awal yang mendesak dilakukan adalah memperluas trotoar yang aman dan ramah disabilitas di radius 500 meter hingga 1 kilometer di sekitar stasiun pinggiran. Selain itu, penyediaan kantong-kantong usaha bagi pelaku UMKM lokal serta pembuatan taman-taman publik skala mikro (pocket parks) dapat memicu menghidupkan suasana di sekitar simpul transit.

Dengan membagi fokus pembangunan ke kawasan tepi Jakarta, TOD diharapkan tidak sekadar menjadi jargon transportasi, melainkan sarana redistribusi keadilan ruang publik bagi seluruh warga Ibu Kota tanpa terkecuali.

Pembangunan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) di Jakarta dinilai masih timpang. Kawasan pusat menikmati fasilitas ruang publik yang vibrant, sedangkan stasiun di area pinggiran minim tempat interaksi sosial. Pemerintah DKI dan pengelola transportasi didesak memperluas penataan trotoar, taman mikro, dan fasilitas UMKM hingga ke ujung koridor transit. Simak analisis selengkapnya di Beritatercepat.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User