Sep 18, 2026
Nasional

JAKARTA — Menteri Wihaji Tegaskan Keluarga Mampu Tetap Berisiko Stunting

Anggapan bahwa masalah tengkes atau stunting hanya mengintai masyarakat berpenghasilan rendah kini ditepis keras oleh pemerintah. Masalah gangguan pertumbu

JAKARTA — Menteri Wihaji Tegaskan Keluarga Mampu Tetap Berisiko Stunting

Anggapan bahwa masalah tengkes atau stunting hanya mengintai masyarakat berpenghasilan rendah kini ditepis keras oleh pemerintah. Masalah gangguan pertumbuhan fisik dan otak pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini nyatanya juga menjadi ancaman nyata bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga berada.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, menekankan bahwa kondisi ekonomi yang berkecukupan tidak serta-merta menjadi jaminan seorang anak bebas dari risiko stunting. Tanpa disertai pemahaman gizi yang tepat dan pola asuh yang berkualitas, potensi stunting tetap mengintai anak dari kelas sosial manapun.

Mitos Kemiskinan dan Realitas Stunting di Masyarakat

Selama ini, narasi publik kerap menyederhanakan stunting sebagai dampak langsung dari garis kemiskinan dan keterbatasan daya beli masyarakat. Namun, berbagai temuan di lapangan menunjukkan fenomena yang memprihatinkan: banyak anak dari keluarga berada mengalami keterlambatan pertumbuhan kognitif dan fisik akibat pola makan yang salah.

Fenomena ini dipicu oleh pergeseran gaya hidup perkotaan, tingginya konsumsi makanan cepat saji (junk food), hingga minimnya durasi pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif akibat kesibukan orang tua berkarir. Pola makan yang kaya akan kalori, gula, dan lemak jenuh kerap kali menggeser keberadaan asupan protein hewani penting yang sangat dibutuhkan dalam masa emas pertumbuhan anak.

"Risiko stunting tidak hanya berkaitan dengan tingkat pendapatan atau faktor ekonomi semata. Ada faktor pola pengasuhan, literasi asupan gizi yang benar, serta perhatian langsung dari orang tua yang sangat menentukan. Keluarga yang secara finansial sangat mampu sekalipun tetap berisiko jika abai terhadap kualitas nutrisi anak," ungkap Wihaji saat memberikan arahan di Jakarta.

Berikut adalah matriks perbandingan faktor risiko stunting berdasarkan latar belakang sosio-ekonomi keluarga:

Faktor Pembanding Keluarga Prasejahtera Keluarga Berkecukupan
Akses Pangan Bergizi Keterbatasan daya beli untuk membeli protein hewani berkualitash tinggi. Akses finansial melimpah, namun kerap terkendala dominasi makanan olahan/instan.
Pola Asuh & Pengawasan Terkendala keterbatasan informasi dan sarana edukasi kesehatan. Terkendala keterbatasan waktu interaksi akibat kesibukan kerja orang tua.
Pemenuhan Gizi Spesifik Rentan kekurangan kalori dan nutrisi secara umum. Rentan mengalami hidden hunger (kekurangan mikronutrien seperti zat besi & zink).

Pentingnya Penguatan 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Pemerintah terus menggemakan pentingnya pengawasan ketat pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), terhitung sejak janin berada dalam kandungan hingga anak genap berusia dua tahun. Pada fase krusial ini, organ vital dan jaringan otak berkembang sangat pesat. Kegagalan pemenuhan nutrisi seimbang pada periode ini akan berdampak buruk yang sifatnya permanen hingga anak dewasa nanti.

Para pakar kesehatan mengingatkan bahwa anak yang tampak kenyang tidak selalu terpenuhi kebutuhan gizinya. Konsumsi makanan tinggi kalori tanpa diimbangi kecukupan asam amino esensial dari protein hewani seperti telur, ikan, daging sapi, dan ayam tetap memicu terjadinya tengkes.

  • ASI Eksklusif 6 Bulan: Langkah wajib tanpa memberikan tambahan cairan atau makanan padat lain sebelum usianya genap 6 bulan.
  • MPASI Kaya Protein Hewani: Menu Makanan Pendamping ASI harus mengutamakan sumber protein hewani lokal yang mudah diserap tubuh anak.
  • Pemantauan Rutin di Pelayanan Kesehatan: Melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan secara berkala guna mendeteksi gejala awal faltering growth (keterlambatan pertumbuhan).

Strategi Komprehensif Kementerian Kependudukan

Menanggapi tantangan ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga tidak hanya memfokuskan program intervensi bantuan pangan bagi warga kurang mampu, tetapi juga menggencarkan program pembekalan literasi pengasuhan (parenting education) bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pendampingan bagi calon pengantin (catin) melalui pemeriksaan kesehatan pra-nikah juga terus dioptimalkan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan setiap ibu berada dalam kondisi fisik yang prima serta bebas dari anemia sebelum memutuskan untuk hamil dan melahirkan.

"Menghasilkan generasi masa depan yang unggul dan berdaya saing tidak cukup hanya mengandalkan kecukupan materi. Hal itu membutuhkan kesadaran, pengetahuan gizi yang memadai, serta hadirnya kasih sayang dan pengawasan nyata dalam keluarga," tutur Wihaji menegaskan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User