Sep 17, 2026
Hukum

JAKARTA — Mentan Amran Tegaskan Swasembada Pangan Benteng Gejolak Global

Di tengah kepungan ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim yang kian ekstrem, jaminan ketersediaan bahan pokok menjadi benteng pertahanan paling

JAKARTA — Mentan Amran Tegaskan Swasembada Pangan Benteng Gejolak Global

Di tengah kepungan ketidakpastian ekonomi global dan perubahan iklim yang kian ekstrem, jaminan ketersediaan bahan pokok menjadi benteng pertahanan paling krusial bagi sebuah bangsa. Suasana khidmat menyelimuti Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, saat Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berdiri di hadapan ratusan tokoh dan cendekiawan dalam Simposium Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI).

Dengan nada tegas dan penuh keyakinan, Amran menyampaikan pandangan strategisnya mengenai pentingnya kedaulatan pangan. Menurutnya, pencapaian swasembada pangan bukan sekadar target angka produksi semata, melainkan sebuah instrumen vital untuk melindungi rakyat Indonesia dari guncangan krisis global yang sewaktu-waktu dapat mengancam stabilitas nasional.

Benteng Pertahanan Utama Menghadapi Gejolak Global

Ketegangan geopolitik dunia serta gangguan rantai pasok global telah membuktikan bahwa ketergantungan pada produk impor adalah celah bahaya bagi kedaulatan negara. Mentan Amran menggarisbawahi bahwa negara yang tangguh adalah negara yang mampu memberi makan rakyatnya dari hasil bumi sendiri tanpa bergantung pada belas kasihan pasar internasional.

Dalam pemaparannya sebagai keynote speaker pada simposium bertajuk "KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa, Menuju Indonesia Emas 2045" pada Rabu (9/9/2026), Amran menegaskan bahwa percepatan penguatan produksi domestik menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi demi keberlanjutan hidup masyarakat luas.

"Kita harus lindungi rakyat Indonesia. Kita harus lindungi petani. Kita lindungi orang miskin," ujar Mentan Andi Amran Sulaiman dengan lugas di hadapan para peserta simposium.

Keberpihakan Nyata pada Petani dan Wong Kecil

Keberhasilan sektor pertanian, menurut Amran, tidak boleh diukur hanya dari profitabilitas korporasi besar. Gagasan swasembada pangan harus mengakar pada prinsip keberpihakan terhadap nasib para petani gurem dan masyarakat berpenghasilan rendah. Tanpa jaminan harga yang adil dan perlindungan dari gempuran komoditas impor, petani lokal akan terus berada dalam posisi yang terpinggirkan.

Guna memberikan gambaran mendalam terkait urgensi transformasi kebijakan pangan nasional, berikut adalah perbandingan arah kebijakan pangan berbasis ketergantungan impor versus strategi swasembada berkelanjutan:

Indikator Fokus Kebijakan Ketergantungan Impor Strategi Swasembada Pangan Berkelanjutan
Pasokan Utama Rentan berpatokan pada kuota dan pasar luar negeri Optimalisasi lahan pertanian dan produksi domestik
Perlindungan Petani Tergerus persaingan harga komoditas impor murah Regulasi jaminan harga acuan dan penyerapan panen
Ketahanan Krisis Sangat rentan terhadap inflasi dan krisis pangan dunia Mandiri dengan pasokan dan cadangan nasional yang kuat

Amran mengingatkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak gemilang dalam mencapai swasembada pangan pada masa lalu untuk beberapa komoditas strategis. Namun, perubahan regulasi yang kurang berpihak pada produksi domestik sempat membuat posisi strategis tersebut meluruh hingga meningkatkan ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Langkah Strategis Menuju Indonesia Emas 2045

Pemerintah kini terus menggenjot perbaikan infrastruktur pertanian nasional, mulai dari modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), percepatan program pompanisasi untuk mengantisipasi potensi kekeringan, hingga penyaluran pupuk bersubsidi yang lebih tepat sasaran. Komitmen ini selaras dengan peta jalan pembangunan jangka panjang menuju target Indonesia Emas 2045.

Beberapa poin prioritas pembangunan pertanian yang terus didorong oleh Kementerian Pertanian antara lain:

  • Peningkatan Produktivitas Lahan: Melalui efisiensi sistem irigasi serta intensifikasi pertanian di berbagai wilayah sentra produksi.
  • Proteksi Harga Pasar: Memastikan harga jual di tingkat petani tetap menguntungkan agar minat bertani generasi muda tetap terjaga.
  • Penguatan Hilirisasi Produk: Membuka nilai tambah bagi hasil panen lokal agar memiliki daya saing yang kuat di pasar global.

Melalui sinergi erat antara pemerintah, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan seperti KAHMI, langkah menuju kemandirian pangan nasional diharapkan mampu menjadi pondasi paling kokoh dalam menjaga kedaulatan NKRI dari ketidakpastian dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User