Sep 21, 2026
Nasional

JAKARTA — Indonesia Masih Menyimpan 20 Kilogram Uranium Milik PT INUKI

Di balik kawasan fasilitas penelitian yang sunyi, fakta mengejutkan menyeruak ke permukaan mengenai keberadaan material radioaktif berkekuatan tinggi di Ta

JAKARTA — Indonesia Masih Menyimpan 20 Kilogram Uranium Milik PT INUKI

Di balik kawasan fasilitas penelitian yang sunyi, fakta mengejutkan menyeruak ke permukaan mengenai keberadaan material radioaktif berkekuatan tinggi di Tanah Air. Indonesia tercatat masih menyimpan sedikitnya 20 kilogram uranium milik PT Industri Nuklir Indonesia (Persero) atau PT INUKI, sebuah Perusahaan Milik Negara (BUMN) yang saat ini sudah tidak beroperasi lagi. Jumlah bahan nuklir tersebut berpotensi menimbulkan risiko keamanan dan radiasi yang sangat signifikan jika tidak dikelola dengan sistem pengamanan ekstra ketat.

Keberadaan material berbahaya ini menjadi sorotan tajam karena jumlah 20 kilogram uranium memiliki estimasi potensi energi yang sangat dahsyat, bahkan kerap disepadankan dengan daya ledak satu unit bom nuklir tingkat taktis. Meskipun sisa material tersebut berada dalam pengawasan otoritas terkait, kondisi PT INUKI yang berstatus non-aktif memicu keprihatinan mendalam mengenai tata kelola jangka panjang dan biaya perawatan pengamanan material radioaktif tersebut.

Risiko Keamanan dan Urgensi Pengendalian Bahan Nuklir

Pengelolaan bahan radioaktif sisa operasional reaktor membutuhkan protokol keamanan berskala internasional. Dalam dunia teknologi nuklir, persediaan 20 kilogram uranium bukanlah angka yang kecil. Pengayaan material ini memerlukan pengawasan ketat secara terus-menerus dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) serta koordinasi dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) guna memastikan material tersebut tidak meluruh secara berbahaya atau disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"Pengawasan ketat terhadap sisa bahan bakar nuklir sisa operasional BUMN merupakan harga mati demi mencegah risiko pencemaran radiasi serta ancaman keamanan nasional," tegas pakar keselamatan nuklir nasional dalam analisisnya.

Para pakar memperingatkan bahwa pembiaran tanpa kepastian status konsolidasi material berpotensi meningkatkan beban kerentanan. Risiko berupa kebocoran radiasi lingkungan hingga ancaman pencurian material strategis terus membayangi selama proses penyelesaian sisa aset PT INUKI belum dituntaskan secara paripurna.

Kondisi PT INUKI dan Tantangan Pengalihan Aset

PT INUKI dulunya merupakan tombak utama Indonesia dalam memproduksi radioisotop untuk kebutuhan medis dan industri. Namun, seiring dengan dinamika restrukturisasi BUMN dan pengalihan fungsi riset ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), operasional PT INUKI terhenti. Penghentian aktivitas bisnis ini menyisakan tanggung jawab besar berupa sisa bahan baku radioaktif yang belum terserap habis.

Berikut adalah gambaran ringkas mengenai data penyimpanan dan status material radioaktif PT INUKI saat ini:

Parameter Data Keterangan Deskriptif
Jumlah Material 20 Kilogram Uranium
Entitas Pemilik PT Industri Nuklir Indonesia (Persero) / PT INUKI
Status Perusahaan Non-Aktif / Restrukturisasi BUMN
Lembaga Pengawas BAPETEN & BRIN (Otoritas Pengawas Nuklir)
Tingkat Pengamanan Sangat Tinggi (High Safeguard Level)

Langkah Pengamanan dan Masa Depan Material Nuklir

Pemerintah Indonesia kini dihadapkan pada opsi strategis untuk mengamankan 20 kilogram uranium tersebut. Opsi pemrosesan ulang (reprocessing), pengembalian material ke negara asal pemasok, atau peluruhan aman di fasilitas penampungan limbah radioaktif tingkat tinggi BRIN menjadi pilihan yang sedang dikaji secara mendalam. Transparansi dan kecepatan tindakan menjadi kunci utama agar keresahan publik dapat diredam.

Langkah penanganan ini tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi domestik, tetapi juga menjaga komitmen non-proliferasi nuklir Indonesia di mata dunia internasional. Setiap gram uranium yang tersimpan harus tercatat dengan presisi mutlak demi menjamin bahwa energi nuklir di Indonesia tetap berjalan di atas koridor perdamaian dan keselamatan publik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User