Sep 17, 2026
Nasional

JAKARTA — Dino Patti Djalal Targetkan AFPC 2025 Jembatani ASEAN dan Rakyat

Suasana diplomasi kawasan Asia Tenggara sering kali identik dengan ruang rapat ber-AC, karpet merah, dan jabat tangan antar-kepala negara yang terkesan eks

JAKARTA — Dino Patti Djalal Targetkan AFPC 2025 Jembatani ASEAN dan Rakyat

Suasana diplomasi kawasan Asia Tenggara sering kali identik dengan ruang rapat ber-AC, karpet merah, dan jabat tangan antar-kepala negara yang terkesan eksklusif. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar dari 680 juta jiwa penduduk Asia Tenggara belum merasakan dampak langsung dari keputusan-keputusan geopolitik yang diambil di tingkat puncak tersebut. Menanggapi celah yang semakin melebar ini, Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, meluncurkan inisiatif strategis melalui penyelenggaraan ASEAN Foreign Policy Conference (AFPC) 2025.

Gelaran AFPC 2025 dirancang bukan sekadar sebagai ajang diskusi rutin para diplomat, melainkan sebagai wadah inklusif untuk meruntuhkan tembok pemisah antara institusi formal Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan masyarakat di tingkat akar rumput. Berpusat di Jakarta, konferensi ini diharapkan mampu menghadirkan narasi baru di mana suara rakyat jelata, pemuda, aktivis, hingga pelaku usaha mikro dapat mewarnai arah kebijakan luar negeri kawasan.

Menembus Dinding Kaca Diplomasi Elit

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia tersebut menegaskan bahwa ASEAN kerap dipersepsikan sebagai organisasi yang elitis dan berjarak dari realitas kehidupan sehari-hari warga negaranya. Banyak isu krusial di tingkat bawah yang sering luput dari perhatian utama rapat tingkat tinggi para menteri.

"AFPC 2025 diselenggarakan dengan visi utama untuk menjembatani jurang pemisah yang lebar antara ASEAN sebagai lembaga antarpemerintah dan masyarakat di akar rumput. Kita ingin rakyat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pemilik sah dari proses integrasi kawasan ini," tegas Dino Patti Djalal saat memberikan pemaparannya di Jakarta.

Menurut Dino, keberhasilan integrasi regional tidak boleh hanya diukur dari angka perdagangan antarnegara atau traktat keamanan formal. Indikator sejati dari keberhasilan ASEAN adalah sejauh mana warga desa di Indonesia, petani di Vietnam, atau pekerja migran di Filipina merasakan manfaat keamanan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum yang dihadirkan oleh komunitas regional ini.

Komparasi Fokus: Diplomasi Elit vs Pendekatan Akar Rumput

Untuk memberikan gambaran jelas mengenai pergeseran paradigma yang diusung oleh AFPC 2025, berikut adalah perbandingan fokus antara diplomasi ASEAN konvensional dan pendekatan publik yang ditawarkan dalam forum mendatang:

Dimensi Analisis Diplomasi ASEAN Konvensional Pendekatan AFPC 2025 (Akar Rumput)
Aktor Utama Kepala Negara, Menteri, Diplomat Karir Masyarakat Sipil, Pemuda, Akademisi, Komunitas Lokal
Fokus Isu Stabilitas Geopolitik, Perjanjian Perdagangan Besar Hak Asasi Manusia, Tenaga Kerja Migran, Ekonomi Kerakyatan
Sifat Komunikasi Top-Down (Atas ke Bawah), Formal, Tertutup Bottom-Up (Bawah ke Atas), Terbuka, Partisipatif

Mendorong Partisipasi Inklusif untuk Masa Depan Kawasan

Penyelenggaraan AFPC 2025 ditargetkan bakal melibatkan lebih dari 5.000 peserta secara hibrida yang berasal dari 10 negara anggota ASEAN ditambah Timor Leste. FPCI berkomitmen menyediakan ruang bagi kelompok marginal dan generasi muda untuk menyampaikan rekomendasi kebijakan secara langsung kepada para pembuat keputusan.

Beberapa isu krusial yang akan dibahas secara mendalam mencakup perlindungan tenaga kerja migran, penanganan krisis iklim yang mengancam mata pencaharian petani dan nelayan, serta kebebasan berpendapat di era digital. Kebijakan luar negeri tidak boleh lagi dirumuskan secara terisolasi di ruang-ruang tertutup tanpa mendengarkan aspirasi mereka yang paling terdampak oleh krisis global.

"Jika masyarakat merasa asing dengan ASEAN, maka relevansi organisasi ini akan terancam di masa depan. Kita harus mengembalikan rasa kepemilikan ASEAN kepada rakyatnya sendiri," tambah Dino dengan penuh penekanan.

Dengan semangat kolaborasi yang kuat, AFPC 2025 diharapkan mampu melahirkan Deklarasi Akar Rumput yang berisikan peta jalan konkret bagi penguatan peran masyarakat sipil dalam arsitektur keamanan dan ekonomi kawasan Asia Tenggara menuju Visi ASEAN 2045.

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal menegaskan pentingnya keterlibatan publik dalam kebijakan luar negeri ASEAN. AFPC 2025 dirancang untuk menyuarakan aspirasi rakyat, dari pekerja migran hingga isu iklim. Baca selengkapnya di Beritatercepat.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User