Irtja Hadju Luncurkan Buku Sejarah Gorontalo, Buah Riset 20 Tahun di Usia
KOTA GORONTALO — Sebuah karya besar yang telah dinanti akhirnya resmi diluncurkan, menandai pencapaian luar biasa dari seorang peneliti senior di usianya yang ke-89. BARU SAJA, Irtja Tangahu Hadju m...
KOTA GORONTALO — Sebuah karya besar yang telah dinanti akhirnya resmi diluncurkan, menandai pencapaian luar biasa dari seorang peneliti senior di usianya yang ke-89. BARU SAJA, Irtja Tangahu Hadju merilis buku “Gorontalo: Takdir Pohala’a”, sebuah studi historiografi yang merangkum perjalanan panjang peradaban Gorontalo.
Dua Dekade Riset, Satu Warisan Abadi
Lebih dari sekadar peluncuran biasa, acara ini menjadi tonggak penting bagi pelestarian identitas budaya Gorontalo. Buku setebal 600 halaman ini bukanlah karya instan; ia merupakan kristalisasi dari 20 tahun riset mendalam yang dilakukan sang penulis. Di tengah kekhawatiran akan tergerusnya nilai-nilai lokal, Hadju hadir membawa obor pengetahuan yang dirakit dari ribuan dokumen kuno, manuskrip, dan wawancara dengan para tetua adat.
Data primer yang dikumpulkan meliputi catatan dari era kerajaan hingga masa kolonial, disusun secara kronologis untuk memberikan gambaran utuh bagaimana “Pohala’a”—sebutan bagi wilayah-wilayah kerajaan di Gorontalo—membentuk takdir kolektif masyarakatnya. Struktur naratifnya membedah dinamika politik lokal, sistem kepercayaan, hingga hukum adat yang masih hidup hingga kini.
Mencegah Kepunahan Ingatan Kolektif
Hadju mengaku bahwa alasan utama di balik proyek ambisius ini adalah rasa tanggung jawab moral terhadap generasi muda. “Kita berada di ambang kehilangan pijakan sejarah. Anak-anak kita lebih mengenal budaya luar ketimbang asal-usul mereka sendiri,” ujarnya dalam sesi diskusi buku, di hadapan puluhan akademisi yang hadir.
Buku ini secara tajam menyoroti tiga poin kunci:
- Asal-usul kebangsaan: Menelusuri jejak integrasi Gorontalo ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sering kali terlewat dalam narasi nasional.
- Sistem pemerintahan tradisional: Mengupas habis peran para “Bate” dan struktur kekuasaan lokal yang unik.
- Resistensi budaya: Merekam bagaimana masyarakat adat bertahan dari gempuran modernisasi melalui ritual dan tradisi lisan.
Respons Akademisi dan Pemerintah
Peluncuran ini langsung mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Seorang sejarawan dari universitas setempat menyebut karya ini sebagai “ensiklopedia hidup” yang wajib dijadikan rujukan. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Gorontalo dilaporkan tengah mengkaji rencana untuk memasukkan ringkasan buku ini ke dalam muatan lokal kurikulum sekolah, sebagai bentuk proteksi terhadap warisan intelektual daerah.
Tak hanya di tingkat lokal, permintaan digitalisasi naskah sudah mulai berdatangan dari para peneliti diaspora Gorontalo di luar negeri. Publikasi ini membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menghasilkan opus magnum yang dampaknya akan terasa lintas generasi.
Informasi Publikasi
Buku “Gorontalo: Takdir Pohala’a” tersedia dalam format cetak edisi terbatas dan kini sedang dalam proses pengajuan ISBN untuk distribusi nasional. Dengan hadirnya buku ini, Hadju memastikan bahwa ingatan kolektif tentang kejayaan masa lalu tidak akan lenyap ditelan usia. Perjalanan dua dekade riset itu kini terbayar tuntas, mewariskan peta jalan bagi siapa pun yang ingin menyelami “takdir” sejati dari tanah Gorontalo.
Baca juga:
Comments (0)