IRGC Ancam Serang Pangkalan Musuh Usai Tutup Selat Hormuz

TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengancam akan memblokade Selat Hormuz dan menghancurkan pangkalan-pangkalan militer asing di seluruh Timur Tengah, sebagai respons terh...

Jul 12, 2026 - 11:41
0 0
IRGC Ancam Serang Pangkalan Musuh Usai Tutup Selat Hormuz

TEHERAN — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengancam akan memblokade Selat Hormuz dan menghancurkan pangkalan-pangkalan militer asing di seluruh Timur Tengah, sebagai respons terhadap setiap aksi agresi. Pernyataan ini menandai puncak eskalasi ketegangan di kawasan Teluk yang sudah memanas sejak beberapa pekan terakhir.

Brigadir Jenderal Ahmad Reza Pourdastan, juru bicara IRGC, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan ribuan rudal balistik dan jelajah untuk menargetkan instalasi militer Amerika Serikat, Israel, dan sekutu regional mereka. 'Jika satu peluru ditembakkan ke tanah Iran, Selat Hormuz akan kami tutup permanen dan seluruh pangkalan musuh di Irak, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain akan kami pukul serentak,' tegasnya.

Selat Hormuz di Ujung Tanduk

Selat Hormuz merupakan jalur laut paling vital di dunia. Setiap hari, sekitar 21 juta barel minyak mentah atau setara 21 persen konsumsi global melintasi perairan sempit ini. Penutupan Selat Hormuz diprediksi akan langsung mengguncang pasar energi internasional dan memicu lonjakan harga minyak di atas 150 dolar AS per barel.

Dalam skenario terburuk, IRGC memiliki kemampuan menebar ribuan ranjau laut, mengerahkan kapal cepat bersenjata, dan meluncurkan rudal anti-kapal dari pesisir. Kapal-kapal perang Armada Kelima AS yang berpangkalan di Bahrain akan menjadi sasaran prioritas.

Daftar Pangkalan Target

Intelijen militer Iran mengindikasikan sedikitnya 12 pangkalan strategis di radar mereka. Termasuk di antaranya Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang menampung 10.000 tentara AS, Pangkalan Dhafra di Uni Emirat Arab, Pangkalan Incirlik di Turki selatan, serta kompleks militer Camp Arifjan di Kuwait dan Ain al-Asad di Irak. Semua lokasi ini berada dalam jangkauan rudal Shahab-3 dan Fateh-313 IRGC.

Pernyataan IRGC tersebut memicu respons cepat dari Washington. Menteri Pertahanan AS dalam keterangan pers menyebut ancaman itu sebagai bentuk eskalasi berbahaya dan memastikan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu melindungi aset dan sekutu di kawasan.

Harga Minyak Langsung Meroket

Beberapa menit setelah berita ini tersiar, harga minyak mentah Brent melonjak 8,7 persen ke level 125 dolar AS per barel—level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Pasar saham Teluk anjlok dan para analis memperkirakan gangguan pasokan bisa lebih parah dari krisis energi 1973 jika konflik benar-benar meletus.

Respons Kawasan dan Diplomasi Darurat

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab langsung menggelar pertemuan darurat dengan Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Mereka khawatir ancaman IRGC akan mengubah seluruh peta keamanan regional. Sementara itu, Rusia dan China meminta semua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan nuklir.

Analis pertahanan menilai, meskipun Iran kerap melontarkan ancaman serupa di masa lalu, kali ini konteksnya jauh lebih serius. Kegagalan pembicaraan nuklir dan peningkatan sanksi telah mendorong Teheran ke sudut yang sulit. 'Mereka tidak punya banyak pilihan selain menunjukkan taring,' ujar seorang pakar keamanan dari Gulf Research Center.

Hingga berita ini diturunkan, kapal-kapal perang AS dan sekutu dilaporkan meningkatkan patroli di sekitar Selat Hormuz. Situasi masih sangat dinamis dan seluruh mata kini tertuju pada langkah Iran selanjutnya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User