Sep 21, 2026
Hukum

Inggris — Dominic Raab Ajukan Reformasi UU HAM Tangkal Budaya Woke

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kehakiman Inggris, Dominic Raab, resmi mengumumkan rencana perombakan menyeluruh terhadap undang-undang hak asasi m

Inggris — Dominic Raab Ajukan Reformasi UU HAM Tangkal Budaya Woke

Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kehakiman Inggris, Dominic Raab, resmi mengumumkan rencana perombakan menyeluruh terhadap undang-undang hak asasi manusia di negaranya. Langkah reformasi legislasi ini diusung demi menekan klaim hukum yang dinilai mengada-ada serta membendung penyebaran fenomena wokery dan budaya political correctness (kebenaran politis) yang dianggap kian mengekang sistem peradilan dan kebebasan berbicara di Inggris.

Pemerintah Inggris menegaskan bahwa sistem peradilan nasional saat ini memerlukan batasan yang lebih tegas agar norma hukum tidak disalahgunakan oleh kepentingan kelompok tertentu yang merugikan publik dan kedaulatan hukum nasional.

Kronologi dan Latar Belakang Reformasi Regulasi

Pengumuman reformasi ini bertepatan dengan perilisan hasil tinjauan independen terhadap Human Rights Act 1998 yang dilakukan oleh Kementerian Kehakiman Inggris. Berdasarkan laporan internal tersebut, pemerintah memetakan sejumlah masalah mendasar terkait ketergantungan putusan hakim lokal terhadap preseden internasional.

  1. Evaluasi Menyeluruh: Kementerian Kehakiman melakukan peninjauan terhadap efektivitas dan dampak implementasi Human Rights Act 1998 selama lebih dari dua dekade.
  2. Penyusunan Draf Reformasi: Dominic Raab menyusun klausul pembaruan guna memastikan hakim domestik memiliki wewenang lebih tinggi atas hukum nasional.
  3. Rencana Pengajuan ke Parlemen: Proposal undang-undang baru diajukan secara resmi ke parlemen guna menggantikan mekanisme hukum lama yang dinilai kerap menimbulkan celah hukum.
"Tanpa adanya pembaruan mendasar pada undang-undang hak asasi manusia, kebebasan berbicara yang sah berisiko lumpuh akibat tekanan doktrin 'wokery' maupun 'political correctness' yang berlebihan," demikian pernyataan resmi dari Kementerian Kehakiman Inggris.

Perbandingan Kerangka Regulasi HAM Inggris

Melalui legislasi baru ini, pemerintah Inggris ingin mempertegas batas kewenangan peradilan lokal terhadap putusan dari Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (ECHR) yang berbasis di Strasbourg, Prancis. Berikut perbandingan substansi kebijakan lama dan rencana undang-undang baru:

Aspek Kebijakan Human Rights Act 1998 (Lama) Proposal Reformasi Baru
Yurisdiksi Pengadilan Eropa (ECHR) Hakim Inggris wajib merujuk secara ketat putusan ECHR Hakim domestik berhak menganulir tanpa harus tunduk buta
Deportasi WNA Pelaku Kejahatan Sering tertunda akibat banding berbasis hak keluarga Proses deportasi dipercepat tanpa celah banding manipulatif
Perlindungan Kebebasan Berpendapat Rentan diintervensi oleh tuntutan bernuansa norma sosial baru Diberikan jaminan hukum lebih kuat dari jeratan budaya sensor

Dampak Strategis terhadap Penegakan Hukum Domestik

Salah satu poin krusial dalam draf perombakan ini adalah percepatan proses deportasi narapidana dan pelaku kriminal berkewarganegaraan asing. Selama bertahun-tahun, otoritas imigrasi Inggris menghadapi hambatan hukum ketika berupaya mendeportasi penjahat asing karena para terpidana kerap memanfaatkan klausul Pasal 8 Konvensi Eropa tentang HAM—mengenai hak atas kehidupan pribadi dan keluarga—untuk menghindari hukuman deportasi.

Dengan adanya undang-undang baru ini, parlemen Inggris bertekad mengembalikan kedaulatan hukum nasional ke tangan hakim-hakim di dalam negeri. Langkah ini sekaligus mengirimkan sinyal politik kuat bahwa London siap mengambil jalur independen dalam mendefinisikan batas-batas hak asasi manusia pasca-Brexit, meskipun proposal ini telah memicu perdebatan sengit dari kalangan oposisi dan pegiat advokasi hukum.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User