IDF Hancurkan 3.500 Target Hizbullah di Seluruh Lebanon

Pada Sabtu (4/4/2026), militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menyerang lebih dari 3.500 target mili

Jul 13, 2026 - 08:22
0 0
IDF Hancurkan 3.500 Target Hizbullah di Seluruh Lebanon

Pada Sabtu (4/4/2026), militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengonfirmasi bahwa mereka telah menyerang lebih dari 3.500 target milik Hizbullah di seluruh Lebanon. Operasi militer besar-besaran ini menandai eskalasi signifikan dalam perang Timur Tengah yang semakin meluas, menyusul serangan Hizbullah ke Israel sebagai aksi balas dendam atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Di wilayah Maarakeh, Lebanon selatan, dekat kota pesisir Tyre, para petugas penyelamat masih terus menyisir puing-puing bangunan yang hancur akibat gempuran udara Israel. Debu dan kepulan asap masih terlihat membubung tinggi, sementara suara sirine ambulans bersahut-sahutan di antara reruntuhan. Dalam foto yang dirilis oleh kantor berita AFP, tampak tim SAR berjuang mengevakuasi warga yang terjebak di bawah beton-beton runtuh, menggambarkan betapa dahsyatnya dampak serangan terhadap permukiman sipil.

Latar Belakang Konflik: Hizbullah Balas Kematian Khamenei

Lebanon kembali terseret dalam pusaran perang kawasan setelah kelompok bersenjata Hizbullah melancarkan rentetan roket dan serangan lintas perbatasan ke wilayah Israel utara. Hizbullah menegaskan aksi tersebut merupakan pembalasan atas gugurnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang menjadi patron utama kelompok ini. Khamenei, yang menjadi simbol perlawanan terhadap Israel, wafat akibat serangan misterius yang belum terkonfirmasi secara resmi oleh pihak-pihak bertikai. Namun, kematiannya langsung memicu respons cepat dari poros perlawanan yang dipimpin Teheran.

“Kami tidak akan bisa tinggal diam. Darah pemimpin kami tidak akan sia-sia. Serangan ini hanyalah permulaan dari pembalasan yang lebih keras,” ujar seorang juru bicara Hizbullah dalam pernyataan yang disiarkan lewat televisi Al-Manar, yang berbasis di Beirut.

Israel yang sudah bersiaga penuh langsung merespons dengan Operasi militer bertajuk “Iron Shield” (Perisai Besi). Dalam kurun waktu beberapa hari, IDF mengerahkan puluhan jet tempur, drone, serta artileri untuk menghantam infrastruktur Hizbullah yang tersebar dari Beirut selatan hingga wilayah perbatasan di Nabatieh dan Tyre.

Target dan Skala: Komando, Logistik, dan Persenjataan Dihancurkan

Menurut keterangan resmi IDF, 3.500 target yang diserang mencakup:

  • Markas komando dan pusat kendali Hizbullah yang berada di bawah tanah.
  • Gudang penyimpanan rudal jarak menengah hingga jarak jauh, termasuk rudal pandu presisi buatan Iran.
  • Landasan peluncur roket yang telah mengarah ke permukiman Israel di Galilea.
  • Terowongan lintas batas yang digunakan untuk menyusupkan milisi dan persenjataan.
  • Fasilitas logistik, pusat komunikasi, dan pos-pos observasi di sepanjang garis demarkasi Blue Line.

Juru bicara IDF, Letnan Kolonel Jonathan Conricus, menyatakan bahwa operasi ini belum berakhir dan akan terus berlanjut hingga kemampuan ofensif Hizbullah lumpuh total.

“Kami telah menghancurkan sebagian besar kemampuan rudal strategis Hizbullah. Namun, ancaman masih ada. Kami tidak akan berhenti sampai keamanan warga Israel benar-benar terjamin,” tegas Conricus dalam konferensi pers virtual.

Pihak militer Israel juga mengklaim telah meminimalisir korban sipil dengan menjatuhkan pamflet peringatan dan mengirimkan pesan teks massal kepada penduduk Lebanon selatan sebelum melancarkan serangan. Namun, laporan dari lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Pusat-pusat kesehatan di Tyre dan Sidon kewalahan menampung korban luka, dan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi ke arah Beirut serta daerah pegunungan yang lebih aman.

Dampak Kemanusiaan: Puing, Duka, dan Gelombang Pengungsi

Di Maarakeh, tim penyelamat masih menggali sisa-sisa bangunan yang ambruk akibat bom seberat 2.000 pon yang dijatuhkan dari jet tempur F-35 Israel. Saksi mata menyebutkan, ledakan terdengar hingga radius puluhan kilometer, meratakan kompleks perumahan yang dihuni puluhan keluarga. “Saya melihat anak-anak berlarian sambil menangis, beberapa bahkan tanpa alas kaki. Kami tidak tahu ke mana harus pergi karena semua jalan hancur,” tutur Fatima, seorang ibu tiga anak yang kehilangan rumahnya.

Palang Merah Lebanon melaporkan, sejauh ini sedikitnya 200 warga sipil tewas dan lebih dari 1.200 lainnya luka-luka akibat gempuran selama sepekan terakhir. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah mengingat masih banyak area yang belum bisa dijangkau tim penyelamat karena masih berbahaya.

Pemerintah Lebanon yang dilanda krisis politik dan ekonomi dalam negeri tidak berdaya menghadapi agresi ini. Perdana Menteri sementara Lebanon, Najib Mikati, telah meminta bantuan darurat dari PBB dan Liga Arab, serta mendesak masyarakat internasional untuk segera mengintervensi penghentian kekerasan. Namun, di tengah dinamika geopolitik, respons yang muncul lebih banyak berupa pernyataan kecaman tanpa tindakan konkret.

Respons Global: Kecaman, Dukungan, dan Kebuntuan Diplomasi

Dewan Keamanan PBB menggelar rapat darurat pada Jumat (3/4) malam, tetapi gagal menghasilkan resolusi mengikat akibat veto dari Amerika Serikat yang menyatakan bahwa Israel berhak membela diri. Sementara itu, Iran melalui Kementerian Luar Negerinya mengecam keras tindakan Israel dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang sistematis”. Presiden Iran yang baru, yang masih dirahasiakan identitasnya, bahkan mengancam akan mengaktifkan “poros perlawanan secara penuh” jika gempuran tidak dihentikan.

Uni Eropa dan Sekretaris Jenderal PBB menyatakan keprihatinan mendalam dan menyerukan gencatan senjata segera. Namun, di lapangan, serangan justru semakin intensif. Israel tampaknya memanfaatkan momentum sebelum tekanan internasional semakin menguat, dengan tujuan menghancurkan sepenuhnya infrastruktur Hizbullah yang telah dibangun selama puluhan tahun dengan dana miliaran dolar dari Teheran.

Peta Jalan ke Depan: Tidak Ada Titik Terang

Dengan kedua pihak yang sama-sama menunjukkan tekad untuk melanjutkan perlawanan, jalan menuju gencatan senjata masih sangat gelap. Hizbullah, meskipun mengalami pukulan signifikan, masih memiliki ribuan milisi yang tersebar di perbatasan serta persenjataan yang disembunyikan di pegunungan dan terowongan bawah tanah. Sementara itu, Israel mendapat dukungan penuh dari AS dan telah menunjukkan kesiapan untuk perang jangka panjang.

Para analis Timur Tengah memperingatkan, jika konflik ini terus meluas, bukan tidak mungkin negara-negara lain di kawasan seperti Suriah dan Irak akan ikut terseret, menciptakan perang regional yang jauh lebih menghancurkan. Untuk saat ini, rakyat Lebanon dan Israel utara kembali menjadi korban dari spiral kekerasan yang tak kunjung usai.

[SOCIAL_TWEET]: IDF mengonfirmasi telah menghantam 3.500 target Hizbullah di Lebanon. Operasi \"Iron Shield\" ini jadi eskalasi terbesar sejak 2006. Ratusan warga sipil tewas, ribuan mengungsi. Dunia serukan gencatan, tapi Israel lanjutkan serangan. #Lebanon #Israel #Hizbullah #PerangTimurTengah[SOCIAL_TG]: 🔥 IDF Klaim Hancurkan 3.500 Target Hizbullah di Lebanon 💥 Balas dendam kematian Khamenei picu perang terbuka 🚨 200+ warga sipil tewas, ribuan mengungsi ☢️ Ancaman perang regional mengintai

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User