Raja Charles III Naik Takhta Gantikan Ratu Elizabeth II
London, Inggris — Dunia menyaksikan babak baru monarki Inggris yang sarat emosi dan sejarah. Raja Charles III resmi naik takhta pada 8 September 2022, hany
London, Inggris — Dunia menyaksikan babak baru monarki Inggris yang sarat emosi dan sejarah. Raja Charles III resmi naik takhta pada 8 September 2022, hanya beberapa jam setelah ibunda tercintanya, Ratu Elizabeth II, mengembuskan napas terakhir di Kastil Balmoral, Skotlandia. Momen peralihan kekuasaan itu tidak hanya menandai akhir dari era Elizabethan yang gemilang selama 70 tahun, tetapi juga mengawali era Carolean yang penuh tanda tanya di tengah modernisasi dan sorotan publik.
Proklamasi resmi dilakukan oleh Dewan Aksesi di Istana St James pada 10 September 2022, disiarkan langsung untuk pertama kalinya dalam sejarah. Charles, yang sebelumnya dikenal dengan gelar Pangeran Wales, secara otomatis menjadi raja berdasarkan aturan turun-temurun, namun upacara dewan tetap menjadi ritual konstitusional yang mengukuhkan legitimasinya. “Saya sangat menyadari warisan berat serta tugas dan tanggung jawab kedaulatan yang kini dialihkan kepada saya,” ujarnya dengan suara bergetar kala itu.
Dari Pangeran yang Ditunggu Hingga Raja Tertua dalam Sejarah Inggris
Charles III mengukir catatan sebagai raja tertua yang naik takhta dalam sejarah Britania Raya, pada usia 73 tahun. Ia melewati penantian panjang sebagai pewaris tahta terlama, yakni 70 tahun 141 hari, sejak ibunya dinobatkan pada 1952. Fakta ini kerap memunculkan julukan “the eternal heir” di kalangan media Inggris. Keterlambatan ini membawa konsekuensi ganda: kedewasaan dan pengalaman politik yang matang, namun juga tantangan relevansi bagi generasi muda yang mungkin melihatnya sebagai figur transisi.
“Ini adalah momen yang tidak hanya bersejarah, tetapi juga menyentuh hati setiap rakyat Inggris. Kami kehilangan seorang ratu dan mendapatkan seorang raja dalam satu tarikan napas,” kata Profesor Vernon Bogdanor, sejarawan konstitusi dari King’s College London.
Gaya Kepemimpinan yang Berbeda: Aktivisme dan Modernisasi
Berbeda dengan mendiang ibunya yang dikenal sebagai simbol stabilitas netral, Charles III memiliki rekam jejak sebagai aktivis lingkungan, arsitektur tradisional, dan pertanian berkelanjutan. Ia kerap menuai kontroversi karena keterlibatannya dalam isu-isu kebijakan publik, yang dianggap melanggar batas monarki konstitusional. Namun, setelah menjadi raja, ia berjanji untuk meredam pernyataan publiknya. “Masa-masa saya sebagai pangeran yang bisa terlibat dalam perdebatan sudah berakhir,” tandasnya. Namun pengamat menilai nilai-nilai ekologisnya akan tetap mempengaruhi keputusan simbolis kerajaan.
Istana Buckingham mengonfirmasi bahwa sang raja akan menerapkan efisiensi dalam rumah tangga kerajaan, mengurangi jumlah pekerja, dan memangkas biaya operasional. Langkah ini merupakan bagian dari visinya untuk monarki yang ramping (slimmed-down monarchy), fokus pada garis suksesi inti. Dengan begitu, Charles III ingin menjawab kritik publik tentang pemborosan anggaran kerajaan.
Tantangan di Dalam dan Luar Kerajaan
Naiknya Charles terjadi di tengah krisis internal keluarga kerajaan yang belum sepenuhnya mereda. Hubungan dengan putra bungsunya, Pangeran Harry, dan istrinya Meghan Markle masih tegang pasca wawancara bom dengan Oprah Winfrey dan perilisan memoar kontroversial. Di sisi lain, sejumlah negara Persemakmuran (Commonwealth) mulai mempertanyakan relevansi kerajaan Inggris sebagai kepala negara mereka. Jamaika dan Barbados bahkan sudah melangkah lebih jauh menuju republik sebelum penobatan.
Di ranah domestik, inflasi dan krisis biaya hidup memaksa rakyat membandingkan kemewahan seremoni kenegaraan dengan kondisi ekonomi sehari-hari. Survei YouGov pada awal masa pemerintahannya menunjukkan dukungan terhadap monarki sekitar 62 persen — angka yang masih mayoritas namun menurun dibanding puncak keemasan Elizabeth II. Charles III harus berjuang menjaga legitimasi institusi yang usianya lebih dari seribu tahun.
Penobatan yang Menyatukan Tradisi dan Inklusivitas
Puncak dari transisi ini adalah upacara penobatan yang digelar pada 6 Mei 2023 di Westminster Abbey. Upacara tersebut dirancang lebih pendek dan inklusif, melibatkan pemuka agama dari berbagai kepercayaan, termasuk Islam, Hindu, Yahudi, dan Sikh. Untuk pertama kalinya, raja dan ratu (Camilla) menggunakan minyak suci yang berasal dari zaitun di Bukit Zaitun, Yerusalem, bukan dari lemak hewani, sebagai bentuk sensitivitas terhadap etika hewani. Meski begitu, elemen inti abad pertengahan tetap dipertahankan.
Sebanyak 2.200 tamu undangan hadir, lebih sedikit dari 8.251 tamu yang memadati penobatan Elizabeth II pada 1953. Ini mencerminkan keinginan Charles untuk menyesuaikan skala dengan situasi zaman. “Kita semua terikat oleh semangat pelayanan yang inklusif,” demikian tema yang diusung.
Warisan Elizabeth II yang begitu panjang membuat Charles III berada di bawah bayang-bayang besar. Namun, banyak kalangan percaya bahwa pengalaman dan ketekunannya dapat membawa monarki melewati badai modernitas. Apakah era Carolean akan menjadi jembatan menuju pemerintahan yang lebih muda dan populer di bawah Pangeran William, atau justru menjadi awal pembongkaran institusi, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang pasti, rakyat Inggris dan dunia masih menunggu arah pasti dari seorang raja yang telah menanti mahkota hampir sepanjang hidupnya.
[SOCIAL_TWEET]: Raja Charles III resmi naik takhta menggantikan Ratu Elizabeth II dalam transisi penuh haru dan sejarah. Bagaimana era Carolean akan membentuk masa depan monarki Inggris? #RajaCharlesIII #MonarkiInggris #EraBersejarah[SOCIAL_TG]: 👑 Raja Charles III Naik Takhta! Setelah penantian panjang sebagai pangeran tertua, Charles kini memimpin era Carolean. Bagaimana gaya kepemimpinannya yang aktivis dan penuh tantangan? Simak selengkapnya.
Comments (0)