JAKARTA — Kesadaran geopolitik bukan lagi monopoli para diplomat dan akademisi. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily menegaskan, seluruh generasi muda Indonesia wajib memahami peta kekuatan global jika ingin berkontribusi nyata bagi ketahanan nasional.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum pembinaan kesadaran bela negara. Ia menilai pemahaman geopolitik selama ini terkunci di ruang-ruang elite. Padahal, tekanannya, ancaman terhadap kedaulatan kini menyentuh ruang digital, ekonomi, hingga budaya.
Geopolitik Bukan Ranah Elite
Ace menuturkan, banyak anak muda menganggap isu geopolitik sebagai bahasan berat yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Anggapan itu keliru. Menurutnya, setiap kebijakan global berdampak langsung pada harga pangan, lapangan kerja, dan stabilitas wilayah.
- Kesadaran geopolitik dinilai harus ditanamkan sejak dini di bangku pendidikan.
- Generasi muda disebut sebagai penjaga utama kedaulatan di era persaingan global.
- Lemhannas mendorong literasi strategis menjangkau kampus, komunitas, hingga desa.
- Ancaman kontemporer tidak lagi berbentuk militer semata, tetapi juga siber dan ekonomi.
Menurut Ace, pemahaman itu menjadi kompas bagi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh narasi asing. Ia mengingatkan, informasi palsu dan propaganda lintas negara kerap menyasar kelompok usia produktif.
Ketahanan Nasional Dimulai dari Kesadaran
Ia menjelaskan, ketahanan nasional tidak dibangun hanya lewat kekuatan alutsista. Fondasi terkuat lahir dari kesadaran kolektif warga negara. Tanpa itu, kata dia, negara rentan terhadap tekanan luar maupun perpecahan dari dalam.
Lemhannas, lanjut Ace, berkomitmen memperluas program kaderisasi kebangsaan. Program itu menyasar mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan tokoh komunitas. Tujuannya mencetak agen perubahan yang memahami kepentingan strategis bangsa.
- Pendidikan karakter dinilai sejalan dengan penguatan wawasan kebangsaan.
- Kolaborasi lintas sektor dibutuhkan agar pesan kebangsaan menjangkau semua lapisan.
- Generasi muda diharapkan mampu membaca peluang diplomasi di kancah global.
Ace menambahkan, Indonesia berada di posisi strategis persilangan kepentingan dunia. Posisi itu membawa peluang sekaligus risiko. Karena itu, katanya, pemuda harus cakap membaca arah politik internasional tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Seruan untuk Kampus dan Komunitas
Ia mengajak perguruan tinggi menjadikan isu geopolitik sebagai topik diskusi rutin. Menurutnya, ruang akademik adalah tempat paling tepat menumbuhkan cara berpikir strategis dan kritis.
"Kesadaran ini bukan beban, melainkan bekal," ujarnya menegaskan. Ia berharap semangat bela negara tumbuh bukan karena paksaan, tetapi karena kesadaran akan tanggung jawab bersama.
Pesan itu diperkuat dengan ajakan keterlibatan aktif. Generasi muda didorong tidak sekadar menjadi penonton dinamika dunia. Mereka harus hadir sebagai pelaku yang menjaga kedaulatan dan memperkuat daya saing bangsa.
Dengan begitu, kesadaran geopolitik menjadi energi kolektif. Bukan lagi milik segelintir diplomat, melainkan milik setiap warga yang peduli masa depan Indonesia.
Comments (0)