Geledah 13 Lokasi, Polisi Belum Tetapkan Tersangka Korupsi
BARU SAJA! Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers usai menggerebek 13 titik sekaligus dalam penyidikan mega skandal batu bara, ASABRI, dan Krakatau Steel. Namun, hingga konferensi bubar, tak satu ...
BARU SAJA! Polda Metro Jaya menggelar konferensi pers usai menggerebek 13 titik sekaligus dalam penyidikan mega skandal batu bara, ASABRI, dan Krakatau Steel. Namun, hingga konferensi bubar, tak satu pun tersangka diumumkan.
Sumber internal menyebut penggeledahan berlangsung sejak Rabu (4/6) hingga Jumat dini hari di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Kalimantan Timur. Tim penyidik menyita puluhan kardus dokumen keuangan, kontrak kerja sama, dan perangkat elektronik yang diduga kuat menjadi alat bukti aliran dana gelap.
Fakta Kunci
- 13 lokasi digeledah serentak: kantor swasta, rumah pribadi, dan satu gudang penyimpanan.
- Dokumen dan aset digital disita; polisi menyegel dua rekening korporasi.
- Kerugian negara ditaksir mencapai Rp 2,7 triliun dari tiga perkara yang saling terkait.
- Belum ada tersangka meski penyidikan sudah berjalan tujuh bulan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Andi Wijaya, menolak merinci hasil sitaan. “Kami masih mendalami keterkaitan antaralat bukti. Penetapan tersangka akan dilakukan setelah gelar perkara lanjutan, bukan karena tekanan publik,” ujarnya singkat.
Korupsi ini melibatkan modus investasi fiktif di PT ASABRI, penggelembungan harga proyek Krakatau Steel, dan penyimpangan dana reklamasi batu bara. Satuan Tugas Khusus menemukan aliran dana ke sejumlah perusahaan cangkang yang terhubung dengan politikus aktif.
Meski publik mendesak transparansi, polisi beralasan perlu kehati-hatian agar tidak merusak strategi penyidikan. “Kami kejar aktor intelektual, bukan hanya pelaku lapangan,” tambah Andi. Sementara itu, Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan siap melakukan supervisi jika diminta.
UPDATE: Sumber di internal penyidik mengungkapkan, dua nama kuat sudah mengantongi surat perintah dimulainya penyidikan (sprindik). Namun, polisi masih mengumpulkan dua alat bukti tambahan sebelum menaikkan status ke tersangka. Salah satu nama disebut-sebut sebagai eks direktur BUMN.
Penggeledahan yang melibatkan 200 personel ini disebut-sebut sebagai salah satu operasi penegakan hukum terbesar tahun ini. Masyarakat kini menanti, akankah kasus ini betul-betul mengungkap borok tata kelola tambang atau kembali mandek di tengah jalan.
Baca juga:
Comments (0)