Fenomena Langka: Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Kembali Terlihat
LEBAK, DETIK INI JUGA — Ratusan warga berdesakan di tepian Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, sejak pagi tadi. Mereka bukan sedang berwisata air, melainkan menyaksikan langsung pemandangan y...
LEBAK, DETIK INI JUGA — Ratusan warga berdesakan di tepian Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, sejak pagi tadi. Mereka bukan sedang berwisata air, melainkan menyaksikan langsung pemandangan yang sudah lama terkubur: sebuah kampung utuh yang kembali mencuat dari dasar waduk.
Kemarau panjang yang menggigit wilayah selatan Banten selama tiga bulan terakhir telah menurunkan permukaan air waduk hingga level terendah dalam sejarah operasionalnya. Akibatnya, fondasi rumah, jalan desa, dan puing-puing kehidupan masa lalu terbuka telanjang di atas lumpur yang mulai mengering.
Dari Atap Masjid ke Lantai Dapur
Salah satu saksi mata, Odon (45), warga Desa Karian yang direlokasi saat proyek bendungan dimulai, tak kuasa menahan haru. Ia berdiri mematung menatap sisa-sisa bangunan yang dulu menjadi tempat tinggal keluarganya. “Sebelumnya, kalau air lagi tinggi, paling cuma ujung menara masjid yang kelihatan, itu pun samar-samar. Sekarang, lantai dapur dan tiang-tiang rumah kakek saya malah bisa saya lihat lagi dengan jelas,” ujarnya dengan suara bergetar.
Odon menceritakan bahwa dirinya masih bisa mengenali bekas gang sempit yang dulu menjadi jalur anak-anak bermain petak umpet. Kini, gang itu berubah menjadi jalur tanah retak yang dijelajahi puluhan warga penasaran. Beberapa di antaranya bahkan nekat turun ke area kering untuk berfoto di depan reruntuhan sambil mengabadikan momen langka ini.
Jejak Permukiman yang Dikorbankan
Bendungan Karian diresmikan pada awal 2020-an dan menenggelamkan sedikitnya tiga dusun di wilayah tersebut. Ribuan warga dipindahkan ke permukiman baru yang disediakan pemerintah. Proyek strategis nasional ini menjadi tumpuan pasokan air baku bagi Jakarta dan Banten bagian utara, namun kenangan akan kampung halaman tetap membekas di hati para mantan penghuni.
Kini, saat air surut drastis hingga menyisakan volume sekitar 25 persen dari kapasitas tampungan normal, jejak-jejak masa lalu itu kembali hadir. Petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cidanau-Ciujung-Cidurian mengonfirmasi bahwa elevasi muka air waduk berada pada titik 84,2 meter di atas permukaan laut, terendah sejak bendungan mulai digenangi.
Dampak dan Imbauan
Meski penampakan “kampung hantu” ini menjadi tontonan gratis, pihak berwenang mengingatkan agar warga tidak mendekati fondasi bangunan yang rapuh. “Struktur yang sudah puluhan tahun terendam air sangat berbahaya jika diinjak. Kami sudah memasang garis batas aman dan mengimbau warga tetap waspada,” kata Kepala Satuan Kerja Bendungan Karian, Budi Santoso, melalui pesan singkat.
Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi alarm bagi ketersediaan air baku di hilir. Perusahaan penyedia air minum mulai menerapkan penggiliran distribusi karena debit intake berkurang signifikan. Pemerintah daerah pun mengeluarkan seruan penghematan air kepada seluruh warga.
Namun bagi Odon dan ratusan mantan penghuni lainnya, surutnya air adalah pintu nostalgia yang tak akan mereka lewatkan. “Ini seperti mimpi. Saya pikir kampung ini sudah hilang selamanya,” ucapnya sambil melangkah pergi meninggalkan tepian waduk yang mulai ramai oleh pedagang dadakan.
Comments (0)