Fadli Zon Edukasi Masyarakat Jaga Lukisan Cadas Liang Metanduno
BARU SAJA, Menteri Kebudayaan Fadli Zon turun langsung ke kawasan karst di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, untuk memberikan edukasi darurat kepada masyarakat sekitar Situs Liangkabori, Senin pagi. ...
BARU SAJA, Menteri Kebudayaan Fadli Zon turun langsung ke kawasan karst di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, untuk memberikan edukasi darurat kepada masyarakat sekitar Situs Liangkabori, Senin pagi. Misi mendesak ini menyasar perlindungan lukisan cadas tertua di dunia di Liang Metanduno.
Tanpa basa-basi, Fadli Zon mengajak puluhan warga masuk ke dalam gua. Di depan dinding batu berusia lebih dari 44.000 tahun itu, ia menjelaskan betapa rapuhnya warisan nenek moyang ini. "Satu kali sentuhan tangan mengandung minyak dan garam yang bisa merusak pigmen ribuan tahun," tegasnya.
Fakta Kunci Situs
- Usia: Minimal 44.000–45.500 tahun, dinyatakan lewat uji uranium-thorium oleh peneliti nasional dan internasional.
- Objek: Lukisan babi rusa endemik Sulawesi, cap tangan, serta adegan perburuan yang sangat detail.
- Ancaman utama: Pengelupasan eksfoliasi akibat perubahan suhu dan kelembaban, pertumbuhan mikroorganisme, serta vandalisme oknum pengunjung.
- Status konservasi: Masuk daftar sementara Warisan Dunia UNESCO, namun pengelolaan masih terbatas.
- Lokasi persis: Liang Metanduno, bagian dari klaster gua prasejarah Liangkabori.
Kronologi Kekhawatiran
Kekhawatiran ini bukan datang tiba-tiba. Setahun terakhir, tim peneliti BRIN mencatat penurunan kualitas visual lukisan. Lapisan tipis garam mulai muncul di permukaan, akibat air rembesan dari luar. Jika dibiarkan, pigmen merah oker bisa hilang dalam satu dekade.
Fadli Zon merespons dengan membentuk tim konservasi cepat. "Kita tidak punya waktu menunggu. Lukisan ini lebih tua dari Piramida Giza. Dunia menaruh mata," ujarnya.
Edukasi Warga dan Pembentukan Kader Pelestari
Dalam arahannya, Menbud menekankan pembentukan komunitas pemantau warisan dari warga lokal. Sebanyak 30 pemuda dan tokoh adat akan dilatih mendeteksi retakan, mencatat kelembaban harian, serta melapor via aplikasi khusus ke dinas terkait. Pelatihan tahap pertama dimulai pekan depan.
Warga Desa Liangkabori, seperti La Sali (52), mengaku baru menyadari pentingnya menjaga gua. "Saya kira lukisan ini kuat seperti batu biasa. Ternyata sangat sensitif," katanya. Sementara La Ode (45), generasi muda, bertekad mengajak teman-temannya berhenti memotret dengan blitz yang dapat memudarkan warna.
Respons Pemerintah Daerah dan Dana Darurat
Pemerintah Kabupaten Muna bergerak cepat. Bupati Muna menyatakan akan merevisi Perda tentang Cagar Budaya dan menyediakan dana darurat Rp2 miliar dari APBD Perubahan. Dana itu untuk pemasangan sensor kelembaban dan suhu di tujuh titik gua, serta pembangunan pagar pembatas jalur pengunjung.
Kementerian Kebudayaan juga menggandeng BRIN untuk mempercepat riset bahan konsolidasi pigmen yang ramah lingkungan. Uji coba akan menggunakan bahan berbasis air kapur nanopartikel untuk menghentikan pengelupasan.
Pengawasan 24 Jam dan Larangan Baru
Mulai hari ini, Situs Liangkabori dijaga oleh petugas keamanan setempat secara bergilir. Papan informasi berisi larangan keras menyentuh dinding, merokok, atau membawa makanan ke dalam gua dipasang di setiap mulut gua. "Setiap pengunjung wajib didampingi pemandu lokal yang sudah tersertifikasi," kata Kepala Dinas Kebudayaan Muna.
Fadli Zon mengakhiri kunjungannya dengan pesan tegas: "Jaga ini bukan cuma untuk Muna atau Indonesia. Ini milik peradaban manusia. Saya ingin anak cucu kita masih bisa menyaksikan pesan dari 45.000 tahun lalu."
UPDATE: Rencana pengajuan dana internasional ke UNESCO Emergency Fund akan dirampungkan bulan depan untuk memperkuat perlindungan situs ini dari ancaman iklim.
Comments (0)