Erlina Burhan Dukung Pelacakan 100% Kontak Erat Penderita TBC
Pemerintah mengambil langkah tegas memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC): seluruh kontak erat penderita wajib dilacak tanpa sisa. Strategi agresif ini langsung mendapat lampu hijau dari dokter s...
Pemerintah mengambil langkah tegas memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC): seluruh kontak erat penderita wajib dilacak tanpa sisa. Strategi agresif ini langsung mendapat lampu hijau dari dokter spesialis paru terkemuka, Erlina Burhan, yang menilainya sebagai intervensi paling krusial untuk menekan angka kasus yang masih tinggi di Indonesia.
Kebijakan tersebut menandai pergeseran fundamental dari praktik lama yang kerap hanya menjangkau sebagian kecil kontak. Kini, setiap individu yang tinggal serumah, bekerja satu ruangan, atau berinteraksi intens dengan pasien TBC paru positif harus diperiksa. Tujuannya jelas: menemukan kasus tersembunyi yang selama ini lolos dari radar dan terus menularkan bakteri Mycobacterium tuberculosis tanpa disadari.
Mengapa Pelacakan 100 Persen Jadi Kunci?
Erlina Burhan menekankan bahwa satu pasien TBC paru aktif berpotensi menulari 10 hingga 15 orang di sekitarnya setiap tahun. Tanpa pelacakan menyeluruh, rantai penularan tidak akan pernah terputus. “Kita tidak bisa hanya mengobati yang sakit lalu berhenti. Sumber penularan baru akan terus muncul dari kontak erat yang terinfeksi tapi belum bergejala,” ujarnya.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan beban TBC di Indonesia masih menjadi salah satu yang terberat di dunia. Diperkirakan lebih dari 900.000 kasus baru muncul setiap tahun, namun hanya sekitar 60% yang terdeteksi dan dilaporkan. Sisanya—ratusan ribu orang—berkeliaran tanpa diagnosis, menjadi mesin penularan diam-diam di komunitas. Pelacakan kontak 100 persen diharapkan mampu menambal kebocoran deteksi ini secara signifikan.
Dukungan dan Tantangan di Lapangan
Erlina Burhan, yang juga pengurus Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menyatakan dukungannya secara terbuka. Ia menyebut langkah pemerintah ini sebagai “gebrakan lama yang baru dieksekusi dengan serius.” Menurutnya, keberanian mewajibkan—bukan sekadar mengimbau—pelacakan total akan mengubah peta epidemiologi TBC nasional dalam jangka pendek.
Meski demikian, ia tidak menutup mata terhadap tantangan logistik dan sumber daya manusia. Setiap kontak erat harus menjalani pemeriksaan dahak, rontgen dada, atau tes cepat molekuler (TCM). Faskes di daerah terpencil harus diperkuat agar tidak ada kontak yang tertinggal karena akses. “Ini bukan pekerjaan ringan. Butuh koordinasi puskesmas, kader, dan bidan desa yang solid,” tambahnya.
Erlina juga menyoroti pentingnya keterbukaan pasien. Banyak penderita enggan menyebut daftar kontak erat karena stigma sosial. Tanpa partisipasi aktif pasien, pelacakan 100 persen bisa mandek di tengah jalan. Karena itu, kampanye edukasi dan pendekatan humanis harus berjalan seiring dengan penegakan aturan.
Menuju Indonesia Bebas TBC 2030
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030. Indonesia menjadi salah satu negara fokus karena menyumbang 8% kasus global. Pelacakan kontak universal diyakini sebagai jalan pintas untuk mempercepat pencapaian target tersebut. Dengan menemukan dan mengobati setiap infeksi sejak dini, risiko resistensi obat dan kematian dapat ditekan drastis.
Erlina Burhan menegaskan, “Tidak ada kata setengah-setengah dalam memerangi TBC. Jika kita serius, pelacakan kontak 100 persen harus dijalankan dengan disiplin tinggi, dari kota besar hingga pelosok desa.” Ia optimistis, jika fondasi ini kokoh, Indonesia bisa memangkas angka infeksi baru hingga separuh dalam lima tahun ke depan.
Baca juga:
Comments (0)