Erick Thohir Pimpin Final Festival Grassroots Nasional Piala Presiden 2026 di Bantul
Lapangan JEC Soccer Field, Bantul, Yogyakarta, bergemuruh oleh riuh rendah sorakan anak-anak pada Rabu (8/7/2026). Bukan sekadar final biasa, ajang ini men
Lapangan JEC Soccer Field, Bantul, Yogyakarta, bergemuruh oleh riuh rendah sorakan anak-anak pada Rabu (8/7/2026). Bukan sekadar final biasa, ajang ini menjadi panggung pembuktian bahwa sepak bola Indonesia sedang menyemai masa depan dari akar rumput yang paling subur. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, hadir langsung di tengah peserta putaran final Festival Grassroots Nasional U-10 dan U-12 Piala Presiden 2026, menyaksikan lebih dari seribu anak dari seluruh penjuru Nusantara berlaga dengan semangat yang tak terbendung.
Mata Erick berbinar-binar menyaksikan seorang bocah berusia 10 tahun dari perwakilan Papua menggiring bola melewati dua pemain lawan sebelum melepaskan tendangan keras yang menghantam mistar. Momen itu adalah potret nyata dari visi yang selama ini ia dengungkan: talenta tidak pernah mengenal asal-usul, ia hanya butuh ditemukan dan diasah.
Panggung Pembuktian Talenta Muda Nusantara
Festival yang digelar sejak babak kualifikasi di 34 provinsi ini bukanlah sekadar kompetisi. Lebih dari itu, ini adalah gerakan nasional untuk menjaring mutiara-mutiara terpendam dari pelosok desa, kota kecil, hingga daerah terluar Indonesia. Total peserta yang mengikuti seluruh rangkaian festival mencapai angka fantastis: lebih dari 15.000 anak dari sekitar 1.500 sekolah sepak bola (SSB) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Di partai final U-12, tim perwakilan Jawa Timur berhasil menumbangkan Sumatera Utara melalui drama adu penalti yang menegangkan. Skor akhir 4-3 memastikan jawaban atas pertanyaan besar: siapa yang akan menjadi penerus Asnawi Mangkualam dan Marselino Ferdinan di masa depan?
Cetak Biru Pembinaan ala Erick Thohir
Dalam sambutannya yang disampaikan tepat sebelum kick-off final, Erick Thohir melontarkan pernyataan yang langsung membakar semangat para peserta, orang tua, dan pelatih yang memadati tribun.
"Saya tidak mau sepak bola Indonesia hanya jago kandang. Pembinaan usia dini adalah harga mati. Melalui Piala Presiden ini, kami ingin memastikan bahwa anak-anak ini tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pendidikan karakter, nutrisi yang baik, dan kurikulum kepelatihan berstandar internasional."
Pernyataan itu disambut tepuk tangan meriah. Para pelatih dari berbagai daerah mengangguk-angguk. Salah satu pelatih SSB asal Nusa Tenggara Timur mengaku bahwa program ini adalah angin segar yang sudah lama dinantikan. "Selama ini kami sulit sekali mendapatkan akses turnamen berkualitas. Festival ini seperti jembatan emas bagi anak-anak kami," ujarnya.
Transformasi Grassroots yang Semakin Terukur
Di bawah komando Erick Thohir, PSSI telah melakukan revolusi pembinaan usia dini secara sistematis. Kurikulum Filanesia diperkuat, lisensi pelatih grassroots digalakkan, dan kerja sama dengan federasi-federasi sepak bola maju seperti Jepang dan Jerman semakin diintensifkan. Festival Grassroots Nasional Piala Presiden ini menjadi puncak dari seluruh ekosistem yang dibangun selama tiga tahun terakhir.
Menariknya, pada edisi 2026 ini, PSSI juga menerjunkan tim pemantau bakat (talent scouting) bersertifikasi yang bertugas merekam dan menganalisis performa setiap pemain di semua posisi. Data yang terkumpul akan menjadi basis seleksi untuk tim nasional kelompok umur U-13 yang akan diproyeksikan tampil di turnamen internasional pada 2027.
"Kami tidak lagi bicara soal mimpi. Kami bicara soal cetak biru yang terukur dan berkelanjutan. Dari sini, dari Bantul, dari anak-anak ini, sejarah baru sepak bola Indonesia dimulai," tegas Erick saat ditemui usai pertandingan.
Sementara itu, seorang ayah dari peserta asal Kalimantan Selatan tak kuasa menahan air mata ketika putranya dipanggil naik ke podium untuk menerima medali. "Saya tidak pernah membayangkan anak saya bisa bermain di panggung sebesar ini. Terima kasih PSSI, terima kasih Pak Erick," bisiknya lirih.
Matahari sore Bantul mulai condong ke barat, namun energi di JEC Soccer Field belum juga surut. Anak-anak itu masih berlari, masih tertawa, masih bermimpi. Dan Erick Thohir, di tengah kerumunan, hanya tersenyum—seolah tahu bahwa di antara mereka, ada nama-nama yang kelak akan mengharumkan Indonesia di kancah dunia.
Comments (0)