Monday, 24 August 2026 | 17:16 WIB

Dua Kubu Keraton Solo Gelar Sekaten di Lokasi Berseberangan, Pemkot Buka Suara

SOLO, DETIK INI JUGA — Sekaten tahun ini berlangsung dalam dua wajah yang bertolak belakang. Dua kubu internal Keraton Solo menggelar ritual Grebeg Mulud secara terpisah, menandai perpecahan yang ki...

Jul 28, 2026 - 10:22
0 0
Dua Kubu Keraton Solo Gelar Sekaten di Lokasi Berseberangan, Pemkot Buka Suara

SOLO, DETIK INI JUGA — Sekaten tahun ini berlangsung dalam dua wajah yang bertolak belakang. Dua kubu internal Keraton Solo menggelar ritual Grebeg Mulud secara terpisah, menandai perpecahan yang kian melebar di jantung tradisi Jawa.

Dua Pusat Perayaan

Kubu PB XIV Purbaya memusatkan kegiatan di Alun-alun Selatan. Sementara itu, kubu PB XIV Mangkubumi mengambil posisi di Alun-alun Utara. Keduanya mengklaim sebagai penerus sah tradisi keraton yang telah berusia ratusan tahun.

  • PB XIV Purbaya: Memilih Alun-alun Selatan sebagai titik utama prosesi, dekat dengan area makam leluhur.
  • PB XIV Mangkubumi: Menggelar rangkaian acara di Alun-alun Utara, lokasi yang secara historis menjadi pusat Sekaten sebelum konflik internal.
  • Waktu Pelaksanaan: Kedua kubu menghelat perayaan pada hari yang sama, memecah konsentrasi pengunjung dan abdi dalem.

Sikap Pemkot: Menjaga Ketertiban, Tidak Memihak

Pemerintah Kota Surakarta angkat bicara. Mereka menegaskan posisi netral dan fokus pada aspek keamanan serta ketertiban umum. Kepala Bagian Humas Pemkot, dalam keterangan singkatnya, menyatakan bahwa izin diberikan untuk kedua kegiatan dengan syarat protokol keamanan ketat.

“Kami tidak masuk ke ranah legitimasi internal keraton. Tugas kami memastikan kedua kegiatan berjalan aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas warga,” ujarnya, dikonfirmasi pagi tadi.

Pemkot mengerahkan personel Satpol PP dan kepolisian untuk mengamankan kedua lokasi. Pengalihan arus lalu lintas disiapkan untuk menghindari bentrokan antar pendukung dua kubu.

Kronologi Singkat Perpecahan

Perpecahan ini bukan peristiwa mendadak. Sejak wafatnya Pakubuwono XII, klaim penerus memunculkan dua faksi utama. Masing-masing menjalankan fungsi adat dan memiliki jaringan abdi dalem sendiri. Sekaten, sebagai ritual memperingati kelahiran Nabi Muhammad, menjadi panggung paling kasat mata dari dualisme yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Saksi mata di Alun-alun Selatan melaporkan suasana khidmat dengan gamelan yang ditabuh. Sementara di Alun-alun Utara, ribuan orang berkumpul dan prosesi tetap berjalan sesuai pakem. Tidak ada insiden berarti, namun ketegangan simbolik terasa kuat.

Dampak dan Harapan

Pecahnya Sekaten menjadi dua lokasi memantik kekhawatiran soal masa depan tradisi. Bagi masyarakat Solo, Sekaten bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan warisan sakral. Dualitas ini dikhawatirkan mengaburkan makna dan mengurangi daya tarik budaya di mata wisatawan.

Pemkot berharap ada dialog antara kedua kubu demi pelestarian budaya. Namun untuk saat ini, yang utama adalah memastikan keamanan. “Kami terus memantau perkembangan situasi dan siap bertindak jika terjadi eskalasi,” tegas pernyataan resmi.

Perayaan Sekaten tahun ini menjadi cermin nyata betapa dalamnya jurang perpecahan di dalam tembok keraton yang dulu disegani. Publik kini menanti langkah rekonsiliasi yang tak kunjung datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User