BREAKING — JAKARTA: Sejumlah anggota DPR mengecam keras promosi minuman keras yang dikaitkan dengan hafalan Al-Qur'an. Promo kontroversial itu beredar dalam gelaran festival musik Sounds Project. Kecaman disampaikan lintas fraksi, MENIT LALU.
Para legislator menilai promo tersebut melecehkan kitab suci. Mereka menyebutnya bentuk penistaan simbol agama demi kepentingan komersial. Nada kecaman seragam: tindakan ini tidak bisa ditoleransi.
Kecaman Lintas Fraksi
Anggota dewan dari komisi yang membidangi urusan agama angkat bicara paling awal. Mereka menyebut promo itu melukai perasaan umat Islam. Al-Qur'an, tegas mereka, bukan alat dagang.
Legislator dari komisi pendidikan dan kebudayaan juga bereaksi keras. Mereka menilai penyelenggara acara kehilangan akal sehat. Kreativitas promosi disebut sudah melampaui batas kesusilaan.
Beberapa anggota bahkan menuntut langkah hukum. Mereka meminta aparat menelusuri unsur pidana dalam promo tersebut. Pasal penodaan agama disebut relevan untuk dikaji penyidik.
Kecaman juga datang dari anggota fraksi partai berbasis massa Islam. Mereka menyebut promo ini bukan sekadar kesalahan teknis. Melainkan bentuk ketidakpekaan yang disengaja demi sensasi.
Desakan Investigasi Menyeluruh
DPR mendesak kepolisian segera turun tangan. Izin acara festival diminta ditelusuri ulang dari awal. Siapa penanggung jawab promo harus diungkap ke publik.
Pemerintah daerah setempat tak luput dari sorotan. Pengawasan acara hiburan di wilayah itu dinilai lemah. Legislator meminta evaluasi total perizinan kegiatan serupa.
KONFIRMASI dari sejumlah anggota menyebut desakan ini akan dibawa ke rapat resmi. Pemanggilan pihak terkait tengah dipertimbangkan serius. Termasuk penyelenggara festival dan para sponsor acara.
Kronologi Promo Kontroversial
Konten promosi itu dilaporkan beredar luas di media sosial. Narasi promo menjanjikan minuman keras gratis bagi peserta. Syaratnya: mampu melafalkan hafalan surah Al-Qur'an.
Unggahan itu langsung memicu kemarahan warganet. Ribuan komentar kecaman mengalir dalam hitungan jam. Topik ini sempat membanjiri linimasa berbagai platform.
Saksi mata di lokasi acara membenarkan adanya aktivitas promo tersebut. Materi promosi sempat terpampang di area festival. Sejumlah pengunjung mengaku kaget dan sangat tidak nyaman.
Sebagian peserta bahkan dilaporkan meninggalkan lokasi lebih awal. Mereka menolak terlibat dalam acara yang menyeret simbol agama. Suasana festival disebut sempat tegang.
Penyelenggara Diminta Bertanggung Jawab
DPR menuntut permintaan maaf resmi dari penyelenggara. Bukan sekadar klarifikasi singkat di media sosial. Permintaan maaf harus disampaikan terbuka kepada umat Islam.
Penyelenggara juga diminta mencabut seluruh materi promo. Jejak digital kampanye itu harus dibersihkan total. Manajemen internal diminta menindak tegas tim kreatifnya.
Belum ada penjelasan resmi yang memadai dari pihak festival. Upaya konfirmasi masih terus dikejar redaksi. Publik kini menanti sikap tegas penyelenggara.
Ancaman Sanksi dan Evaluasi Aturan
Sejumlah anggota mengingatkan konsekuensi hukum yang menanti. Penodaan agama diancam pidana penjara. Penyelenggara acara juga terancam kehilangan izin kegiatan.
Kementerian terkait didorong menyusun aturan lebih ketat. Standar promosi acara hiburan harus dibuat jelas. Simbol agama dilarang dieksploitasi untuk kepentingan bisnis apa pun.
Ormas keagamaan dilaporkan ikut bersuara mengecam. Mereka mendukung penuh langkah DPR. Tekanan publik terhadap festival terus membesar dari berbagai arah.
Sejumlah tokoh agama juga meminta umat tetap tenang. Penyelesaian diserahkan ke jalur hukum yang berlaku. Provokasi di media sosial diminta dihentikan.
Perkembangan Terkini
UPDATE: Kecaman masih berdatangan dari anggota dewan lain. Sejumlah fraksi menyiapkan pernyataan resmi tertulis. Isu ini diprediksi bergulir hingga rapat komisi.
Redaksi terus memantau perkembangan kasus ini dari berbagai sisi. Termasuk respons kepolisian dan pemerintah daerah setempat. Ikuti berita terbaru hanya di sini.
Comments (0)