Desa Toyomarto Dorong Kemandirian Ekonomi Lewat Teh Daun Kopi "Sedesa"
Toyomarto, 3 Juli 2026 – Himpunan Mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (Himalogista) Universitas Brawijaya resmi meluncurkan program Gema Desa (Gerakan Ekon
Latar Belakang: Melihat Potensi di Balik Limbah
Desa Toyomarto dikenal sebagai salah satu sentra kopi di lereng Gunung Kawi. Selama bertahun-tahun, petani hanya memanfaatkan biji kopi, sementara daun kopi yang melimpah dibiarkan begitu saja. Berangkat dari kondisi itu, tim Himalogista UB melakukan riset kecil pada awal tahun 2026 dan menemukan bahwa daun kopi tua mengandung senyawa antioksidan tinggi serta memiliki profil rasa yang khas jika diolah dengan teknik fermentasi ringan. Inisiatif ini kemudian dituangkan dalam proposal program Gema Desa yang mendapat dukungan pendanaan dari kampus dan mitra swasta.
Tahapan Pelaksanaan: Dari Pelatihan Hingga Produk Jadi
Berikut adalah kronologi pengembangan teh daun kopi “Sedesa” di Desa Toyomarto:
- Februari 2026: Survei awal dan diskusi dengan kelompok tani setempat. Sebanyak 25 petani kopi menyatakan minat bergabung.
- Maret 2026: Pemberian alat produksi sederhana, termasuk mesin pengering dan chopper daun, hasil kolaborasi dengan Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Malang.
- April – Mei 2026: Pelatihan intensif selama delapan minggu yang mencakup teknik pemetikan daun, fermentasi, pengeringan, pengemasan, dan pemasaran digital. Pelatihan diikuti 40 warga, mayoritas ibu rumah tangga.
- Juni 2026: Uji coba produksi perdana menghasilkan 200 kemasan teh daun kopi “Sedesa” dalam varian original dan melati. Produk lulus uji mutu di laboratorium pangan UB.
- 3 Juli 2026: Peluncuran resmi di Balai Desa Toyomarto, disertai bazar dan live cooking minuman teh daun kopi.
Respons Warga dan Proyeksi Ekonomi
Salah satu peserta pelatihan, Sumirah (45), mengaku antusias. “Sebelumnya saya hanya menunggu musim panen kopi setahun sekali. Sekarang, setiap bulan bisa memetik daun dan langsung mendapat pendapatan tambahan,” ujarnya saat ditemui di sela acara. Dalam skema yang dikembangkan, satu kilogram daun kopi kering dihargai Rp35.000 oleh koperasi desa yang bertindak sebagai pengepul. Satu orang mampu mengumpulkan rata-rata 15–20 kg daun kering per bulan, sehingga potensi pendapatan tambahan mencapai Rp525.000 – Rp700.000 per bulan.
Produk “Sedesa” dipasarkan melalui marketplace lokal, jaringan kafe di Malang Raya, serta dibawa dalam pameran produk unggulan Jawa Timur. Ketua pelaksana program, Aulia Rachman, menyebut target penjualan awal sebanyak 1.000 kemasan per bulan dengan omzet Rp25 juta. “Kami optimistis karena antusiasme konsumen terhadap minuman herbal terus meningkat. Apalagi ini produk zero waste yang mendukung pertanian berkelanjutan,” katanya.
Pandangan Pemerintah Desa dan Keberlanjutan
Kepala Desa Toyomarto, Suyanto, menyambut baik program ini. Menurutnya, Gema Desa menjadi contoh nyata bagaimana mahasiswa dapat memecahkan masalah lokal berbasis riset. “Kami akan menganggarkan dana desa tahun depan untuk memperluas rumah produksi dan membeli mesin pengemas otomatis,” jelasnya. Tidak hanya aspek ekonomi, produksi teh daun kopi juga mengurangi volume limbah pertanian yang selama ini dibakar dan menimbulkan polusi.
Program akan berjalan hingga Desember 2026 dengan pendampingan dari Himalogista UB. Tahap selanjutnya meliputi sertifikasi halal, pendaftaran merek, dan ekspansi ke pasar Jabodetabek. Data awal menunjukkan, jika berjalan sesuai rencana, pendapatan asli desa dari sektor ini bisa menyumbang 15% dari total PADes pada tahun anggaran berikutnya.
Makna “Sedesa” dan Inklusivitas Usaha
Merek “Sedesa” dipilih untuk menunjukkan bahwa produk ini lahir dari, oleh, dan untuk masyarakat desa. Filosofinya, setiap tegukan teh daun kopi adalah bentuk dukungan terhadap ekonomi pedesaan. Keterlibatan perempuan dalam proses produksi menjadi aspek penting yang diangkat oleh tim. “Ini bukan sekadar bisnis, tapi gerakan pemberdayaan yang menyasar mereka yang paling terdampak kemiskinan struktural di desa,” tegas Aulia.
Ke depan, model Gema Desa di Toyomarto akan direplikasi di desa-desa sekitar yang memiliki komoditas serupa. Himalogista UB telah menyusun modul pelatihan yang nantinya dapat diadopsi oleh siapapun secara gratis. Kemandirian ekonomi desa, seperti yang ditunjukkan Toyomarto, membuktikan bahwa inovasi sederhana berbasis sumber daya lokal mampu menjawab tantangan kesejahteraan masyarakat di pelosok.
FAQ Seputar Teh Daun Kopi “Sedesa”
Berikut tiga pertanyaan paling sering diajukan mengenai produk ini:
Tag: Himalogista UB, Gema Desa, Desa Toyomarto, Teh Daun Kopi Sedesa, Kemandirian Ekonomi Desa Sosial Media: - [SOCIAL_TWEET]: Limbah daun kopi disulap jadi cuan! Program Gema Desa Himalogista UB luncurkan teh "Sedesa" di Toyomarto. Ibu-ibu kini raup Rp500 ribuan/bulan dari daun yang dulu dibuang 🌿☕ #EkonomiDesa #InovasiPertanian #TehDaunKopi - [SOCIAL_FB]: Kemandirian ekonomi tak selalu butuh investasi besar. Di Desa Toyomarto, mahasiswa Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa inovasi berbasis potensi lokal—teh daun kopi—mampu menggerakkan roda ekonomi warga. Produk "Sedesa" bukan sekadar minuman, tapi simbol gerakan desa yang berdaya dan berkelanjutan. Mari dukung dengan mencicipinya! #GemaDesa #ProdukLokal #KemandirianDesa - [SOCIAL_TG]: 🍃 Teh Daun Kopi "Sedesa" resmi diluncurkan di Toyomarto. Inisiatif mahasiswa UB ini ubah limbah pertanian jadi produk bernilai ekonomi. 40 warga dilatih, 200 kemasan perdana terjual, potensi omzet capai Rp25 juta/bulan. Info pemesanan: koperasi desa atau marketplace favoritmu. - [SOCIAL_THREADS]: 🧵 Inovasi di Toyomarto: Daun kopi yang dulu dibuang, kini jadi teh premium "Sedesa". Mahasiswa UB dampingi petani olah limbah jadi berkah. 40 warga, mayoritas perempuan, kini berpenghasilan tambahan. Produk sudah di marketplace. Dukung #Sedesa, dukung ekonomi desa! ☕💚
Comments (0)