Cinta Segitiga dan Miras Picu Pengeroyokan, Pakar Ungkap Racun Pertemanan

BARU SAJA – Sebuah pertikaian berdarah di kawasan Jakarta Timur kembali menunjukkan betapa racun dalam hubungan pertemanan mampu meledak kapan saja. Kali ini, seorang pemuda berinisial RA (21) harus...

Jul 28, 2026 - 04:19
0 0
Cinta Segitiga dan Miras Picu Pengeroyokan, Pakar Ungkap Racun Pertemanan

BARU SAJA – Sebuah pertikaian berdarah di kawasan Jakarta Timur kembali menunjukkan betapa racun dalam hubungan pertemanan mampu meledak kapan saja. Kali ini, seorang pemuda berinisial RA (21) harus dilarikan ke rumah sakit setelah menjadi korban pengeroyokan oleh tiga rekannya sendiri. Polisi menduga, cemburu buta dan pengaruh minuman keras menjadi pemicu utama.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu dini hari. Saksi mata menyebut, korban dan para pelaku sebelumnya terlibat cekcok mulut di sebuah warung remang-remang. “Awalnya cuma saling sindir soal seorang perempuan. Tapi setelah mereka minum, suasana langsung panas,” ungkap seorang warga yang enggan disebut namanya. Dalam hitungan menit, adu mulut berubah menjadi aksi kekerasan fisik yang brutal.

Ledakan Emosi di Balik Botol

Ahli psikologi forensik, Dr. Andini Putri, menjelaskan bahwa keterlibatan alkohol kerap menjadi faktor penentu dalam kasus serupa. Fakta medis menunjukkan, zat dalam minuman keras dapat merusak fungsi lobus frontal otak yang bertugas mengatur kontrol diri. “Orang yang mabuk kehilangan rem alami mereka. Rasa kesal yang tadinya bisa ditahan, tiba-tiba berubah menjadi amukan fisik tanpa perhitungan,” ujarnya. Situasi ini diperparah jika ada riwayat hubungan yang tidak sehat, di mana konflik kecil dibiarkan menumpuk seperti api dalam sekam.

Lebih lanjut, data dari Pusat Penelitian Kekerasan Remaja (2025) mengungkapkan, 64 persen kasus pengeroyokan di lingkungan pertemanan melibatkan konsumsi alkohol sebelum aksi terjadi. Angka itu menjadi alarm bahaya bahwa kebiasaan nongkrong dengan miras bukan sekadar gaya hidup, melainkan bom waktu yang siap meledak.

Cemburu dan Ambisi Menguasai

Selain pengaruh zat, dinamika cinta segitiga menjadi akar yang paling sering memicu retaknya solidaritas. Rasa memiliki yang berlebihan terhadap seseorang—entah itu pacar atau gebetan—mampu membakar logika. “Cemburu yang tidak dikelola dengan sehat akan berubah menjadi obsesi. Ketika ditambah dengan tekanan kelompok, orang bisa nekat melakukan hal di luar batas kemanusiaannya,” tambah Dr. Andini.

Tim penyidik menemukan, para pelaku dan korban tergabung dalam satu geng yang kerap mengagungkan ‘solidaritas buta’. Mereka kompak dalam euforia, namun rapuh saat ego pribadi tersentuh. Pola ini, menurut para pakar, mirip dengan fenomena mob mentality—di mana individu kehilangan kesadarannya sendiri dan bertindak atas nama naluri kelompok.

Konformitas Kelompok: Saat Nurani Mati

Di sinilah letak bahaya terbesar dari pertemanan beracun. Seseorang yang sebenarnya tidak berniat melukai, bisa terpaksa ikut-ikutan karena takut dianggap lemah atau tidak setia kawan. Tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok begitu kuat hingga melumpuhkan hati nurani. “Dalam situasi pengeroyokan, jarang sekali ada satu otak tunggal. Biasanya ada provokator, lalu yang lain mengikuti demi menjaga harga diri di depan gengnya,” kata seorang kriminolog yang enggan dikutip.

Polsek setempat mengonfirmasi telah mengamankan tiga tersangka. Barang bukti berupa pecahan botol dan balok kayu diamankan dari lokasi. Korban RA kini masih menjalani perawatan intensif dengan luka serius di bagian kepala. Keluarga korban syok berat karena sang anak dikenal sebagai pribadi yang kalem.

Kasus ini menjadi pengingat keras: lingkaran pertemanan yang tidak sehat mampu mencetak monster. Tanda-tanda seperti kebiasaan merendahkan, cemburu berlebihan, dan ketergantungan pada alkohol harus segera dihentikan sebelum berakhir dengan nyawa melayang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User