Cilegon — Sultan Ageng Tirtayasa ke-9 Dukung Ki Wasyid Jadi Pahlawan Nasional

Di pelataran Masjid Agung Cilegon yang disinari lampu temaram, Jumat malam 10 Juli 2026, lantunan tahlil dan doa syuhada membelah hening. Ratusan warga, mu

Jul 13, 2026 - 06:40
0 0

Di pelataran Masjid Agung Cilegon yang disinari lampu temaram, Jumat malam 10 Juli 2026, lantunan tahlil dan doa syuhada membelah hening. Ratusan warga, mulai dari pejabat daerah hingga masyarakat biasa, duduk bersila dalam balutan pakaian putih. Mereka berkumpul bukan sekadar memperingati haul, tetapi juga menyalakan kembali percik ingatan tentang perlawanan heroik Geger Cilegon 1888—serta peran Ki Wasyid di dalamnya.

Di tengah khidmatnya suasana, seorang pria paruh baya naik ke mimbar. Sorot matanya teduh namun penuh keyakinan. Dialah Asep Sofwatullah, keturunan keempat Ki Wasyid sekaligus Ketua Haul Syuhada Geger Cilegon. Suaranya bergetar saat mengajak hadirin merenungi kembali nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

“Orang-orang yang hadir malam ini adalah mereka yang memahami pentingnya sejarah. Sejarah akan terus berulang apabila kita tidak mau mempelajarinya,”

Kalimat itu membuka malam yang sarat emosi. Asep kemudian melantunkan doa—bukan hanya untuk leluhurnya semata, melainkan bagi seluruh syuhada Geger Cilegon yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi membela tanah air dari cengkeraman kolonial.

Menghidupkan Kembali Ingatan Kolektif

Geger Cilegon 1888 bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah nasional. Peristiwa perlawanan rakyat yang dipimpin para ulama dan jawara ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan sistem tanam paksa dan penindasan kolonial Belanda di Banten. Ki Wasyid adalah salah satu tokoh sentral yang turut mengobarkan semangat jihad dan perlawanan itu. Namun, namanya masih belum mendapat tempat sejajar di altar pahlawan nasional.

Asep Sofwatullah menegaskan, haul bukan sekadar tradisi tahunan. Baginya, ini adalah alat untuk merawat ingatan kolektif sekaligus menyalakan kembali kesadaran sejarah yang mulai redup di tengah arus modernitas.

“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang belajar dari sejarah, memahami kekurangan masa lalu, lalu memperbaikinya untuk generasi berikutnya,”

Pesan itu mengena di hati para hadirin. Di tengah gemuruh dan riuh pembangunan fisik Kota Cilegon yang kini menjelma sebagai kawasan industri baja, nyanyian tentang masa lalu seakan menemukan panggungnya kembali. Asep percaya, hanya dengan mengenali akar, sebuah kota bisa tumbuh kokoh tanpa kehilangan jati diri.

Dukungan dari Kesultanan Banten

Malam itu tidak hanya dihadiri pejabat Pemkot Cilegon dan para alim ulama. Sultan Ageng Tirtayasa ke-9, pemangku adat Kesultanan Banten saat ini, turut memberikan dukungan moral dan kultural yang sangat berarti. Kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa perjuangan Ki Wasyid tidak hanya diakui sebagai warisan keluarga, melainkan juga sebagai bagian dari perjuangan kolektif masyarakat Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa ke-9 menegaskan, nilai-nilai yang diwariskan Ki Wasyid dan para syuhada Geger Cilegon sejalan dengan semangat Kesultanan Banten dalam mempertahankan kedaulatan dan martabat bangsa. Secara simbolik, dukungan ini memperkuat legitimasi kultural dan historis pengusulan gelar pahlawan nasional yang tengah diperjuangkan oleh Pemerintah Kota Cilegon bersama para ahli waris.

Proses Pengajuan Pahlawan Nasional

Pemerintah Kota Cilegon, melalui dinas terkait, disebut terus mengawal dokumen pengusulan Ki Wasyid sebagai pahlawan nasional. Berdasarkan aturan Kementerian Sosial, pengusulan harus didukung data historis yang otentik, rekomendasi pemerintah daerah, serta dukungan masyarakat, tokoh adat, dan akademisi. Dukungan Sultan Ageng Tirtayasa ke-9 menjadi salah satu elemen penting—sebagai representasi pengakuan dari pemimpin tradisional yang memiliki akar sejarah mendalam.

Asep Sofwatullah, mewakili keluarga besar keturunan Ki Wasyid, menyampaikan harapannya dengan penuh keteguhan:

“Kami berharap Ki Wasyid dapat ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan beliau bersama para ulama dan masyarakat Cilegon telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan patut mendapatkan penghormatan yang setinggi-tingginya,”

Baginya, ini bukan soal gelar. Lebih dari itu, pengakuan negara adalah bentuk bakti anak kepada leluhur, sekaligus penyematan resmi atas pengorbanan yang selama ini hanya hidup dalam cerita lisan dan manuskrip lapuk di rumah-rumah keturunan pejuang.

Nilai Perjuangan untuk Generasi Masa Depan

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, Asep melihat ancaman serius: lunturnya memori kolektif masyarakat terhadap sejarah lokal. Maka, mengusung Ki Wasyid menjadi pahlawan nasional bukan hanya proyek nostalgia. Ini adalah upaya menyediakan cermin bagi generasi muda agar mampu bercermin pada keteladanan para leluhur.

“Nilai perjuangan dan keteladanan para syuhada harus terus kita tanamkan kepada anak cucu agar mereka mencintai sejarah dan meneruskan nilai-nilai pengorbanan serta keikhlasan para pendahulu,”

Dengan pengakuan negara, kisah Ki Wasyid akan masuk ke dalam kurikulum, diperbincangkan di seminar-seminar nasional, dan dipajang di museum-museum perjuangan. Di situlah letak strategis dari gelar pahlawan nasional: ia menjaga agar api perjuangan tetap menyala, bukan sekadar menjadi bara yang lama-kelamaan padam.

Malam itu, di Masjid Agung Cilegon, doa-doa melangit. Di antaranya, ada harapan yang terus mengalir: agar pejuang dari tanah Cilegon itu kelak berdiri sejajar dengan para pahlawan nasional lainnya. Bukan karena nostalgia semata, melainkan karena perjuangannya memang merajut benang-benang kemerdekaan yang kini dinikmati seluruh bangsa.

[SOCIAL_FB]: Di tengah gemerlap Kota Cilegon, ingatan tentang Geger Cilegon 1888 kembali disulut. Ahli waris Ki Wasyid, didukung Sultan Ageng Tirtayasa ke-9, berharap sang pejuang diakui sebagai Pahlawan Nasional. Haul Syuhada Geger Cilegon bukan sekadar doa—ia adalah upaya merawat ingatan kolektif agar generasi mendatang tak putus dari akar sejarahnya. “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang belajar dari sejarah,” kata Asep Sofwatullah. Simak selengkapnya. [SOCIAL_THREADS]: Malam haul di Cilegon terasa berbeda tahun ini. Asep Sofwatullah, keturunan ke-4 Ki Wasyid, menyuarakan harapan yang sudah lama tertanam: menjadikan Ki Wasyid Pahlawan Nasional. Sultan Ageng Tirtayasa ke-9 pun hadir memberi dukungan penuh. 🕌 Ini bukan cuma soal gelar. Ini tentang mengembalikan kepingan sejarah Geger Cilegon 1888 ke dalam memori bangsa. Tentang menghormati leluhur yang mengorbankan segalanya demi kemerdekaan. ✨ “Kita hadir untuk mendoakan seluruh syuhada. Ini bentuk bakti anak kepada leluhurnya,” ujar Asep. Generasi muda perlu tahu: Cilegon bukan hanya kota baja. Ia adalah tanah para pejuang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User