Idul Adha 1447 H di Gaza Diwarnai Duka dan Harapan di Tengah Puing
GAZA, Beritatercepat.com – Matahari pagi baru saja menyentuh tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, saat sekelompok anak-anak tampak asy
GAZA, Beritatercepat.com – Matahari pagi baru saja menyentuh tenda-tenda pengungsi di Khan Younis, Jalur Gaza Selatan, saat sekelompok anak-anak tampak asyik bermain ayunan pada Rabu (27/5/2026). Tawa dan jerit kecil mereka adalah satu dari sedikit warna di tengah abu-abu keprihatinan yang menyelimuti perayaan Idul Adha 1447 H, tahun ketiga berturut-turut dirayakan warga Gaza dalam keterbatasan dan luka mendalam akibat perang yang tak kunjung usai.
Bagi lebih dari 2,3 juta penduduk Gaza, Hari Raya Kurban kali ini kembali dijalani tanpa kemeriahan, tanpa hewan kurban yang melimpah, dan tanpa sanak saudara yang sempurna. Sebaliknya, yang tersaji adalah hamparan puing, blokade yang memutus pasokan, dan trauma yang terus membekas sejak eskalasi militer terbaru pada Oktober 2023.
Kronologi Krisis Gaza: Tiga Tahun Tanpa Jeda
- Oktober 2023: Operasi militer besar-besaran dimulai setelah serangan lintas perbatasan. Pemboman intens menghancurkan infrastruktur dan memaksa 1,4 juta orang mengungsi hanya dalam tiga minggu pertama.
- 2024: Situasi kemanusiaan memburuk dengan deklarasi rawan pangan tingkat bencana oleh PBB. Ribuan anak meninggal akibat malnutrisi dan serangan langsung. Gencatan senjata singkat beberapa kali dilanggar.
- 2025: Upaya rekonstruksi minim akibat blokade ketat. Hanya 20% material bangunan diizinkan masuk. Sementara itu, kekerasan kembali pecah di perbatasan, memperparah krisis pengungsian.
- Mei 2026: Menjelang Idul Adha, 70% sekolah dan rumah sakit masih rusak atau hancur. Lebih dari 50.000 warga terluka dan belum memperoleh perawatan memadai. Menurut UNRWA, 1,9 juta orang masih tinggal di tenda darurat atau bangunan yang rusak parah.
Salah satu momen yang terekam kamera fotografer Associated Press, Abdel Kareem Hana, adalah potret anak-anak yang bermain ayunan di sebuah kamp pengungsian di Khan Younis. Ayunan tersebut dibuat dari kayu sisa reruntuhan dan tali seadanya. “Mereka tidak punya banyak mainan. Ayunan ini adalah kebahagiaan kecil bagi mereka,” ujar seorang relawan lokal, Mahmoud Al-Bardaweel, 48, yang membantu anak-anak mengisi hari raya.
Idul Adha Tanpa Hewan Kurban
Hari Raya Kurban identik dengan penyembelihan hewan ternak dan pembagian daging kepada yang membutuhkan. Namun tahun ini, hanya 450 ekor hewan yang berhasil didatangkan ke Gaza melalui pintu perbatasan Rafah yang dibuka secara terbatas, dibandingkan dengan lebih dari 15.000 ekor pada tahun sebelum perang. Harga seekor kambing melonjak hingga setara 4.000 dolar AS, sebuah angka yang mustahil dijangkau keluarga yang kehilangan mata pencaharian.
“Saya tidak mampu membeli daging untuk anak-anak saya. Kami hanya bisa menangis saat mendengar takbir, karena hati kami hancur,” ungkap Um Ahmed, 34, ibu dua anak dari Jabalia yang kini menetap di kamp Al-Mawasi.
Pasar-pasar yang biasanya ramai menjual pakaian baru atau kue lebaran kini hanya diisi pedagang dengan stok terbatas. Sebagian besar kebutuhan pokok, termasuk tepung dan minyak goreng, masih bergantung pada bantuan internasional yang distribusinya terhambat oleh birokrasi dan keamanan.
Suara dari Tengah Puing
Shalat Idul Adha diadakan di lapangan terbuka di antara reruntuhan. Ribuan warga, berpakaian seadanya, bersimpuh di atas karpet tua dan tikar plastik. Khotib setempat, Syekh Yasser Abu Mustafa, dalam khutbahnya menekankan makna pengorbanan. “Kita adalah orang-orang yang paling memahami arti pengorbanan. Hari ini, kita belajar dari Nabi Ibrahim untuk menyerahkan segalanya, termasuk duka kita, kepada Allah,” katanya di depan jamaah.
Meski demikian, semangat bertahan tetap menyala. Di beberapa kamp, warga secara swadaya mendirikan tenda untuk berbagi makanan sederhana, seperti nasi dengan lentil atau roti kering yang dibagi rata untuk anak-anak. Seorang aktivis pemuda, Fatima Al-Helou, 22, mengorganisir permainan tradisional untuk membangkitkan senyum anak-anak. “Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan masih ada, bahkan di bawah bayang-bayang kematian,” katanya.
Seruan Kemanusiaan yang Mendesak
Organisasi kemanusiaan, termasuk Bulan Sabit Merah Palestina dan UNRWA, menyerukan perluasan akses bantuan. Menurut laporan terkini OCHA, hanya 35% dari kebutuhan pangan darurat yang terpenuhi pada kuartal pertama tahun ini. Diperkirakan lebih dari 600.000 anak di Gaza memerlukan layanan psikososial segera. Sementara itu, WHO memperingatkan risiko wabah kolera akibat rusaknya sistem sanitasi.
Komisioner UNRWA, dalam kunjungan singkat ke Gaza pekan ini, menegaskan, “Kita menyaksikan salah satu bencana kemanusiaan terburuk abad ini. Dunia tidak boleh membiarkan warga Gaza merayakan Idul Adha berikutnya dalam kondisi yang sama.”
Idul Adha 1447 H di Gaza bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cermin dari ketangguhan manusia yang terus diuji. Di antara puing-puing, suara takbir tetap bergema, meski terasa getir. Warga Gaza masih berharap, kelak Idul Adha kembali membawa berkah, bukan sekadar duka.
[SOCIAL_TWEET]: Warga Gaza rayakan Idul Adha 1447 H di tengah puing dan krisis pangan. Harga seekor kambing tembus 4.000 dolar, anak-anak bermain ayunan dari reruntuhan. #Gaza #IdulAdha #KrisisKemanusiaan[SOCIAL_TG]: 🕌 Idul Adha 1447 H di Gaza: antara takbir dan air mata. Warga berjuang di tengah krisis terparah dalam tiga tahun terakhir. Daging kurban langka, anak-anak hanya punya ayunan kayu.
Comments (0)