Cak Imin: Relawan Harus Tiru Strategi Jepang Tangani Bencana

BOGOR – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menantang seluruh relawan bencana di Tanah Air untuk mengambil pelajaran langsung dari Jepang. Dalam sebuah pelatihan...

Jul 19, 2026 - 13:32
0 0
Cak Imin: Relawan Harus Tiru Strategi Jepang Tangani Bencana

BOGOR – Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar menantang seluruh relawan bencana di Tanah Air untuk mengambil pelajaran langsung dari Jepang. Dalam sebuah pelatihan bertajuk “Relawan Tanggap Bencana Sigap Bangsa” di Bogor, Sabtu (18/7/2026), ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya bereaksi saat bencana datang.

Cak Imin, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa Jepang telah membuktikan diri sebagai salah satu negara paling siap di dunia dalam menghadapi gempa, tsunami, dan berbagai bencana alam. “Mereka bukan hanya cepat bertindak, tetapi juga sangat disiplin dalam mitigasi dan edukasi publik,” tegasnya. Mentalitas siaga yang tertanam di setiap individu dinilai menjadi kunci utama keberhasilan Jepang menekan jumlah korban jiwa.

Fokus pada Kesiapsiagaan

Acara pelatihan ini dihadiri ratusan relawan dari berbagai daerah. Muhaimin secara khusus menyoroti pentingnya membangun budaya siaga bencana sejak dini. Menurutnya, pelajaran dari Jepang bukan hanya soal teknologi, melainkan tentang mentalitas seluruh penduduk. Negara Sakura itu telah mengintegrasikan pendidikan mitigasi ke dalam kurikulum sekolah dasar, sehingga anak-anak paham cara bertindak cepat saat bencana melanda. Hal inilah yang masih sangat kurang di Indonesia, tambahnya.

  • Mitigasi struktural: Jepang rutin memperkuat bangunan dan infrastruktur vital.
  • Latihan rutin: Seluruh lapisan masyarakat wajib ikut simulasi bencana berkala.
  • Sistem peringatan dini: Teknologi Jepang mampu memberikan notifikasi beberapa detik sebelum gempa mengguncang.

“Relawan Indonesia harus melihat langsung dan belajar dari sana. Kita tidak perlu malu mengakui bahwa Jepang lebih maju dalam hal ini,” ucap Cak Imin. Ia menegaskan bahwa rendah diri tidak akan menyelamatkan nyawa, justru semangat belajar dari yang terbaik harus menjadi kebanggaan.

Ia juga mendorong agar para relawan tidak hanya terpaku pada penanganan pasca-bencana, tetapi ikut aktif dalam program pencegahan. Kesiapan logistik, jalur evakuasi yang jelas, serta koordinasi antardaerah menjadi kunci yang harus diperkuat. Relawan diharapkan mampu mengisi kekosongan respons sebelum bantuan resmi dari pemerintah sampai ke titik bencana.

Bukan Sekadar Pelatihan

Dalam keterangan terpisah, Muhaimin menyoroti fakta bahwa Indonesia berada di Cincin Api Pasifik yang membuatnya sangat rentan terhadap aktivitas seismik. Setiap tahun, puluhan gempa signifikan terjadi dan berpotensi memicu tsunami. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas relawan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Para peserta diingatkan tentang bencana besar yang pernah mengguncang Aceh, Lombok, dan Palu sebagai pengingat betapa mahalnya harga yang harus dibayar jika kesiapsiagaan diabaikan.

“Kita harus menjadi bangsa yang tangguh. Relawan adalah garda terdepan yang menyelamatkan nyawa sebelum bantuan besar tiba,” lanjutnya. Ia mencontohkan Jepang yang berhasil membatasi korban jiwa pada gempa besar 2011 justru karena persiapan matang dan disiplin warganya saat evakuasi.

Melalui program “Sigap Bangsa”, pemerintah menargetkan pelatihan sepuluh ribu relawan hingga akhir 2026. Para peserta tidak hanya diajari teknik evakuasi, tetapi juga keterampilan penyelamatan korban, pemetaan risiko, dan koordinasi dengan lembaga resmi seperti BPBD dan Basarnas. Pengalaman Jepang menjadi modul pembelajaran utama. Negara itu dianggap sukses menekan dampak bencana meskipun secara geografis menghadapi risiko yang serupa dengan Indonesia.

Dengan mengusung semangat belajar dari yang terbaik, Cak Imin berharap relawan Indonesia dapat membentuk jaringan siaga yang responsif di seluruh pelosok negeri. “Ketika bencana datang, tidak ada waktu untuk berpikir lama. Semua harus sudah otomatis bergerak,” tutupnya. Para relawan yang hadir pun langsung melakukan simulasi tanggap darurat, meniru pola komando terpadu ala Jepang yang dinilai jauh lebih efektif di lapangan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User