[BROMO] — Ratusan Personel Berpacu dengan Waktu Padamkan Karhutla
Lereng Gunung Bromo yang seharusnya menyajikan hamparan pasir vulkanik dan savana yang tenang kini diselimuti oleh asap tebal berwarna kelabu. Di ketinggia
Lereng Gunung Bromo yang seharusnya menyajikan hamparan pasir vulkanik dan savana yang tenang kini diselimuti oleh asap tebal berwarna kelabu. Di ketinggian lebih dari 2.300 meter di atas permukaan laut, ratusan personel gabungan tengah berjibaku memadamkan api yang masih menyala di dua titik terakhir kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Medan yang berbatu, curam, dan sulit dijangkau membuat setiap langkah para petugas terasa seperti berpacu dengan waktu yang terus berdetak semakin cepat, di mana setiap menit yang terbuang bisa berarti hektaran lahan baru yang dilalap si jago merah.
Dua titik api yang masih aktif berada di wilayah yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Lokasi tersebut tidak bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat, memaksa petugas untuk berjalan kaki membawa peralatan pemadaman selama berjam-jam. Bebatuan vulkanik yang tajam dan pasir yang labil di bawah kaki menjadi ujian tersendiri, apalagi suhu siang hari di kaldera yang bisa mencapai ekstrem. Namun, barisan prajurit darat ini terus menyusuri jalur yang berbahaya demi satu misi: memutus mata rantai kebakaran sebelum meluas ke vegetasi yang lebih lebat.
Cuaca Berkabut Hambat Operasi Water Bombing
Salah satu andalan utama dalam pemadaman karhutla skala besar adalah dukungan udara berupa water bombing. Namun, di kawasan Bromo, alam tampaknya belum berpihak pada petugas. Kabut tebal yang kerap turun secara tiba-tiba mengurangi jarak pandang drastis, memaksa pilot helikopter pemadam untuk memutar balik atau menunda pengeboman air. Kondisi ini terjadi berulang kali dalam beberapa hari terakhir, membuat operasi dari udara tidak bisa dilakukan secara konsisten.
Ketika sayap-sayap helikopter terpaksa mangkal, beban kerja beralih sepenuhnya ke tim darat. Mereka harus membawa alat pemadam api ringan (APAR), pompa portabel, dan selang dengan kapasitas terbatas menyusuri lekukan bukit. Air harus didrop dari titik pengisian yang jaraknya tidak dekat, memaksa petugas untuk bekerja dalam sistem shift agar kelelahan tidak mengorbankan keselamatan. Angin kencang yang bertiup dari lembah kaldera menjadi musuh berikutnya, karena bara yang tampak padam bisa kembali menyala dan menjalar ke area rumput kering yang luas.
"Kami tidak bisa menunggu kabut hilang sementara api terus merayap. Di lapangan, kami merasakan panas bara hampir membakar wajah. Tapi menyerah bukan pilihan, karena di balik lereng ini ada mata pencaharian warga dan ekosistem yang harus diselamatkan," ucap Suyanto, Koordinator Tim Manggala Agni di lokasi kebakaran.
Gerilya Api di Tengah Maraknya Musim Liburan
Kebakaran yang terjadi di ikon wisata utama Jawa Timur ini tentu menyita perhatian publik. Gunung Bromo bukan sekadar gunung; ia adalah jantung pariwisata yang setiap tahunnya menyedot jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara. Kehadiran api di tengah musim kunjungan memunculkan kekhawatiran serius akan dampak jangka panjang, mulai dari degradasi pemandangan alam, gangguan habitat satwa endemik seperti elang jawa, hingga risiko penutupan akses wisata yang bisa berimbas pada perekonomian warga sekitar TNBTS.
Personel dari TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, serta relawan lokal tergabung dalam satu komando operasi. Mereka bekerja dalam kondisi minim istirahat, dengan logistik yang harus didistribusikan secara manual karena jalan setapak yang sempit. Di malam hari, suhu yang turun drastis menjadi tantangan berikutnya. Namun justru di saat itulah api sering kali mengintai, karena kelembaban yang rendah dan angin malam bisa menyebarkan bara ke lokasi yang tidak terduga. Sistem pengawasan 24 jam pun diterapkan dengan patroli bergilir di sekitar perimeter kebakaran.
Dari udara, kolom asap masih terlihat mengepul, menciptakan pemandangan kontras dengan keindahan matahari terbit yang biasa menghiasi panorama Bromo. Bagi petugas di garis depan, pemandangan itu bukanlah estetika, melainkan sinyal bahaya yang mengharuskan mereka untuk terus menggencarkan upaya pembasahan. Setiap titik api yang berhasil dipadamkan adalah kemenangan kecil yang membawa harapan akan pulihnya kawasan tersebut dari luka bakar.
Penanganan Darurat dan Harapan Pemulihan
Pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah pemadaman total sebelum api mencapai hutan cemara dan vegetasi puncak yang sulit dijangkau. Penanganan darurat ini juga diiringi oleh investigasi penyebab kebakaran, mengingat bahwa sebagian besar karhutla di kawasan konservasi kerap dipicu oleh faktor manusia, baik secara sengaja maupun kelalaian. Edukasi kepada masyarakat sekitar dan wisatawan terus digencarkan agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.
Perjuangan di lereng Bromo adalah pengingat bahwa kebakaran hutan bukan lagi masalah lokal, melainkan ancaman multidimensional yang menyangkut aspek ekologis, ekonomi, dan sosial. Ratusan personel yang kini bertarung di garis api adalah perisai terakhir yang berdiri antara kehancuran ekosistem dan harapan akan kembalinya savana hijau yang menjadi kebanggaan Indonesia. Mereka bukan pahlawan bersayap, tapi mereka adalah prajurit negeri yang berjuang di tengah asap dan bara.
[SOCIAL_TWEET]: 🔥 Ratusan personel gabungan terus berjibaku padamkan 2 titik api terakhir di lereng Gunung Bromo. Medan berat + kabut tebal jadi tantangan utama. #KarhutlaBromo #GunungBromo #ManggalaAgni
Comments (0)