Ratusan warga memadati jalanan kota Bristol, Inggris, sejak Sabtu pagi demi mendapatkan kaos edisi terbatas rancangan seniman jalanan misterius, Banksy. Antrean panjang yang mengular di sekitar kawasan pertokoan lokal ini terjadi menjelang persidangan empat demonstran yang didakwa atas kerusakan pidana setelah merubuhkan patung pedagang budak abad ke-17, Edward Colston, dalam aksi protes Black Lives Matter tahun lalu.
Kaos abu-abu edisi suvenir tersebut menampilkan ilustrasi patung Edward Colston yang sedang ditarik roboh dari alasnya, lengkap dengan gambar tali pengguling dan sebuah tiang kosong. Penjualan kaos diselenggarakan secara mendadak di beberapa toko independen di Bristol, dengan batasan ketat satu buah per pembeli guna mencegah praktik spekulan dan tengkulak.
Dukungan Dana Hukum untuk "Colston Four"
Seniman ternama yang identitas aslinya masih dirahasiakan tersebut mengumumkan peluncuran busana suvenir melalui akun Instagram resminya. Banksy menegaskan bahwa seluruh hasil penjualan pakaian seharga 25 poundsterling (sekitar Rp475 ribu) tersebut akan disumbangkan langsung kepada para terdakwa untuk pengurusan biaya legalitas mereka.
"Seluruh hasil penjualan akan diserahkan kepada para terdakwa agar mereka bisa pergi minum bir," tulis Banksy dalam unggahan media sosialnya, merujuk pada bantuan dana penanganan kasus hukum yang sedang dihadapi keempat warga lokal tersebut.
Keempat terdakwa—yang dikenal luas oleh publik sebagai "Colston Four"—dijadwalkan menghadapi persidangan di Bristol Crown Court mulai Senin mendatang. Mereka terancam hukuman atas tuduhan merusak fasilitas publik secara pidana setelah ikut serta dalam penumbangan patung perunggu yang bersejarah namun kontroversial tersebut pada Juni 2020 silam.
Latar Belakang Kontroversi Patung Edward Colston
Insiden penggulingan patung Edward Colston menjadi salah satu momen paling ikonik dalam gelombang demonstrasi antirasisme global di Britania Raya. Colston adalah seorang anggota parlemen sekaligus pejabat tinggi di Royal African Company yang bertanggung jawab atas pengangkutan lebih dari 84.000 pria, wanita, dan anak-anak Afrika sebagai budak ke Benua Amerika pada akhir abad ke-17.
Patung tersebut telah berdiri di pusat kota Bristol sejak tahun 1895 dan selama puluhan tahun menjadi sumber perdebatan sengit masyarakat. Keberadaannya dianggap melukai perasaan warga minoritas dan menyebarkan narasi kelam sejarah perbudakan. Pada puncak gelombang protes tahun 2020, massa menarik roboh patung tersebut dengan tali, mengaraknya di jalanan, sebelum akhirnya menceburkannya ke dalam perairan dermaga Bristol Harbour.
Antusiasme Pembeli dan Nilai Koleksi Seni
Sejak pengumuman resmi dirilis, warga setempat hingga para kolektor seni rela mengantre berjam-jam di tengah cuaca dingin Bristol. Banyak di antara pembeli mengaku hadir untuk mendukung perjuangan keempat terdakwa, sementara sebagian lainnya menyadari nilai investasi dari karya edisi terbatas buatan Banksy yang kerap melonjak ribuan persen di pasar lelang internasional.
Pemerintah daerah dan pihak kepolisian setempat mengawasi proses penjualan agar tetap aman dan tertib. Penjualan busana suvenir ini bukan sekadar aksi penggalangan dana biasa, tetapi juga bentuk tindakan politik Banksy dalam menantang narasi sejarah formal dan memberikan sokongan moral pada gerakan keadilan sosial di tanah kelahirannya.
- Desain Eksklusif: Memuat sketsa artistik penumbangan patung Edward Colston.
- Alokasi Dana: 100 persen hasil penjualan disalurkan untuk biaya persidangan "Colston Four".
- Konteks Sejarah: Patung dirubuhkan saat puncak aksi Black Lives Matter pada Juni 2020.
- Aturan Pembelian: Dijual terbatas di toko independen Bristol dengan sistem satu kaos per orang.
Melalui aksi sosial ini, Banksy kembali membuktikan kapasitasnya sebagai seniman yang tidak hanya menciptakan karya visual bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga aktif merespons isu publik yang sensitif. Kasus hukum "Colston Four" kini diprediksi menyedot perhatian nasional Inggris, bukan hanya karena aspek hukum pidananya, melainkan juga dampaknya terhadap perombakan monumen dan simbol-simbol kolonialisme di era modern.
Hasil penjualan kaos karya Banksy akan disumbangkan 100% untuk biaya sidang empat demonstran aksi Black Lives Matter yang merubuhkan patung pedagang budak abad ke-17. Antrean panjang warga mengular di toko-toko lokal Bristol.
Comments (0)