BRIN Luncurkan AI dan Superkomputer, Perkuat Transformasi Kesehatan Primer

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengumumkan kesiapan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan superkomputer untuk menopang reformasi layanan kesehatan primer. Pengumuman i...

Jul 28, 2026 - 04:24
0 0
BRIN Luncurkan AI dan Superkomputer, Perkuat Transformasi Kesehatan Primer

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi mengumumkan kesiapan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan superkomputer untuk menopang reformasi layanan kesehatan primer. Pengumuman ini disampaikan dalam pembukaan Leimena Conference 2026, Senin (27/7), di Gedung Widya Graha, Jakarta Pusat.

Acara tersebut dihadiri langsung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier, dan Kepala BRIN Arif Satria. Ketiganya menekankan pentingnya kolaborasi riset lintas negara demi menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

AI dan Komputasi Kinerja Tinggi untuk Precision Medicine

Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa inovasi berbasis AI dan komputasi berkinerja tinggi (HPC) akan difokuskan pada pengembangan precision medicine atau pengobatan presisi. Teknologi ini memungkinkan analisis data genomik individu dalam skala besar, sehingga terapi dan obat dapat disesuaikan dengan profil genetik pasien.

“Superkomputer kami siap memproses jutaan data medis dalam hitungan jam, bukan minggu. Ini akan merevolusi kecepatan riset obat dan deteksi wabah,” ujarnya.

Layanan Primer sebagai Pilar Reformasi

Arif menekankan, seluruh kapasitas riset ini diarahkan untuk memperkuat layanan kesehatan primer. Reformasi yang digulirkan Kementerian Kesehatan, seperti integrasi puskesmas dengan sistem deteksi dini dan pencegahan, membutuhkan basis data dan model prediktif canggih yang dihasilkan BRIN.

BRIN dan Kemenkes telah menandatangani kesepakatan kerja sama riset terapan. Setiap hasil penelitian harus langsung dapat diadopsi menjadi kebijakan atau alat bantu medis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Tantangan Demografi dan Lingkungan

Dalam pemaparannya, Arif merinci empat ancaman utama yang harus diantisipasi melalui riset:

  • Perubahan iklim: meningkatkan risiko penyakit menular dan tidak menular baru.
  • Transisi demografi: penduduk lanjut usia diperkirakan melonjak pasca-2030.
  • Urbanisasi masif: menimbulkan persoalan kesehatan mental dan lingkungan.
  • Teknologi digital: menuntut keamanan data kesehatan dan adaptasi klinis.

Indonesia belum memasuki kategori aging society, namun persiapan harus dilakukan sejak dini. Penyakit degeneratif seperti diabetes, kardiovaskular, dan neurodegeneratif diprediksi menjadi beban utama dalam satu dekade mendatang.

Pendekatan Holistik Lintas Sektor

Sistem kesehatan, kata Arif, tak bisa lagi berjalan sendiri. Perlu integrasi dengan sektor pendidikan untuk mencetak tenaga ahli, dengan industri untuk produksi alat kesehatan dalam negeri, dan dengan masyarakat untuk promosi gaya hidup sehat.

“Riset BRIN bukan untuk rak buku. Kami dorong agar setiap temuan berdampak langsung pada warga yang datang ke puskesmas,” tegasnya.

Komitmen dan Target

BRIN menargetkan purwarupa sistem AI untuk diagnosa penyakit tropis dalam dua tahun ke depan. Superkomputer juga akan dibuka aksesnya bagi peneliti universitas guna menciptakan ekosistem riset yang terbuka dan kolaboratif.

Konferensi Leimena sendiri menjadi momentum untuk mempertemukan pemangku kebijakan, akademisi, dan mitra internasional dalam merancang strategi kesehatan nasional berbasis sains.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User