LOMBOK — Api mengamuk di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok, Nusa Tenggara Barat, Jumat (7/8). Sedikitnya 30 hektar lahan konservasi dilaporkan hangus dilalap si jago merah.
Kepulan asap hitam terlihat membubung dari lereng gunung setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut itu. Api bergerak cepat. Tiupan angin kencang dan vegetasi yang mengering di puncak musim kemarau mempercepat penjalaran kobaran api.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini terjadi di tengah kemarau panjang yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat. Titik api pertama dilaporkan muncul di area padang savana yang didominasi ilalang kering. Dalam hitungan jam, api meluas ke perbukitan di sekitarnya.
Medan yang curam menyulitkan upaya pemadaman. Petugas gabungan harus berjalan kaki menuju titik api. Tidak ada akses kendaraan menuju lokasi. Angin kencang dari arah lembah membuat kobaran api semakin sulit dikendalikan.
Upaya Pemadaman Dikerahkan
Tim gabungan dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani langsung diterjunkan ke lokasi kejadian. Mereka dibantu personel TNI, kepolisian, BPBD, relawan, serta masyarakat desa di sekitar kawasan.
Pemadaman dilakukan secara manual menggunakan gepyok, alat pemukul api dari ranting dan bahan seadanya. Petugas juga membuat sekat bakar. Strategi ini untuk memutus penjalaran api ke area yang lebih luas. Sumber air di sekitar lokasi sangat terbatas.
Hingga Jumat petang, upaya pemadaman masih berlangsung. Petugas bersiaga penuh. Mereka mengantisipasi titik api baru yang muncul akibat bara terbawa angin.
Dugaan Penyebab Kebakaran
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun sejumlah faktor diduga kuat menjadi pemicu. Musim kemarau membuat rumput dan semak di kawasan Rinjani mengering total. Material kering ini mudah terbakar hanya dengan percikan api kecil.
Aktivitas manusia juga kerap menjadi sumber masalah. Puntung rokok, sisa api unggun, hingga pembakaran lahan menjadi ancaman laten setiap musim kemarau tiba. Petugas terus mendalami kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Dampak terhadap Ekosistem
Kebakaran ini mengancam ekosistem khas Rinjani. Kawasan seluas lebih dari 41 ribu hektar itu merupakan habitat beragam flora dan fauna endemik. Sejumlah satwa dilaporkan berhamburan keluar dari area yang terbakar.
Padang savana yang hangus berpotensi memicu erosi saat musim hujan tiba. Abu sisa kebakaran juga dapat mencemari sumber air. Aliran air itu menjadi tumpuan desa-desa di kaki gunung.
Aktivitas pendakian turut terdampak. Pengelola memantau ketat kondisi jalur pendakian demi keselamatan. Para pendaki diimbau mematuhi arahan petugas. Mereka dilarang mendekati area yang terbakar.
Imbauan Resmi
Otoritas taman nasional mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat dan pengunjung diminta tidak menyalakan api dalam bentuk apa pun di dalam kawasan. Larangan tegas berlaku untuk semua aktivitas berisiko.
Sanksi hukum mengancam siapa pun yang sengaja membakar hutan. Regulasi mengatur ancaman pidana penjara dan denda berat bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Kebakaran Berulang di Rinjani
Peristiwa semacam ini bukan yang pertama. Kawasan Rinjani nyaris setiap tahun dilanda kebakaran saat kemarau. Karakteristik lanskap berupa padang savana luas membuat kawasan ini sangat rentan.
Pemerintah daerah dan pengelola terus memperkuat sistem deteksi dini. Pos pengawasan di titik-titik strategis diaktifkan penuh selama kemarau. Patroli rutin digencarkan untuk mencegah kebakaran lebih besar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa. Luas pasti area terdampak masih dalam pendataan petugas di lapangan. Perkembangan terbaru akan terus diperbarui.
Comments (0)