Monday, 24 August 2026 | 10:03 WIB

BREAKING: Api Landa 673 Hektare Taman Nasional Way Kambas, Belum Padam

LAMPUNG TIMUR – Si jago merah masih mengamuk. Kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas telah menghanguskan 673 hektare kawasan lindung. Hingga menit lalu, petugas belum mampu memadamkan seluruh ...

Aug 23, 2026 - 08:23
0 0
BREAKING: Api Landa 673 Hektare Taman Nasional Way Kambas, Belum Padam

LAMPUNG TIMUR – Si jago merah masih mengamuk. Kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas telah menghanguskan 673 hektare kawasan lindung. Hingga menit lalu, petugas belum mampu memadamkan seluruh titik api.

Dilaporkan dari lapangan, kobaran api masih membakar sejumlah area. Upaya pemadaman berjalan sangat berat. Angin kencang membuat api menyebar cepat ke arah tak terduga.

Dua Kendala Fatal Pemadaman

Petugas mengaku tertekan dua masalah besar sekaligus. Pertama, tiupan angin kencang memicu api menjalar deras. Bara panas mudah melompat ke zona baru yang semula aman.

Kedua, akses menuju titik api terbilang sulit. Medan kawasan konservasi tidak ramah bagi kendaraan pemadam. Sejumlah lokasi hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Logistik air pun kesulitan tiba cepat di garis depan.

Kombinasi dua kendala itu membuat laju pemadaman tidak optimal. Petugas terpaksa bekerja bertahap. Setiap meter tanah yang berhasil diamankan adalah hasil perjuangan keras.

Fakta Cepat dari Lokasi

Perkembangan kunci yang berhasil dirangkum redaksi: luas terdampak 673 hektare; status api belum padam sempurna; penghambat utama berupa angin kencang serta medan berat; lokasi kejadian di kawasan konservasi Way Kambas, Lampung Timur, Lampung.

Angka luas terbakar dinilai masih bisa bergerak. Pantauan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada tambahan area terdampak. Konfirmasi resmi atas data final masih dinantikan.

Rumah Satwa Langka Terancam

Way Kambas bukan hutan biasa. Kawasan ini merupakan rumah satwa langka Indonesia. Badak sumatera dan gajah sumatera hidup di dalamnya.

Kebakaran skala ratusan hektare jelas mengancam ekosistem. Habitat satwa berisiko rusak parah. Sumber pakan hewan juga bisa terbakar habis. Pemulihan kawasan diperkirakan butuh waktu bertahun-tahun.

Saksi mata di sekitar kawasan mengaku melihat asap tebal menggelegar. Bau hangus tercium sampai permukiman terdekat. Warga berharap hujan segera turun membantu petugas.

Warga juga diminta tidak mendekati zona merah. Asap kebakaran hutan mengandung partikel berbahaya. Paparan jangka panjang mengganggu pernapasan, terutama anak-anak dan lansia.

Petugas Siaga Total

Tim pemadam masih digelar penuh di lapangan. Mereka menyisir titik-titik api satu per satu. Penyiraman dan pemukulan lahan kering dilakukan terus-menerus sejak siang.

Strategi pembuatan jalur penahan api juga disiapkan. Tujuannya tegas. Menghentikan laju api agar tidak merembet ke blok hutan lain yang lebih luas.

Kondisi cuaca menjadi taruhan utama nanti malam. Bila angin mereda, kerja petugas akan lebih efektif. Sebaliknya, tiupan deras berpotensi memperparah keadaan dalam hitungan jam.

Antisipasi evakuasi satwa mulai dibicarakan apabila api mendekati titik rawan. Keputusan langkah lanjut menunggu evaluasi kondisi terkini di lapangan.

Alarm Darurat Musim Kering

Insiden ini menjadi alarm darurat lingkungan yang keras. Musim kering menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak. Satu percikan api sembarangan cukup mengulang tragedi serupa.

Masyarakat sekitar kawasan hutan diimbau waspada penuh. Jangan membakar lahan atau membuang bara api di area kering. Segera lapor petugas bila menemukan asap atau titik api baru.

UPDATE Menyusul

Redaksi masih memantau situasi secara langsung. Data luas kebakaran dapat berubah sewaktu-waktu. Begitu ada konfirmasi resmi terbaru, UPDATE lengkap akan segera diturunkan.

Pantau terus kanal ini untuk perkembangan tercepat dari Lampung Timur. Semua informasi kunci akan langsung diperbarui begitu diverifikasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User