Bonnie Triyana Gaungkan Diskusi Kritis Marhaenisme untuk Gen Z

BREAKING — Upaya membangkitkan kembali tradisi diskusi publik di kalangan anak muda mencuat lewat inisiatif bedah buku Marhaenisme Lebak. Sejarawan dan pegiat literasi Bonnie Triyana dikonfirmasi me...

Jul 12, 2026 - 17:50
0 0

BREAKING — Upaya membangkitkan kembali tradisi diskusi publik di kalangan anak muda mencuat lewat inisiatif bedah buku Marhaenisme Lebak. Sejarawan dan pegiat literasi Bonnie Triyana dikonfirmasi memimpin langsung gerakan ini, mengajak Generasi Z merayakan nalar kritis yang kian tergerus banjir konten receh.

Acara yang digelar secara hibrida itu menghimpun lebih dari 300 peserta daring dan luring. Mereka membedah relevansi paham kerakyatan Bung Karno di tengah gempuran kapitalisme platform digital. Buku hasil riset mendalam di Banten Selatan itu menjadi batu loncatan untuk membincang akar perjuangan kelas di era algoritma.

Mengulik Luka Sejarah Kudatuli

Diskusi tidak mandek pada hafalan teori. Bonnie dengan lantang mengaitkan praktik represi negara terhadap partai politik di masa lalu dengan wajah demokrasi hari ini. Peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996—yang dikenang sebagai Kudatuli—dihadirkan sebagai bukti bahwa kebebasan berpendapat dan ruang diskusi pernah diinjak-injak rezim otoriter.

“Generasi Z wajib memahami bahwa hak berserikat yang sekarang dinikmati lahir dari pertaruhan nyawa para aktivis,” tegas Bonnie, memantik sesi tanya jawab yang berlangsung panas namun produktif.

Kapitalisme Digital: Wajah Baru Penjajahan

Materi paling menyedot atensi adalah kritik terhadap ekonomi digital. Para panelis membeberkan data bahwa algoritma TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya memonopoli perhatian, tetapi juga mengekstrak data pribadi tanpa kompensasi adil. Praktik ini disebut sebagai bentuk eksploitasi baru yang mirip pola penghisapan di era kolonial.

“Marhaenisme mengajarkan kita melawan tiap bentuk penindasan, termasuk penindasan algoritma,” ungkap seorang panelis berlatar belakang pengembang perangkat lunak. Diskusi melebar ke solusi konkret: membangun platform digital alternatif berbasis gotong royong dan kepemilikan kolektif.

Merawat Daya Kritis di Tengah Distraksi Akut

Bagian pamungkas acara menyoroti metode perawatan otot kritis. Bonnie menawarkan resep sederhana: membaca buku fisik secara rutin, bergabung dalam klub diskusi kecil, dan menulis refleksi harian. Ia mengaku prihatin karena daya baca panjang generasi kini merosot tajam. Data internal panitia menyebutkan rata-rata partisipan hanya mampu membaca tanpa interupsi selama 8 menit.

Acara ditutup dengan deklarasi Komunitas Diskusi Marhaenis Muda yang akan menggelar bedah buku keliling setiap bulan. Peserta juga mendapat akses gratis ke arsip digital berisi risalah rapat politik era 1950-an. Dengan gelombang ini, Bonnie optimistis Gen Z mampu menjadi garda terdepan melawan pembodohan massal, menjadikan ruang diskusi sebagai vaksin pemecah politik identitas.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User