Sep 17, 2026
Nasional

BMKG Catat 81,1 Persen Wilayah Indonesia Masih Musim Kemarau

Terik mentari menyengat permukaan tanah yang mulai meretak di berbagai sudut Nusantara. Debu-debu halus berterbangan terbawa angin kering, mempertegas gamb

BMKG Catat 81,1 Persen Wilayah Indonesia Masih Musim Kemarau

Terik mentari menyengat permukaan tanah yang mulai meretak di berbagai sudut Nusantara. Debu-debu halus berterbangan terbawa angin kering, mempertegas gambaran betapa kuatnya cengkeraman musim kemarau yang melanda negeri ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena cuaca kering ini bukanlah sekadar dinamika harian biasa, melainkan fakta terukur yang mendominasi hamparan wilayah Indonesia hingga memasuki awal September 2026.

Berdasarkan pemantauan klimatologis terbaru yang dirilis oleh BMKG, sebanyak 81,1 persen wilayah Indonesia atau setara dengan 567 Zona Musim (ZOM) dicatat masih berada dalam periode musim kemarau. Angka ini mencerminkan betapa luasnya dampak kekeringan yang berpotensi memicu tantangan serius bagi ketahanan pangan, krisis pasokan air bersih, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Sebaran Zona Musim dan Puncak Dominasi Kemarau

Peta analisis iklim yang dikeluarkan BMKG menunjukkan bahwa dominasi cuaca kering melingkupi hampir seluruh pulau-pulau utama di Nusantara. Wilayah-wilayah strategis seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Sumatra, Sulawesi, hingga beberapa bagian wilayah Papua masih merasakan hari-hari tanpa hujan yang berkepanjangan.

Kondisi ini menuntut kewaspadaan penuh dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Penurunan curah hujan yang signifikan memicu kekeringan meteorologis yang lambat laun berimbas pada kekeringan hidrologis. "Kondisi kemarau yang meluas di 567 ZOM ini harus disikapi secara bijak dan responsif, terutama dalam manajemen cadangan air serta mitigasi daerah rawan karhutla," tegas pihak BMKG dalam rilis resminya.

"Kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah mitigasi krisis air bersih. Pola hemat air serta pengawasan ketat terhadap kawasan rawan kebakaran harus menjadi prioritas utama hingga transisi musim tiba."

Analisis Data Sebaran Kekeringan Berdasarkan Wilayah

Untuk memberikan gambaran yang lebih detail mengenai tingkat keterpaparan wilayah terhadap musim kemarau saat ini, berikut adalah rincian proporsi dan dampak di beberapa pulau utama Indonesia:

Wilayah Utama Status Musim Tingkat Risiko Utama
Jawa & Bali Dominan Kemarau (ZOM Tinggi) Gagal Panen & Krisis Air Clean
Nusa Tenggara (NTB & NTT) Kemarau Kering Ekstrem Kekeringan Lahan & Air Minimum
Sumatra (Tengah & Selatan) Musim Kemarau Ancaman Karhutla & Asap
Sulawesi & Kalimantan Sebagian Kemarau / Transisi Penurunan Debit Sungai

Implikasi terhadap Pertanian dan Ketahanan Air

Dampak dari 81,1 persen wilayah yang masih terkunci musim kemarau memberikan tekanan besar pada sektor pertanian. Ribuan hektar lahan sawah tadah hujan berada dalam posisi rentan mengalami penurunan produktivitas atau bahkan gagal panen total apabila supply irigasi alternatif tidak segera disalurkan.

Di sisi lain, penurunan volume air di waduk-waduk utama penopang pembangkit listrik dan pasokan PDAM mulai terpantau menyusut secara bertahap. Hal ini menuntut Kementerian Pertanian dan Kementerian PUPR untuk terus mengoptimalkan operasional sumur bor serta percepatan bantuan pompa air di daerah rawan kekeringan. Masa-masa kritis ini membutuhkan sinergi ketat antara pemerintah dan masyarakat agar dampak kekeringan tidak mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

BMKG memprediksi bahwa peralihan musim atau masa pancaroba menuju musim hujan akan mulai terjadi secara bertahap di beberapa wilayah pada akhir triwulan ketiga. Namun hingga masa transisi tersebut benar-benar merata, kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi dampak musim kemarau tahun ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User