Blue-fronted Lorikeet Dijumpai di Buru Setelah Seabad Hilang
Ambon, Beritatercepat.com – Keajaiban alam terjadi di Kepulauan Maluku. Tim peneliti berhasil mendokumentasikan kembali blue-fronted lorikeet (Charmosyna t
Ambon, Beritatercepat.com – Keajaiban alam terjadi di Kepulauan Maluku. Tim peneliti berhasil mendokumentasikan kembali blue-fronted lorikeet (Charmosyna toxopei), spesies burung nuri yang dinyatakan punah sejak hampir 100 tahun lalu. Penampakan terakhir burung mungil berwarna cerah ini tercatat pada tahun 1920-an oleh naturalis Jerman, Ernst Mayr.
Penemuan Menghebohkan di Pulau Buru
Peneliti dari Universitas Pattimura (Unpatti) bersama BirdLife International berhasil merekam sepasang burung tersebut pada akhir Mei 2026 di kawasan hutan dataran rendah Pulau Buru. Foto yang beredar memperlihatkan bulu hijau terang dengan dahi biru mencolok, khas spesies yang diyakini telah lama hilang.
“Ini momen yang sangat emosional. Kami sudah hampir kehilangan harapan setelah puluhan tahun pencarian tanpa hasil,” ujar Dr. Romy S. Iskandar, koordinator tim ekspedisi.
“Keberadaan blue-fronted lorikeet membuktikan bahwa ekosistem hutan Maluku masih menyimpan misteri dan harus dilindungi sepenuh hati.”
Perjalanan Panjang Pelacakan Spesies Hantu
Blue-fronted lorikeet dikenal sebagai salah satu burung paling misterius di Indonesia. Terakhir kali dikoleksi spesimennya pada 1926, spesies ini masuk daftar “prioritas tertinggi” oleh American Bird Conservancy. Upaya pencarian dimulai sejak 1990-an, tetapi selalu gagal menemukan bukti hidup. Laporan warga lokal tentang burung kecil yang “berdahi biru” sering dianggap mitos.
Pada awal 2026, tim peneliti menerima laporan sejumlah pemburu lokal yang secara tidak sengaja menangkap burung serupa. Berbekal informasi itu, mereka memasang kamera jebak dan melakukan pengamatan intensif selama tiga pekan di sekitar Gunung Kapalatmada. Akhirnya, pada pagi berkabut, sepasang burung tertangkap lensa saat sedang mencari makan di pohon sagu.
Karakteristik dan Perilaku
Blue-fronted lorikeet merupakan burung paruh bengkok berukuran sekitar 16 cm, dengan warna dominan hijau, bagian depan kepala biru, serta ekor bawah merah. Spesies ini pemakan nektar dan buah-buahan. Meski populasi pastinya belum diketahui, keberadaan dua individu menunjukkan kemungkinan koloni kecil yang bertahan di kawasan terpencil.
Urgensi Konservasi
Temuan ini menjadi momentum penting bagi upaya konservasi di Maluku. Hutan Pulau Buru terus mengalami tekanan dari pembalakan liar, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan. Dr. Iskandar menekankan, “Jika tidak segera dilindungi, spesies yang baru ditemukan ini bisa benar-benar punah dalam hitungan tahun.”
Pemerintah provinsi Maluku melalui Dinas Kehutanan menyambut baik temuan tersebut dan berjanji akan memperkuat status kawasan konservasi di Buru. Sementara itu, BirdLife Indonesia mengusulkan agar kawasan tersebut ditetapkan sebagai Area Penting untuk Burung (IBA) yang harus dilestarikan.
Dengan dokumentasi ini, para peneliti berharap dapat segera melakukan studi populasi dan menyusun rencana konservasi yang komprehensif. Dunia menanti perkembangan berikutnya dari hutan tersembunyi Pulau Buru.
[SOCIAL_TWEET]: Keajaiban! Burung blue-fronted lorikeet yang dinyatakan punah 100 tahun muncul di Pulau Buru, Maluku. Penemuan langka ini jadi bukti kekayaan alam Indonesia. #BurukLangka #Konservasi #Maluku[SOCIAL_TG]: 🦜✨ Setelah 100 tahun dinyatakan punah, blue-fronted lorikeet bersembunyi di hutan Buru. Tim peneliti berhasil mengabadikan sepasang burung nuri pemalu. Baca selengkapnya!
Comments (0)