BBM Subsidi Langka di Medan, Antrean SPBU Mengular
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kembali terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Selama dua hari terakhir, warga di sejumlah titik harus rela
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kembali terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Selama dua hari terakhir, warga di sejumlah titik harus rela mengantre panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk mengisi Pertalite dan Solar. Antrean kendaraan, terutama sepeda motor dan angkutan umum, tampak memanjang hingga mencapai puluhan meter. Sebagian warga mengaku terpaksa berburu ke beberapa SPBU karena stok yang tersedia tidak merata.
Dua Hari Kelangkaan, Warga Mulai Panik
Kondisi ini mulai terasa sejak Senin (tanggal fiktif). Sejumlah SPBU di kawasan Medan Tembung, Medan Amplas, dan Medan Helvetia dilaporkan kehabisan stok Pertalite dan Solar. Pantauan di lapangan, sedikitnya 15 SPBU di Medan mengalami antrean kendaraan yang lebih panjang dari biasanya. Beberapa pengendara bahkan harus mengantre lebih dari satu jam.
“Saya sudah muter tiga SPBU, semuanya kosong terus. Akhirnya dapat di sini tapi ngantre panjang. Ini mengganggu pekerjaan saya,” keluh Andi, seorang pengemudi ojek online.
Kepanikan juga menyebabkan sebagian warga membeli BBM dalam jumlah berlebih untuk berjaga-jaga. Hal ini justru memperburuk situasi karena permintaan meningkat drastis dalam waktu singkat.
Gangguan Distribusi Jadi Biang Keladi
Pihak Pertamina melalui Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Susanto August Satria, membantah adanya kelangkaan stok. Dalam keterangan resminya, Pertamina menyatakan pasokan BBM subsidi di Medan dan sekitarnya dalam kondisi aman. Namun, diakui terjadi hambatan distribusi dari Terminal BBM (TBBM) Medan ke sejumlah SPBU akibat faktor cuaca dan peningkatan konsumsi mendadak.
“Kami memastikan stok cukup, tidak ada kelangkaan. Saat ini kami sedang menggencarkan penyaluran dengan mengoperasikan armada tambahan untuk mempercepat suplai ke SPBU-SPBU yang kekosongan,” ujar Susanto.
Ia menambahkan, rata-rata konsumsi harian Pertalite di wilayah Medan mencapai 1.200 kiloliter, sementara Solar bersubsidi sekitar 800 kiloliter per hari. Lonjakan konsumsi hingga 15% dalam dua hari terakhir dinilai menjadi pemicu utama antrean panjang. Pihaknya menargetkan normalisasi distribusi dalam 1-2 hari ke depan.
Sejumlah SPBU Terpaksa Batasi Pembelian
Untuk mengurai antrean, beberapa pengelola SPBU memberlakukan pembatasan pembelian. Di SPBU Jalan Sisingamangaraja, misalnya, setiap konsumen hanya diizinkan membeli maksimal Rp100.000 untuk Pertalite. Pembatasan serupa juga diterapkan di SPBU Jalan Gatot Subroto dan Jalan Setia Budi.
Namun langkah ini tidak sepenuhnya efektif. Antrean tetap mengular karena banyaknya kendaraan roda dua yang bergantung pada BBM subsidi. Seorang petugas SPBU mengaku kewalahan melayani lonjakan konsumen.
“Kami sudah atur agar tidak terjadi penumpukan, tapi warga tetap khawatir tidak kebagian. Sejak pagi tadi, kami hanya istirahat saat stok habis total,” kata Rudi, operator di salah satu SPBU.
Dampak pada Transportasi dan Ekonomi Kecil
Kelangkaan ini berdampak langsung pada sektor transportasi. Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) mengeluh harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli BBM nonsubsidi atau terpaksa mengurangi jam operasional. Beberapa memilih menaikkan tarif ilegal untuk menutupi kerugian.
Ketua Organda Sumut, M. Yusuf, meminta pemerintah daerah segera turun tangan. Ia khawatir krisis ini akan memicu gejolak sosial jika tidak segera diatasi.
“Kami minta ada prioritas penyaluran untuk angkutan umum. Kalau dibiarkan berlarut, operasional kami lumpuh dan harga kebutuhan pokok bisa ikut naik,” tegas Yusuf.
Di sisi lain, pelaku UMKM yang mengandalkan kendaraan untuk distribusi barang juga mengeluhkan kenaikan biaya operasional. Mereka berharap ada jaminan ketersediaan BBM subsidi agar roda ekonomi kecil tetap berputar.
Pemkot Medan Minta Pertamina Jamin Pasokan
Menanggapi situasi ini, Wali Kota Medan menginstruksikan Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk berkoordinasi dengan Pertamina. Pemerintah kota meminta agar distribusi BBM subsidi diperlancar dan dilakukan pengawasan ketat untuk mencegah penimbunan.
“Kami akan terus memantau kondisi di lapangan dan memastikan hak masyarakat atas BBM subsidi terpenuhi,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan, M. Syafrizal.
Pihaknya juga berencana menggelar operasi pasar murah untuk meringankan beban warga jika kelangkaan terus berlarut. Selain itu, Satgas Pangan Sumut diinstruksikan untuk mengawasi potensi penyelewengan BBM subsidi ke industri atau pihak yang tidak berhak.
Langkah Antisipasi dan Harapan Warga
Beberapa warga mulai beralih menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax, meskipun harganya lebih mahal. Sementara itu, yang lain memilih mengisi di SPBU di pinggiran kota dengan harapan antrean lebih pendek. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan membeli BBM sewajarnya.
Hingga berita ini diturunkan, antrean di sejumlah SPBU di Medan masih terpantau padat. Pertamina berjanji akan mengerahkan tambahan 15 armada truk tangki untuk mempercepat distribusi dalam 24 jam ke depan. Masyarakat berharap situasi segera normal kembali, mengingat BBM subsidi merupakan kebutuhan vital bagi sebagian besar warga Medan.
[SOCIAL_TWEET]: Kelangkaan Pertalite dan Solar di Medan picu antrean panjang sepanjang 2 hari terakhir. Pertamina bantah stok langka, sebut ada hambatan distribusi. Normalisasi dijanjikan dalam 24 jam. #BBMSubsidi #Medan #PertaliteLangka[SOCIAL_TG]: ⛽️ Kelangkaan BBM subsidi di Medan bikin antrean mengular. Pertamina bilang stok cukup, tapi distribusi terhambat. Semoga cepat normal! #BBM #Medan #BeritaHariIni
Comments (0)