Balita 1,5 Tahun Terpantik Kata Metamorfosis, Kini Jadi 'Nalapedia' Anatomi
MINAT seorang anak sering kali muncul dari momen yang tidak terduga. Bagi pasangan Shofi dan suaminya, momen itu hadir ketika putri mereka, Nala, baru berusia 1,5 tahun. Saat dibacakan buku, bocah cil...
MINAT seorang anak sering kali muncul dari momen yang tidak terduga. Bagi pasangan Shofi dan suaminya, momen itu hadir ketika putri mereka, Nala, baru berusia 1,5 tahun. Saat dibacakan buku, bocah cilik itu tertawa setiap kali mendengar kata metamorfosis.
"Dia tertawa terus-menerus. Kami ulangi, dia tertawa lagi," kenang Shofi. Dari situ, orang tua Nala menyimpulkan bahwa sang buah hati memiliki kepekaan terhadap bunyi dan makna kata-kata yang tidak biasa. Mereka pun memutuskan untuk lebih banyak menyediakan buku dengan kosakata yang kompleks.
Dari Kosakata Unik ke Buku-Buku Ilmu Pengetahuan
Seiring bertambahnya usia, koleksi buku di rumah Nala pun berkembang. Dinosaurus, teknik, luar angkasa, semuanya tersedia. Namun, Nala hampir selalu memilih buku tentang tubuh manusia. Setiap kali disodori pilihan, buku anatomi yang ia ambil. Ketertarikannya pada organ dalam, tulang, dan sistem tubuh membuat sang ibu mencari cara lebih kreatif untuk mendukung rasa ingin tahunya.
Shofi tidak hanya mengandalkan buku cerita bergambar. Ia membelikan alat peraga organ tubuh berbahan plastik dan kain, menyanyikan lagu-lagu tentang anatomi dengan melodi lagu anak populer, serta mengajak Nala bermain puzzle rangka tubuh. Semua dilakukan dengan menyenangkan agar minat itu tidak padam.
Anatomi Menjadi 'Teman' Sehari-hari
Nala kini dikenal di lingkungannya dengan julukan Nalapedia. Ia mampu menyebut nama-nama organ dengan lancar dan hafal fungsi dasarnya. Ketika anak seusianya sibuk dengan mainan balok, Nala lebih tertarik membuka buku bergambar sistem peredaran darah atau mencocokkan organ pada model manusia kecil miliknya.
"Kami tidak pernah memaksa atau merencanakan masa depan Nala sebagai dokter. Kami hanya mengikuti ke mana rasa ingin tahunya pergi," ujar Shofi. Menurutnya, peran orang tua adalah menjadi fasilitator yang tanggap terhadap sinyal-sinyal kecil dari anak.
Tanpa Latar Belakang Medis, tapi Penuh Dukungan
Fakta yang menarik, baik Shofi maupun suaminya tidak memiliki latar belakang pendidikan atau profesi di bidang kesehatan. Shofi adalah lulusan ekonomi, meskipun sempat mengambil jurusan IPA di SMA. Profesi suaminya pun jauh dari dunia medis. Hal ini membuktikan bahwa mengenali dan menumbuhkan minat anak tidak mensyaratkan orang tua harus ahli di bidang tersebut.
"Orang sering mengira kami dokter," kata Shofi sambil tersenyum. "Padahal kami hanya menyediakan ruang, alat, dan waktu untuk Nala mengeksplorasi apa yang ia suka." Ia pun membagikan cerita ini kepada para orang tua lainnya agar tidak ragu mengikuti ritme anak, bahkan jika minat itu terdengar tidak biasa untuk ukuran balita.
Saat naskah ini ditulis, Nala terus aktif belajar melalui buku-buku baru dan konten edukatif. Ketertarikannya pada anatomi menjadi bukti bahwa potensi besar dapat bersemi dari hal sederhana, seperti tawa seorang balita mendengar kata metamorfosis.
Baca juga:
Comments (0)