Monday, 24 August 2026 | 16:35 WIB

Bali — Umat Hindu Gelar Upacara Piodalan Buda Umanis Tambir

Denpasar — Rabu, 12 Agustus hari ini, umat Hindu di seluruh Pulau Bali kembali melaksanakan rangkaian upacara keagamaan dalam peringatan Piodalan yang bert

Aug 13, 2026 - 03:43
0 1
Bali — Umat Hindu Gelar Upacara Piodalan Buda Umanis Tambir

Denpasar — Rabu, 12 Agustus hari ini, umat Hindu di seluruh Pulau Bali kembali melaksanakan rangkaian upacara keagamaan dalam peringatan Piodalan yang bertepatan dengan hari Buda Umanis Tambir menurut perhitungan kalender Pawukon. Ratusan pura di tingkat desa adat hingga kahyangan jagat menggelar ritual persembahyangan sejak dini hari, mengundang ribuan jemaat untuk bersembah, memohon keselamatan, dan mensyukuri rahmat Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam sistem perhitungan tradisional Bali, hari ini bukan sekadar tanggal biasa. Buda Umanis Tambir merupakan titik temu tiga unsur kalender sakral: Saptawara (hari Buda), Pancawara (Umanis), dan Wuku (Tambir). Kombinasi ketiga elemen ini dipercaya membawa aura kosmis yang sangat mendukung untuk upacara penyucian, persembahan, dan pemohonan spiritual di kahyangan. Masyarakat Bali secara masif mempersiapkan canang sari, banten, dan sesajen sejak subuh, memenuhi pelataran pura dengan aroma dupa dan bunga ronce yang khas.

Piodalan sendiri merupakan istilah lokal untuk odalan, yakni peringatan ulang tahun sebuah pura berdasarkan waktu sakral Pawukon. Berbeda dengan perayaan tahunan kalender Masehi, piodalan bisa terjadi dua kali dalam satu tahun Pawukon karena siklus wukunya yang terdiri dari 30 wuku. Saat piodalan jatuh, seluruh komponen masyarakat adat—mulai dari pemangku, jero mangku, perbekel, hingga krama desa—bergotong royong menyelenggarakan upacara. Beberapa pura besar yang secara tradisional mengadakan piodalan pada siklus Tambir antara lain sejumlah Pura Dalem, Pura Puseh, dan Pura Desa di wilayah Kabupaten Gianyar, Badung, dan Tabanan, meskipun jadwal pastinya dapat berbeda sesuai dengan prasanti atau titi warsa masing-masing kahyangan.

Analisis Makna Kosmis dan Sosial Piodalan di Hari Buda Umanis Tambir

Menurut para ahli agama Hindu dan pegiat budaya Bali, momentum Buda Umanis Tambir memiliki makna ganda, baik secara teologis maupun sosial. Secara spiritual, hari Buda di dalam Saptawara dipersembahkan untuk memuja Bhatara Guru, sang penguasa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Sementara itu, Umanis dalam Pancawara melambangkan kondisi yang lembut, manis, dan penuh berkah. Ketika bertemu dengan Wuku Tambir—yang dalam beberapa tafsiran lokal identik dengan konsep penyucian dan peneguhan batas—maka lahirlah momen yang sangat ideal untuk memperbarui kesucian kahyangan dan memohon tirta amerta.

"Buda Umanis Tambir memiliki aura positif untuk upacara penyucian dan piodalan di pura-pura kahyangan. Energi kosmis pada hari ini dianggap mampu membersihkan stagnasi spiritual dan menguatkan kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta," jelas Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, pakar agama Hindu dan budaya Bali dari Universitas Udayana. Ia menambahkan bahwa fenomena piodalan bukan sekadar ritual religius, melainkan juga mekanisme pemeliharaan tatanan sosial dalam desa pakraman yang hingga kini menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat Bali.

Elemen Kalender Hari Ini (12/8) Makna Ritual
Saptawara Buda Hari pemujaan Bhatara Guru; cocok untuk pintar, meditasi, dan upacara kebijaksanaan
Pancawara Umanis Simbol kelembutan, kedamaian, dan waktu tepat memohon keselamatan
Wuku Tambir Momen pembersihan energi negatif dan peneguhan kembali batas sakral pura

Dari sisi ekonomi lokal, gelombang piodalan yang terjadi secara serentak memberikan dampak signifikan terhadap perputaran uang di pasar tradisional. Di Pasar Badung dan Pasar Kumbasari Denpasar, omset penjualan bunga tabur, kelapa, janur, dan bahan baku canang dilaporkan meningkat hingga 40 persen dibanding hari biasa. Para perajin canang di desa-desa seperti Dangin Puri dan Sumerta mengaku menerima pesanan ekstra sejak dua hari sebelumnya. Fenomena ini membuktikan bahwa aktivitas ritual tidak berjalan terpisah dari dinamika ekonomi rakyat, melainkan saling menguatkan dalam ekosistem kehidupan tradisional Bali.

Secara geografis, upacara piodalan pada Buda Umanis Tambir tidak hanya terpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di lebih dari 1.400 desa adat yang ada di Bali. Di Kabupaten Gianyar, sejumlah Pura Kahyangan Tiga di desa adat seperti Ubud dan Tegallalang menggelar upacara tabuh rah pengusir bhuta kala sebelum puncak persembahyangan. Di wilayah Badung, khususnya di sekitar Denpasar dan Kuta, piodalan dilaksanakan dengan penambahan elemen gamelan dan bebaris sebagai bentuk syukur masyarakat. Sedangkan di Buleleng dan Karangasem, ritual cenderung lebih tertutup dan diutamakan untuk warga lokal yang tergabung dalam banjar adat masing-masing.

Dalam konteks kekinian, pelaksanaan piodalan juga mengalami adaptasi tanpa meninggalkan esensi. Banyak kahyangan yang kini memanfaatkan sistem koordinasi digital melalui grup pesawat untuk mengatur jadwal ngayah atau gotong royong membersihkan pura. Namun, substansi upacara tetap dijaga secara ketat. Masyarakat tetap menggunakan yadnya panca, mulai dari dewa yadnya, buta yadnya, hingga manusa yadnya, yang disesuaikan dengan tingkatan dan fungsi masing-masing pura. Kehadiran wisatawan mancanegara pun tetap diatur melalui aturan adat yang mengharuskan penggunaan kamen dan selendang serta penghormatan terhadap prosesi yang sedang berlangsung.

Dengan melihat besarnya animo masyarakat terhadap tradisi ini

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User