Ayatollah Khamenei Kutip Pidato Soekarno untuk Perkuat Persatuan
Teheran — Mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, semasa hidupnya pernah merujuk pada pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarn
Teheran — Mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, semasa hidupnya pernah merujuk pada pidato Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, untuk menegaskan pentingnya persatuan di tengah keberagaman. Kutipan ini mengemuka sebagai bukti kedekatan pandangan antara dua tokoh besar dunia Islam yang sama-sama gigih melawan imperialisme.
Sumber-sumber di Teheran mengonfirmasi bahwa Khamenei menggunakan potongan pidato Bung Karno dalam sejumlah forum internal untuk mengingatkan rakyat Iran agar tidak mudah terpecah belah oleh sekat mazhab maupun ideologi politik. Penggunaan retorika Soekarno oleh pemimpin spiritual Iran ini menjadi sorotan seiring dengan prosesi pemakaman besar-besaran yang menggetarkan Republik Islam tersebut pada pertengahan 2026, setelah Khamenei wafat pada 28 Juni di tahun yang sama.
Konteks Kutipan dalam Pusaran Geopolitik
Rujukan Khamenei terhadap Soekarno tidak lepas dari konteks geopolitik yang melingkupi hubungan Iran dengan negara-negara berpenduduk mayoritas Sunni, termasuk Indonesia. Di bawah arahan Khamenei, Iran aktif mendorong narasi "Persatuan Islam" yang menolak perbedaan sektarian sebagai alat pemecah belah, sebuah narasi yang sangat sejalan dengan gagasan Soekarno tentang solidaritas Asia-Afrika dan persaudaraan di antara bangsa-bangsa tertindas.
Dalam salah satu pidatonya, Bung Karno menyerukan, 'Jangan bertanya apa agamamu, jangan bertanya apa ideologimu, tetapi lihatlah tujuan kita sama.' Kata-kata itu adalah fondasi perjuangan melawan arogansi global,
demikian intisari pernyataan Khamenei yang dirujuk oleh kalangan pejabat Iran, menggambarkan bagaimana ulama sekaligus negarawan itu menginternalisasi semangat Sukarnoisme.
Nilai Historis dan Diplomasi Kultural
Momen ketika Khamenei menyitir Proklamator RI tersebut menjadi pengikat kultural yang kuat antara Jakarta dan Teheran. Para pengamat diplomasi menilai bahwa gestur itu bukan sekadar pujian verbal biasa, melainkan penegasan bahwa Indonesia, di mata Khamenei, adalah mitra strategis yang mampu menyeimbangkan diri di tengah pusaran konflik Timur Tengah. Indonesia yang menganut Pancasila dengan toleransi tinggi dianggap sebagai model peradaban yang dapat menjembatani kesenjangan antara Syiah dan Sunni.
Sang Pemimpin Tertinggi memahami bahwa semasa hidupnya, Presiden Soekarno adalah arsitek Gerakan Non-Blok yang gigih mendukung kemerdekaan Palestina dan menentang segala bentuk neo-kolonialisme, persis seperti misi yang dijalankan Republik Islam Iran pascarevolusi 1979. Oleh karena itu, penyebutan nama Soekarno di mimbar-mimbar utama Iran membawa bobot legitimasi yang tinggi bagi pendekatan jihad akbar melawan penindasan global.
Warisan Persatuan yang Melampaui Mazhab
Lebih jauh, analis politik di Tehran mencatat bahwa Khamenei sering menggunakan analogi Indonesia saat meredam ketegangan domestik antara kubu konservatif dan reformis. Ia menekankan bahwa Soekarno mampu merangkul Nahdlatul Ulama dan elemen nasionalis non-religius dalam satu naungan karena alasan yang lebih besar, yakni kepentingan nasional dan martabat bangsa. Pesan ini relevan untuk Iran yang kerap bergulat dengan friksi internal antara faksi politik yang energik.
Kini, setelah kepergian Khamenei, kilas balik mengenai kutipan Soekarno ini meninggalkan warisan intelektual bahwa pembangunan peradaban Islam tidak boleh terhambat perbedaan yang bersifat furu'iyyah (cabang). Pemandangan para pelayat yang memadati jalanan Teheran dalam prosesi pemakaman menjadi saksi betapa gagasan Khamenei yang terinspirasi dari Bung Karno telah mengakar kuat di sanubari rakyat Persia.
Kilasan Gagasan Kunci
Berikut adalah intisari dari poros pemikiran yang diadopsi Khamenei dalam kapasitasnya sebagai negarawan:
- Kesatuan tujuan: Agama dan ideologi jangan menjadi jurang, tetapi energi kolektif melawan hegemoni kekuatan asing.
- Model Indonesia: Pluralisme ala Indonesia yang sukses menciptakan stabilitas di tengah heterogenitas adalah cetak biru peradaban Islam modern.
- Anti-kolonialisme berkelanjutan: Semangat Soekarno harus terus menyala dalam rangka membebaskan sumber daya umat dari kendali negara adidaya.
[SOCIAL_FB]: "Jangan bertanya apa agamamu... tetapi lihatlah tujuan kita sama." Kalimat ikonik Bung Karno ini ternyata dikutip langsung oleh mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai fondasi melawan perpecahan. Sebuah pengakuan mendalam bahwa Indonesia adalah model peradaban toleran yang mendunia. Selengkapnya di Beritatercepat.com. #Sejarah #Diplomasi #Islam [SOCIAL_THREADS]: [THREAD] 🧵 1/5 Ternyata, semangat Bung Karno begitu menginspirasi Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei. Dalam berbagai forum, almarhum mengutip soal kesatuan tujuan di atas perbedaan agama. Seperti apa kisahnya? 🧐👇 #Iran #Indonesia #PolitikGlobal
Comments (0)