LA PLATA — Ribuan pelajar tingkat menengah, organisasi hak asasi manusia (HAM), dan para penyintas berkumpul di Kota La Plata, Argentina, pada Rabu (16/9) untuk memperingati 50 tahun tragedi La Noche de los Lápices (Malam Pensil). Peristiwa kelam tersebut menandai aksi penculikan sistematis serta penghilangan paksa terhadap para aktivis pelajar oleh rezim diktator militer Argentina pada September 1976 silam.
Aksi unjuk rasa damai dan doa bersama ini digelar guna merawat memori kolektif bangsa atas kejahatan kemanusiaan masa lalu. Tragedi ini bermula ketika kelompok pelajar sekolah menengah memperjuangkan boleto estudiantil atau subsidi tarif tiket bus bagi pelajar, yang kemudian direspons secara brutal oleh aparat keamanan rezim militer.
Kronologi Gelombang Penangkapan Pelajar September 1976
Operasi pembersihan dan represi berdarah ini dilancarkan oleh aparat kepolisian Provinsi Buenos Aires di bawah komando militer Brigadir Jenderal Ramón Camps. Penangkapan terencana terhadap para pelajar berlangsung secara bertahap sepanjang bulan September 1976:
- 4 September 1976: Aparat keamanan memulai operasi rahasia dengan menangkap pelajar bernama Víctor Treviño.
- 8 September 1976: Penangkapan berlanjut dengan penculikan terhadap Gustavo Calotti di kediamannya.
- 15–17 September 1976: Gelombang penggerebekan terbesar terjadi tengah malam hingga subuh. Pasukan bersenjata menculik Claudio de Acha, Horacio Ungaro, Claudia Falcone, Francisco López Muntaner, María Clara Ciocchini, Daniel Racero, Horacio Acha, dan Emilce Moler dari rumah masing-masing.
- 21 September 1976: Aparat menangkap Pablo Díaz, yang saat itu menjadi salah satu penggerak utama demonstrasi tarif angkutan umum pelajar.
"Mereka membawa kami dalam kegelapan hanya karena kami menuntut hak dasar pendidikan dan bersuara kritis terhadap ketidakadilan," kenang salah seorang aktivis HAM di La Plata.
Enam Pelajar Belum Ditemukan dan Luka Sejarah yang Tersisa
Dari sepuluh remaja yang diculik dalam rangkaian operasi pembungkaman tersebut, enam korban masih dinyatakan hilang hingga hari ini. Mereka adalah Claudia Falcone, Francisco López Muntaner, Horacio Ungaro, María Clara Ciocchini, Daniel Racero, dan Claudio de Acha. Jasad mereka tidak pernah diserahkan kepada keluarga, sementara para pelaku menyembunyikan jejak pembantaian di pusat-pusat penahanan klandestin.
Hanya empat orang yang berhasil selamat dari siksaan kamp konsentrasi rahasia tersebut, salah satunya adalah Pablo Díaz (kini berusia 67 tahun). Kesaksian para penyintas di persidangan pasca-diktatur menjadi fondasi penting dalam membongkar kejahatan negara serta menghukum para petinggi militer yang terlibat pelanggaran HAM berat.
Peringatan setengah abad La Noche de los Lápices menegaskan kembali komitmen generasi muda Argentina terhadap prinsip demokrasi. Demonstran membawa poster wajah para korban sembari menyuarakan tuntutan agar impunitas dihapuskan sepenuhnya dan sejarah kelam tersebut tidak terulang kembali di masa depan.
Comments (0)