AREA PERAIRAN— Pria Hilang Diterkam Buaya, Rencana Nikah Tiga Bulan Sirna

Detik-detik terakhir sebelum serangan maut itu terjadi begitu cepat. Ipan (28), seorang pemuda asal Bandung yang baru tiga pekan merantau, tak pernah menya

Jul 09, 2026 - 07:33
0 0
AREA PERAIRAN— Pria Hilang Diterkam Buaya, Rencana Nikah Tiga Bulan Sirna

Detik-detik terakhir sebelum serangan maut itu terjadi begitu cepat. Ipan (28), seorang pemuda asal Bandung yang baru tiga pekan merantau, tak pernah menyangka bahwa langkahnya menuju tepi sungai di kawasan perairan Kalimantan itu akan menjadi perjalanan terakhir dalam hidupnya. Dentuman air yang memecah sunyi disusul raungan pilu menjadi saksi bisu bagaimana reptil raksasa itu menyeret pemuda malang tersebut ke dasar sungai yang keruh. Hingga berita ini diturunkan, tim SAR masih melakukan pencarian intensif dengan menyisir radius lima kilometer dari titik serangan.

Pindah Demi Mimpi, Berakhir Petaka

Bukan warga lokal, Ipan adalah sosok pendatang yang baru saja menjejakkan kaki di tanah rantau. Ia meninggalkan Bandung dengan segudang mimpi yang dibungkus dalam satu koper usang miliknya. Dia ingin mengubah nasib, menabung cukup untuk kehidupan baru yang sudah ia rencanakan bersama sang kekasih. Tak sampai sebulan bekerja sebagai buruh di perusahaan kayu setempat, hidupnya justru direnggut oleh predator paling ditakuti di perairan tropis. Barang-barang pribadinya—sebuah dompet lusuh, ponsel, dan sepatu butut—masih tersimpan rapi di barak pekerja, menunggu pemiliknya yang tak akan pernah kembali.

Cincin yang Tak Sempat Tersemat

Fakta paling memilukan dari tragedi ini terungkap saat keluarga dihubungi melalui sambungan telepon yang bergetar. Ipan sudah bertunangan. Upacara sederhana di Bandung telah mengikat janji suci antara dirinya dan sang pujaan hati. Undangan pernikahan bahkan sudah dicetak, tersebar ke sanak saudara. Tiga bulan lagi—itulah hitungan mundur yang terus ia bisikkan pada rekan-rekannya di tempat kerja. Kini, hitungan itu berubah menjadi masa berkabung.

"Dia selalu cerita soal calon istrinya. Setiap malam sebelum tidur, dia tunjukkan fotonya. Katanya, ini kerja keras terakhir sebelum menetap di Bandung," ujar Ari, rekan satu barak Ipan, menahan isak.

Di sudut kamar kos yang kini kosong, masih terselip sebuah kotak kecil berisi cincin perak sederhana. Cincin yang rencananya akan ia bawa pulang tiga bulan mendatang. Cincin itu kini menjadi artefak sunyi dari sebuah mimpi yang terputus di tengah jalan.

Buaya Purba di Balik Serangan

Berdasarkan keterangan saksi mata, buaya yang menyerang Ipan diperkirakan berukuran lebih dari empat meter. Spesies buaya muara (Crocodylus porosus) ini dikenal sebagai predator puncak yang sangat teritorial. Lokasi serangan merupakan area yang sebenarnya sudah dipasangi papan peringatan, namun minim penerangan dan pagar pengaman. Ironisnya, Ipan turun ke tepian untuk mengambil air, sebuah rutinitas yang dilakoni seluruh pekerja di sana setiap hari tanpa insiden berarti—sampai kemarin sore.

Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa area tersebut merupakan habitat alami buaya muara yang populasinya meningkat seiring larangan perburuan. Namun, konflik antara manusia dan satwa liar justru melonjak karena alih fungsi lahan yang kian masif. Dalam enam bulan terakhir, ini merupakan serangan fatal ketiga di wilayah yang sama.

Banjir Duka dari Tanah Pasundan

Keluarga di Bandung meminta jenazah Ipan segera ditemukan dan dipulangkan. Sang ibu, yang enggan disebut namanya, hanya bisa menangis tersedu-sedu saat video call dengan pihak perusahaan.

"Dia pamit cari duit buat modal nikah. Saya udah masak rendang buat syukuran tunangan kemarin. Sekarang rendangnya basi, anaknya hilang," lirih sang ibu, suaranya nyaris tak terdengar.

Pihak perusahaan berjanji menanggung seluruh biaya evakuasi dan pemulangan, namun tak ada rupiah yang mampu mengganti nyawa dan mimpi yang telah direnggut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User