Anak Muda GKI Tanam Seribu Pohon di Sorong, Jaga Alam Papua

SORONG — Ribuan anak muda Gereja Kristen Injili (GKI) se-Tanah Papua menutup Temu Raya ke-V Persekutuan Anggota Muda (PAM) dengan aksi yang menyentuh bumi

Jul 19, 2026 - 09:35
0 0
Anak Muda GKI Tanam Seribu Pohon di Sorong, Jaga Alam Papua

SORONG — Ribuan anak muda Gereja Kristen Injili (GKI) se-Tanah Papua menutup Temu Raya ke-V Persekutuan Anggota Muda (PAM) dengan aksi yang menyentuh bumi secara langsung. Pada Rabu (15/7/2026), di kawasan klasis Malamoi, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, sekitar seribu bibit pohon ditanam di komplek SMK YPK Bethel Aimas sebagai simbol komitmen merawat ciptaan Tuhan.

Kegiatan penutupan yang berlangsung khidmat ini bukan sekadar ritual seremonial biasa. Lebih dari itu, aksi penghijauan menjadi pernyataan iman kolektif bahwa Tanah Papua, dengan segala kekayaan alamnya, bukanlah tanah kosong yang bisa dieksploitasi seenaknya. Tangan-tangan muda gereja justru menggenggam cangkul, menggali lubang, menaruh bibit, lalu menyiramnya dengan air—sebuah pelayanan yang melampaui kata-kata.

Tanah Papua Bukan Tanah Kosong

Kepala Biro Pemuda dan Remaja (PAM) Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Eddyson Sekenyap, menegaskan bahwa setiap bibit yang ditanam membawa pesan mendalam bagi generasi muda gereja. Baginya, menjaga hutan, mata air, dan tanah adalah bentuk kesaksian hidup sebagai orang percaya yang tidak bisa ditunda lagi.

"Terima kasih. Dalam rangka penutupan Temu Raya PAM GKI se-Tanah Papua ditandai dengan penanaman seribu pohon di komplek SMK YPK Bethel Aimas, tanah Malamoi. Ini sebagai simbol bahwa Tanah Papua bukan tanah kosong. Alam jaga ko, ko jaga Tanah Papua. Kiranya Tuhan memberkati," ujar Pdt. Eddyson saat menutup kegiatan.

Pernyataan "alam jaga ko, ko jaga Tanah Papua" menjadi mantra yang menggaung di lokasi tanam. Ungkapan dalam bahasa lokal itu menegaskan relasi timbal-balik antara manusia dan alam. Alam telah menjaga manusia, maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk menjaga alam sebagai balasan atas kebaikan bumi yang telah menopang kehidupan selama ini.

Iman yang Diwujudkan, Bukan Sekadar Diucapkan

Pdt. Eddyson Sekenyap menekankan bahwa keimanan tidak boleh berhenti pada tataran kata-kata. Iman sejati, menurutnya, harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar. Menanam pohon adalah salah satu cara paling sederhana namun penuh makna.

"Iman tidak cukup hanya diucapkan. Iman harus diwujudkan dalam tindakan. Menanam pohon adalah salah satu bentuk kasih kepada Tuhan melalui kasih kepada ciptaan-Nya," tegas Pdt. Eddyson dengan nada penuh keyakinan.

Filosofi ini bukan hal baru dalam tradisi teologi Kristen, namun penerapannya secara massal oleh ribuan pemuda gereja di Tanah Papua menjadi pemandangan yang jarang terjadi. Aksi kolektif ini menunjukkan bahwa gereja tidak hanya mengurus kehidupan rohani jemaatnya, melainkan juga mengambil peran konkret dalam isu ekologis yang semakin mendesak di era perubahan iklim.

Pesan untuk Generasi Muda Papua

Salah satu misi utama Temu Raya ke-V PAM GKI adalah mempersiapkan kader-kader gereja muda yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan lingkungan hidup. Papua, sebagai paru-paru dunia dengan hutan hujan tropis terluas di kawasan Pasifik, menghadapi ancaman deforestasi, pertambangan ilegal, dan ekspansi perkebunan yang tak terkendali dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami ingin orang muda GKI pulang ke daerahnya masing-masing dengan kesadaran bahwa merawat hutan, menjaga mata air, melindungi tanah, dan memelihara lingkungan adalah bagian dari kesaksian hidup sebagai orang percaya," tutur Pdt. Eddyson menambahkan.

Kesadaran ini, lanjutnya, harus tumbuh bukan karena tekanan eksternal atau tren global semata, melainkan dari panggilan iman yang sudah melekat dalam diri setiap orang Kristen. Ketika keduanya bertemu, maka gerakan merawat bumi akan berlangsung secara organik, konsisten, dan berkelanjutan lintas generasi.

Sekolah sebagai Basis Konservasi

Pemilihan lokasi di komplek SMK YPK Bethel Aimas bukan tanpa alasan. Sekolah menengah kejuruan milik Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) ini menjadi titik strategis karena berada di kawasan pendidikan. Bibit pohon yang ditanam diharapkan kelak menjadi ruang hijau yang dinikmati oleh siswa-siswi, sekaligus menjadi media pembelajaran tentang pentingnya konservasi alam.

Dalam tindakan nyata, gereja menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya urusan lembaga swadaya masyarakat, aktivis lingkungan, atau pemerintah semata. Rumah ibadah dan komunitas keagamaan memiliki peran strategis sebagai basis edukasi perubahan perilaku ekologis di tingkat grass root, menjangkau keluarga dan tetangga di sekitar jemaat.

Harapan untuk Bumi Tanah Papua

Dengan semakin meningkatnya ancaman terhadap hutan dan alam Papua dari berbagai pihak, gerakan yang diinisiasi oleh PAM GKI ini diharapkan menjadi pemicu bagi komunitas keagamaan lain untuk melakukan hal serupa. Ketika gereja-gereja, masjid, pura, dan vihara bersuara dan bertindak untuk bumi, maka pesan konservasi akan menjangkau lebih banyak kalangan dengan cara yang lebih humanis dan mengakar.

Seribu bibit pohon yang ditanam hari itu bukan angka akhir. Justru, ia adalah titik awal dari sebuah gerakan panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan kolaborasi lintas generasi. Pohon yang ditanam hari ini akan tumbuh selama puluhan tahun ke depan—menjadi warisan hidup bagi anak cucu, sekaligus menjadi bukti bahwa pernah ada generasi muda gereja yang peduli pada bumi Tanah Papua secara tulus.

Pdt. Eddyson menutup pernyataannya dengan optimisme sederhana namun menggetarkan: bahwa dari tanah Malamoi, tumbuh bukan hanya pohon, tetapi juga harapan baru bagi keberlanjutan alam dan iman yang menyatu dalam satu napas kehidupan.

[SOCIAL_TWEET]: Anak muda GKI se-Tanah Papua menanam seribu bibit pohon di Sorong sebagai simbol iman dan kepedulian terhadap alam Papua. 🌱✝️ #GKIPapua #LingkunganHidup #TanamPohon [SOCIAL_TG]: 🌱 **SERIBU POHON UNTUK TANAH PAPUA** Ribuan pemuda GKI se-Tanah Papua menutup Temu Raya ke-V PAM di Sorong dengan aksi tanam pohon. Lokasi: SMK YPK Bethel Aimas, klasis Malamoi, Kabupaten Sorong. "Iman harus diwujudkan dalam tindakan. Menanam pohon adalah bentuk kasih kepada Tuhan melalui kasih kepada ciptaan-Nya," tegas Pdt. Eddyson Sekenyap. #GKIPapua #KonservasiAlam

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User