Anak Muda Cilegon Belajar Keadilan Energi dari Pulau Sangiang

CILEGON — Pulau Sangiang yang eksotis berubah menjadi ruang kelas alternatif bagi puluhan orang muda Cilegon. Di tengah keindahan laut dan lebatnya hutan t

Jul 11, 2026 - 12:45
0 0
Anak Muda Cilegon Belajar Keadilan Energi dari Pulau Sangiang

CILEGON — Pulau Sangiang yang eksotis berubah menjadi ruang kelas alternatif bagi puluhan orang muda Cilegon. Di tengah keindahan laut dan lebatnya hutan tropis, mereka justru disuguhi paradoks pahit: cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang gagah berdiri di seberang lautan, namun listrik belum sepenuhnya menjadi milik warga di pulau tersebut.

Belajar dari Ketimpangan Visual

Pulau yang secara administratif masuk wilayah Banten ini sudah lebih dari tiga dekade dibelit konflik agraria. Dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas hidup masyarakat lokal. Minimnya kepastian hukum atas ruang hidup menyebabkan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan seolah lenyap perlahan. Aliran listrik—yang secara kasat mata diproduksi masif oleh PLTU di hadapan mereka—justru menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.

“Ironis sekali, kami melihat listrik diproduksi besar-besaran, tapi saudara-saudara kita di Sangiang justru hidup dalam gelap. Inilah wajah asli krisis keadilan energi di Banten,” ujar salah satu peserta yang enggan disebutkan namanya.

Membedah Konflik Agraria dan Iklim

Pelatihan bertema transisi energi ini mengajak peserta untuk tidak sekadar melihat isu lingkungan sebagai tren global, melainkan sebagai realitas sosial yang menuntut keadilan. Mereka diajak memetakan:

  • Sejarah Konflik: Bagaimana pengelolaan lahan di Pulau Sangiang tak kunjung memberikan kepastian hak atas tanah bagi penghuni asli.
  • Kontras Energi: Visualisasi langsung ketimpangan antara produksi energi fosil raksasa di Suralaya dengan kehidupan warga yang masih menggunakan penerangan terbatas.
  • Ancaman Iklim: Bagaimana ketergantungan pada energi kotor memicu krisis iklim yang justru mengancam eksistensi pulau-pulau kecil seperti Sangiang.
“Kami tidak hanya ingin jadi penonton. Melihat langsung kondisi ini membuka mata bahwa krisis iklim dan ketidakadilan agraria itu nyata. Orang muda harus mulai bergerak,” ungkap koordinator kegiatan.

Refleksi untuk Masa Depan Banten

Kegiatan di Pulau Sangiang menyisakan refleksi mendalam. Banten, sebagai salah satu lumbung energi nasional, ternyata masih menyimpan luka sosial di akar rumputnya. Transisi energi berkeadilan tidak hanya soal mengganti sumber daya fosil dengan energi terbarukan, melainkan juga memastikan bahwa mereka yang paling dekat dengan sumber energi mendapatkan haknya terlebih dahulu.

[SOCIAL_TWEET]: Di balik cerobong PLTU Suralaya, ada Pulau Sangiang yang masih gelap. Pemuda Cilegon belajar langsung paradoks keadilan energi & krisis iklim. Listrik diproduksi besar-besaran, tapi warga pulau terdekat belum menikmatinya. Ironi agraria harus segera diselesaikan. #KeadilanEnergi #PulauSangiang #AnakMudaCilegon[SOCIAL_TG]: ⚡️ *Ironi Energi di Selat Sunda!* 🌊 Di sebelah barat Suralaya, listrik melimpah. Di sebelahnya, warga Sangiang masih berjuang untuk penerangan. Anak muda Cilegon datang untuk membaca luka agraria dan krisis iklim secara langsung. Perjuangan melawan ketidakadilan energi dimulai dari sini! 🌍

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User