Aksi membagikan ayam hidup serta telur secara gratis yang ramai terjadi dalam

Aksi Unik sebagai Bentuk Keprihatinan Mendalam Ratusan hingga ribuan ekor ayam broiler dan telur ayam negeri dibagikan secara cuma-cuma kepada warga sekit

Aug 14, 2026 - 05:01
0 0
Aksi membagikan ayam hidup serta telur secara gratis yang ramai terjadi dalam

Aksi Unik sebagai Bentuk Keprihatinan Mendalam

Ratusan hingga ribuan ekor ayam broiler dan telur ayam negeri dibagikan secara cuma-cuma kepada warga sekitar kandang maupun di titik-titik strategis pasar tradisional. Spanduk yang mereka bawa jelas menunjukkan bahwa ini bukanlah sedekah. Tulisan “Kami Bangkrut, Bukan Beramal” dan “Pakan Mahal, Peternak Mati” terpampang nyata di tengah kerumunan warga yang antre mengambil ayam dan telur gratis. Para peternak sengaja melakukan aksi tersebut untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat luas bahwa industri peternakan rakyat sedang berada di ambang kehancuran akibat beban biaya produksi yang tidak lagi masuk akal.

Aksi serupa juga dilaporkan terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Utara. Di beberapa lokasi, peternak bahkan membawa puluhan karung pakan ternak yang harganya telah melonjak drastis, lalu membandingkannya dengan harga jual ayam hidup atau telur di tingkat peternak yang justru terus tertekan. Mereka ingin menunjukkan secara gamblang betapa ketidakadilan struktural sedang mereka rasakan setiap hari.

Harga Pakan Meroket, Usaha Peternak Tercekik

Kenaikan harga pakan ternak dalam tiga bulan terakhir dilaporkan telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan di pasar, harga ransum untuk ayam broiler naik sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya harga jagung, bungkil kedelai, dan bahan baku pakan lainnya yang sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor maupun distribusi domestik yang tidak merata. Sementara itu, harga jual ayam hidup di tingkat peternak justru stagnan bahkan cenderung turun akibat lonjakan pasokan yang tidak diimbangi oleh daya beli masyarakat.

"Setiap kali pakan naik seribu rupiah per kilogram, kami semakin tercekik. Saat ini, biaya pakan untuk memproduksi satu kilogram daging ayam sudah mendekati atau bahkan melebihi harga jual ayam hidup di tingkat peternak. Jual ayam Rp25 ribu per kilogram, tapi biaya pakan dan obat-obatan sudah menyentuh Rp28 ribu. Ini bukan usaha lagi, ini bunuh diri perlahan," ujar Khoirul Anam, perwakilan peternak dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Situasi serupa juga diungkapkan oleh peternak di Jawa Barat yang mengaku telah menguras tabungan pribadi demi mempertahankan usahanya. Banyak di antara mereka yang terpaksa menjual aset berupa kendaraan atau lahan untuk menutup kerugian operasional. Jika kondisi ini berlanjut, diprediksi akan terjadi pengurangan populasi ayam secara masif karena peternak tidak sanggup lagi membeli pakan.

Ancaman Krisis Berkepanjangan di Sektor Peternakan

Tekanan pada peternak ayam rakyat tidak hanya berdampak pada pelaku usaha langsung, tetapi juga membawa risiko domino bagi perekonomian pedesaan. Sektor peternakan merupakan salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di perdesaan, mulai dari buruh kandang, pengangkut ternak, pedagang di pasar, hingga industri hilir seperti rumah pemotongan hewan dan pengolahan pangan. Ketika peternak gulung tikar, rantai pasok pangan nasional akan terganggu dan ancaman kenaikan harga daging ayam serta telur di masa depan justru akan semakin nyata.

Pengamat pertanian dan pangan menegaskan bahwa krisis yang dihadapi peternak saat ini bukan lagi masalah sektoral biasa, melainkan masalah struktural yang memerlukan intervensi kebijakan besar-besaran. Para peternak bukannya tidak mau bertahan, namun mereka benar-benar telah kehabisan ruang untuk bernapas dalam persaingan yang tidak adil terhadap korporasi peternakan terintegrasi yang memiliki cadangan modal lebih kuat.

Tuntutan Intervensi Pemerintah Semakin Menggema

Menghadapi situasi yang semakin mencekam, para peternak menuntut pemerintah segera mengambil langkah konkret. Beberapa tuntutan utama yang disuarakan meliputi pemberian subsidi harga pakan secara langsung, penurunan bea masuk bahan baku pakan seperti jagung dan bungkil kedelai, penetapan harga dasar atau floor price untuk daging ayam dan telur, serta restrukturisasi kredit usaha bagi peternak yang mulai terjerat utang. Mereka juga meminta pengawasan ketat terhadap distribusi pakan agar tidak terjadi praktik spekulasi dan pemain tunggal yang mempermainkan harga di pasar.

Pihak Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan diminta untuk segera duduk bersama asosiasi peternak guna mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Para peternak menekankan bahwa tanpa kehadiran negara melalui kebijakan yang tegas dan berpihak, sektor peternakan rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional akan runtuh dalam waktu dekat.

Dengan semakin meluasnya aksi protes di berbagai daerah, tekanan terhadap pemerintah untuk segera menurunkan harga pakan dan menjamin keberlanjutan usaha peternak rakyat semakin meningkat. Para pelaku usaha menegaskan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang cepat dan tegas, sektor peternakan nasional berisiko mengalami krisis berkepanjangan yang tidak hanya mengancam ketahanan pangan, tetapi juga stabilitas ekonomi kerakyatan di pedesaan.