JAKARTA — Air mata Siti Yuliana tumpah ruah. Ibu rumah tangga asal Jakarta Utara itu menangis haru di hadapan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul.
Peristiwa mengharukan itu terjadi dalam kunjungan kerja kedua pejabat negara ke wilayah Jakarta Utara. Siti hadir sebagai salah satu orang tua siswa penerima manfaat program Sekolah Rakyat.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda pemantauan langsung pelaksanaan program prioritas pemerintah di tingkat akar rumput. Teddy dan Gus Ipul ingin memastikan manfaat program benar-benar dirasakan warga.
Dalam kesempatan itu, keduanya berdialog dengan sejumlah keluarga penerima manfaat. Suasana hangat berubah emosional ketika Siti maju dan menyampaikan isi hatinya.
Ia tak sanggup menahan emosi ketika menceritakan perubahan hidup keluarganya. Putrinya kini bisa bersekolah gratis, mendapat tempat tinggal, makan tiga kali sehari, dan seragam lengkap.
"Saya tidak pernah membayangkan anak saya bisa sekolah seperti ini. Semua gratis. Saya cuma bisa berterima kasih," ujar Siti sambil menyeka air mata.
Detik-Detik Penuh Haru
Saksi mata di lokasi menyebut suasana sempat hening. Teddy dan Gus Ipul terlihat mendengarkan dengan saksama setiap kata yang keluar dari mulut Siti.
Gus Ipul kemudian merangkul ibu tersebut. Ia memastikan pemerintah akan terus mengawal pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
"Jangan khawatir, Bu. Anak-anak kita kawal sampai selesai sekolah. Negara hadir," kata Gus Ipul menenangkan Siti.
Teddy Indra Wijaya juga ikut menenangkan. Ia menegaskan Sekolah Rakyat bukan sekadar program seremonial. Menurutnya, ini adalah komitmen negara memutus rantai kemiskinan lewat pendidikan.
Siti bercerita kehidupannya sebelumnya serba pas-pasan. Penghasilan keluarga tidak menentu. Biaya sekolah anak kerap menjadi beban pikiran setiap bulan.
Kini beban itu terangkat. Ia bisa fokus mencari nafkah tanpa cemas memikirkan biaya pendidikan sang anak.
- Siti Yuliana, ibu rumah tangga asal Jakarta Utara
- Menangis haru di hadapan Seskab Teddy Indra Wijaya dan Mensos Gus Ipul
- Anaknya diterima sebagai siswa Sekolah Rakyat
- Sekolah Rakyat: sekolah berasrama gratis bagi anak keluarga prasejahtera
- Seluruh biaya ditanggung negara: makan, seragam, tempat tinggal
Apa Itu Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat merupakan program unggulan pemerintah di bidang pendidikan dan perlindungan sosial. Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan rentan miskin di seluruh Indonesia.
Konsepnya adalah sekolah berasrama penuh. Siswa tinggal di asrama. Seluruh kebutuhan dasar ditanggung negara, mulai dari makan, seragam, buku, hingga fasilitas kesehatan.
Program ini dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Anak-anak dari keluarga prasejahtera diberi akses pendidikan berkualitas setara sekolah unggulan.
Kurikulum di Sekolah Rakyat tidak hanya fokus pada akademik. Siswa juga dibekali keterampilan karakter, kedisiplinan, dan kecakapan hidup.
Fasilitas asrama dibangun dengan standar layak. Ada ruang belajar, kamar tidur, dapur, hingga sarana olahraga.
Kementerian Sosial menjadi garda depan pelaksanaan program ini. Pemerintah menargetkan ratusan titik Sekolah Rakyat berdiri di berbagai daerah.
Bagi keluarga seperti Siti, program ini adalah jalan keluar. Biaya pendidikan yang selama ini menjadi beban berat kini hilang sepenuhnya.
Harapan dari Jakarta Utara
Siti berharap program serupa menjangkau lebih banyak keluarga. Menurutnya, masih banyak tetangganya yang membutuhkan uluran tangan negara.
"Banyak tetangga saya yang anaknya putus sekolah. Semoga mereka juga dapat kesempatan seperti anak saya," tuturnya.
Warga sekitar yang menyaksikan momen itu mengaku ikut terharu. Beberapa dari mereka juga berharap anaknya bisa masuk Sekolah Rakyat.
Komitmen Pemerintah
Pemerintah menegaskan komitmen memperluas jangkauan Sekolah Rakyat. Kuota siswa akan terus ditambah seiring bertambahnya jumlah sekolah.
Teddy menegaskan Presiden terus memantau perkembangan program ini secara berkala. Setiap laporan dari daerah menjadi perhatian serius istana.
Gus Ipul menambahkan, pihaknya membuka kanal pengaduan bagi masyarakat. Warga yang menemukan kendala dalam program ini diminta melapor.
Proses seleksi siswa dilakukan ketat. Prioritas diberikan kepada keluarga penerima manfaat yang tercatat dalam data kemiskinan nasional.
Orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya dapat memantau informasi resmi melalui kanal Kementerian Sosial dan pemerintah daerah setempat.
Momen tangis haru Siti menjadi pengingat. Kebijakan yang tepat sasaran mampu mengubah hidup satu keluarga, bahkan satu generasi.
Bagi Siti Yuliana, tangis hari ini bukan tangis kesedihan. Melainkan tangis kebahagiaan seorang ibu yang akhirnya melihat masa depan anaknya lebih terang.
Comments (0)