Wartawan Malang Raya Bersatu Kecam Presiden Soal Londo Ireng

MALANG — Ratusan jurnalis dari empat organisasi pers turun ke jalan mengecam pernyataan Presiden yang menyebut insan pers sebagai “Londo Ireng.” Aksi damai di Bundaran Tugu Kota Malang, Senin (2...

Jul 27, 2026 - 23:54
0 0
Wartawan Malang Raya Bersatu Kecam Presiden Soal Londo Ireng

MALANG — Ratusan jurnalis dari empat organisasi pers turun ke jalan mengecam pernyataan Presiden yang menyebut insan pers sebagai “Londo Ireng.” Aksi damai di Bundaran Tugu Kota Malang, Senin (27/7/2026), itu menjadi puncak kemarahan setelah ucapan kontroversial tersebut viral dalam sepekan terakhir.

Aksi yang dimulai pukul 09.00 WIB itu diikuti oleh anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang, dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Hormati Profesi Kami, Jurnalis Bukan Londo Ireng.” Massa juga membacakan pernyataan sikap bersama di hadapan lalu lintas yang sempat tersendat.

Pernyataan Sikap Bersama

Koordinator aksi membacakan tiga tuntutan tegas. Pertama, Presiden harus meminta maaf secara terbuka atas istilah “Londo Ireng” yang dinilai merendahkan martabat jurnalis sebagai pilar demokrasi. Kedua, lembaga kepresidenan wajib mengeluarkan klarifikasi resmi bahwa pernyataan tersebut tidak mencerminkan kebijakan negara. Ketiga, negara harus menjamin keselamatan dan kebebasan pers dari intimidasi verbal pejabat tinggi.

“Ini bukan sekadar guyonan politik. Sebutan itu menyamakan kami dengan penjajah asing yang menindas rakyat. Kami adalah pribumi yang bekerja demi keterbukaan informasi,” kata salah satu peserta aksi.

Kronologi Kontroversi

Ucapan “Londo Ireng” pertama kali terlontar saat Presiden memberikan sambutan di sebuah forum ekonomi di Jakarta, Kamis pekan lalu. Dalam video yang beredar luas, Presiden mengomentari pemberitaan media terhadap kebijakan ekspor mineral. Ia menyebut wartawan yang kritis sebagai “Londo Ireng” yang tidak mengerti kebutuhan rakyat kecil. Istilah itu langsung memicu kemarahan komunitas pers nasional.

PWI Pusat dan AJI Indonesia sebelumnya telah mengutuk keras pernyataan tersebut. Namun, aksi di Malang menjadi gelombang pertama protes jalanan yang dilakukan secara kolektif oleh empat organisasi pers sekaligus. “Kami tidak tinggal diam. Ini harga mati,” tegas perwakilan PFI Malang di lokasi.

Dampak Lalu Lintas dan Respons Publik

Aksi damai yang berlangsung hingga pukul 11.30 WIB itu sempat menimbulkan kepadatan arus di sekitar Bundaran Tugu dan Jalan Kahuripan. Petugas kepolisian mengalihkan kendaraan ke rute alternatif. Tidak ada insiden berarti. Sejumlah pengendara terlihat mendukung aksi dengan membunyikan klakson. Seorang saksi mata, Yudi, mengatakan bahwa ia setuju wartawan berhak marah. “Presiden harus ingat, pers itu pilar keempat,” ucapnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons dari pihak Istana maupun juru bicara kepresidenan. Aksi serupa dilaporkan akan digelar di sejumlah kota besar lainnya pekan depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User