BREAKING NEWS, DETIK INI JUGA — Puluhan warga Grogol Selatan baru saja menuntaskan pelatihan pembuatan komposter. Pelatihan ini menjadi langkah nyata mengatasi darurat sampah organik yang kian menggunung di permukiman padat.
Antusiasme Meluap
Pantauan di lokasi, peserta dari tiga RW langsung mempraktikkan perakitan komposter aerob dari ember bekas dan pipa paralon. Instruktur dari Dinas Lingkungan Hidup, dikonfirmasi di sela acara, mengatakan pelatihan ini bagian dari program Jakarta Composting Movement. “Kami target setiap rumah tangga memiliki komposter sendiri,” ujarnya.
Fakta Kunci Pelatihan
- Peserta: 50 warga perwakilan
- Waktu: Sabtu pagi hingga siang
- Lokasi: Aula Kelurahan Grogol Selatan
- Metode: Komposter aerob sederhana
- Bahan: Ember bekas, pipa PVC, keran plastik
- Target: 1 rumah 1 komposter
Sampah organik menyumbang 60 persen dari total 2 ton sampah harian di Grogol Selatan. Dengan komposter, warga bisa mengubah sisa dapur dan daun kering menjadi pupuk kompos dalam tiga pekan.
Teknik Praktis
Pelatihan menekankan metode lapisan: sampah cokelat (daun kering) dan sampah hijau (sisa sayur) disusun bergantian dengan perbandingan 2:1. Sistem aerasi pipa berlubang diterapkan agar tidak berbau. Starter kit berisi mikroorganisme pengurai dibagikan gratis.
Seorang saksi mata melaporkan peserta sangat antusias. “Mudah sekali. Saya langsung bisa buat di rumah. Ini menghemat biaya beli pupuk,” kata Sumarni, warga RT 04, sambil memamerkan komposter rakitannya.
Dampak Lingkungan
Lurah Grogol Selatan, Andi Prasetyo, menegaskan bahwa pelatihan ini bukan seremonial. “Kami akan pantau implementasi di tiap rumah. Bila berhasil, volume sampah ke TPA bisa turun 30 persen dalam enam bulan,” katanya dikonfirmasi.
Selain komposter, warga juga diedukasi memilah sampah anorganik untuk bank sampah. Program ini merupakan kolaborasi kelurahan, karang taruna, dan komunitas lingkungan setempat.
Darurat Sampah di Jakarta
Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan produksi sampah harian mencapai 7.500 ton, lebih dari separuhnya organik. TPA Bantargebang terus mengalami kelebihan kapasitas. Pelatihan komposter seperti di Grogol Selatan dinilai strategis memutus rantai sampah dari sumbernya.
Pengamat lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Mulyani, mengatakan pengelolaan sampah berbasis komunitas adalah kunci. “Komposter rumah tangga mengurangi emisi metana dari TPA sekaligus menghasilkan pupuk gratis,” ujarnya kepada Detik Ini Juga.
Keberlanjutan Program
Pemerintah kota berencana menggelar pelatihan serupa di 100 kelurahan sepanjang tahun ini. Anggaran telah dialokasikan untuk subsidi komposter dan pelatihan. Sementara itu, warga Grogol Selatan yang lulus pelatihan akan menjadi kader lingkungan di wilayahnya.
Kaitan dengan Urban Farming
Pupuk kompos produksi rumah tangga akan dimanfaatkan untuk kebun vertikal yang telah dirintis di beberapa RT. Warga bisa menanam sayuran sendiri sehingga mendukung ketahanan pangan tingkat keluarga. Program ini diintegrasikan dengan kampung iklim setempat.
KONFIRMASI: Hingga berita ini diturunkan, para peserta telah membentuk komunitas Whatsapp untuk berbagi kemajuan pengomposan. Laporan pertama diharapkan dalam dua pekan ke depan.
Comments (0)