JAKARTA — Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memperkuat strategi promotif dan preventif dalam menjaga kesehatan masyarakat sejak usia dini. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengusulkan inisiatif baru dengan memberdayakan para siswa yang bertugas di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) atau dokter kecil untuk dilatih menjadi "detektif gigi berlubang" di lingkungan sekolah masing-masing.
Langkah inovatif ini bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin permasalahan karies dan gigi berlubang pada anak-anak. Pasalnya, gangguan kesehatan gigi dan mulut hingga kini masih menjadi salah satu masalah kesehatan paling umum yang dialami anak usia sekolah di Indonesia, yang kerap diabaikan hingga menimbulkan rasa sakit parah dan mengganggu proses belajar.
"Anak-anak yang bertugas di UKS bisa kita latih secara sederhana untuk melihat kondisi gigi teman-temannya. Mereka menjadi detektif kecil yang mengenali tanda-tanda awal gigi berlubang sebelum kondisinya semakin parah," ujar Wamenkes Dante Saksono Harbuwono.
Urgensi Deteksi Dini Masalah Gigi pada Anak Sekolah
Kesehatan gigi dan mulut memiliki korelasi erat dengan kualitas tumbuh kembang anak. Gigi berlubang yang tidak segera ditangani dapat memicu infeksi lanjutan, menurunkan nafsu makan, hingga mengakibatkan malnutrisi serta anemia pada peserta didik. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), proporsi masalah gigi berlubang pada anak usia dini masih berada pada angka yang sangat tinggi, yaitu mencapai lebih dari 80 persen.
Wamenkes menegaskan bahwa pendekatan sebaya (peer-to-peer) jauh lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran hidup bersih dan sehat. Siswa cenderung lebih terbuka dan tidak merasa takut ketika diperiksa atau diingatkan oleh teman sebayanya dibandingkan saat berhadapan langsung dengan tenaga medis.
Tahapan Implementasi Program Detektif Gigi UKS
Untuk merealisasikan inisiatif tersebut, Kemenkes merancang skema kolaborasi lintas sektor antara sekolah dasar dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat:
- Pelatihan Kader Cilik: Petugas medis dan dokter gigi dari Puskesmas memberikan edukasi visual serta pelatihan dasar kepada siswa kader UKS mengenai cara mengenali plak, karang gigi, dan karies.
- Skrining Berkala di Kelas: Para kader UKS melakukan pemeriksaan kebersihan gigi rutin terhadap teman-teman sekelasnya secara berkala, minimal satu bulan sekali.
- Pencatatan dan Pelaporan: Temuan kondisi gigi berlubang dicatat dalam buku pemantauan kesehatan sekolah untuk kemudian diserahkan kepada guru pembina UKS.
- Rujukan ke Puskesmas: Siswa yang teridentifikasi memiliki masalah gigi diarahkan untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan dan penambalan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Penguatan Transformasi Layanan Primer di Sekolah
Program pemberdayaan kader UKS ini merupakan bagian integral dari agenda Transformasi Layanan Kesehatan Primer yang digencarkan Kemenkes. Selain pemeriksaan mandiri, program ini juga diiringi dengan pembiasaan sikat gigi bersama dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride di sekolah.
Dengan hadirnya kader UKS yang aktif mendeteksi kerusakan gigi sejak stadium awal, pemerintah optimistis angka karies anak Indonesia dapat ditekan drastis, sehingga generasi penerus bangsa dapat belajar secara optimal tanpa kendala sakit gigi.
Comments (0)