Ubed Akhirnya Debut di Japan Open 2026, Sebut Rezeki Tertunda

JAKARTA — Moh. Zaki Ubaidillah tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Tunggal putra berusia 18 tahun itu akhirnya mendapat lampu hijau mentas di Japan Ope

Jul 09, 2026 - 06:54
0 0
Ubed Akhirnya Debut di Japan Open 2026, Sebut Rezeki Tertunda

JAKARTA — Moh. Zaki Ubaidillah tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Tunggal putra berusia 18 tahun itu akhirnya mendapat lampu hijau mentas di Japan Open 2026, turnamen bergengsi level BWF World Tour Super 750. Bagi Ubed, ini bukan sekadar undangan—ini adalah "rezeki yang sempat tertunda", peluang emas yang nyaris lolos dari genggaman.

Keberuntungan datang di menit-menit akhir. Ubed semula cuma berstatus cadangan kedua. Dua nama besar—Victor Lai dan H.S. Prannoy—mundur dari daftar peserta. Satu pintu terbuka, satu mimpi jadi nyata. Tanpa drama, tanpa babak kualifikasi remuk, pemain muda kebanggaan Pelatnas PBSI ini langsung melenggang ke babak utama 32 besar.

Dari Cadangan ke Panggung Super 750: Momentum yang Tak Boleh Disia-siakan

Japan Open bukan panggung sembarangan. Turnamen Super 750 menawarkan 11.000 Poin Ranking Dunia untuk sang juara—lebih dari dua kali lipat poin juara Super 300. Buat pemain bertengger di papan bawah seperti Ubed, setiap laga adalah lompatan. "Turnamen level ini adalah akselerator karier. Kalau Ubed bisa curi 1-2 kemenangan, rankingnya bakal meroket dalam sekejap," ujar seorang pengamat bulutangkis nasional.

Level TurnamenPoin JuaraPoin Runner-upPoin 32 Besar
Super 100012.00010.2003.000
Super 75011.0009.3502.660
Super 5009.2007.8002.220

Ubed sadar betul daya ledaknya. Dengan ranking saat ini yang masih di luar zona aman undian langsung, Japan Open bisa jadi batu loncatan paling brutal dalam karier juniornya. Kunci: langsung gas sejak game pertama.

Tantangan Ranking: Mengapa Jarang Muncul di Turnamen Besar Masih Jadi Realita

Jalan ke Super 750 dan Super 1000 masih terjal buat pemain peringkat rendah. Ubed contoh nyata. Ia mesti merelakan waktu menunggu daftar utama, berharap pemain mundur, dan menerima kenyataan bahwa 50 besar dunia adalah tiket masuk yang belum ia miliki. "Ini realita pahit tapi mendidik. Tanpa peringkat aman, karier pemain muda terhambat oleh sistem, bukan kemampuan," tegas pelatih kepala sektor tunggal. Tanpa perombakan partisipasi reguler di level atas, momen seperti Japan Open hanya jadi rezeki nomplok—bukan strategi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User