Tyler Cashman – Pegolf Tunanetra Tampil di U.S. Adaptive Open Bersama Sang Kakek

ROCKVILLE, Maryland — Suasana santai menyelimuti driving range Woodmont Country Club jelang hari pertama U.S. Adaptive Open. Tyler Cashman, pegolf tunanetr

Jul 09, 2026 - 00:47
0 0

ROCKVILLE, Maryland — Suasana santai menyelimuti driving range Woodmont Country Club jelang hari pertama U.S. Adaptive Open. Tyler Cashman, pegolf tunanetra berusia 23 tahun, justru melempar canda segar yang langsung mencuri perhatian: ia mengaku baru saja “memecat” caddie-nya karena dianggap salah membaca jarak. Padahal, caddie itu tak lain adalah sang kakek, Robert Cashman, yang selama lima tahun terakhir menjadi mata sekaligus pemandu setianya di setiap hole.

Dari Lelucon ke Lapangan: Duet Kakek-Cucu yang Tak Tergantikan

Momen jenaka itu terjadi dalam sesi latihan resmi, hanya 24 jam sebelum Cashman menjalani putaran pertama di ajang adaptif paling bergengsi di Amerika Serikat. Dengan tongkat putih terlipat di saku, ia berdiri di antara stik golf dan tertawa kecil, sementara sang kakek berpura-pura cemberut. Bagi pasangan ini, humor adalah perekat yang membuat setiap tantangan terasa lebih ringan.

“Saya bilang ke Kakek, ’Anda dipecat!’ karena dia memberi tahu jaraknya 150 yard, padahal sebenarnya 140. Tapi sepuluh detik kemudian saya tarik lagi omongan itu. Siapa lagi yang bisa menggambarkan green dengan sedetail dia?” ujar Tyler, disambut tawa hadirin.

Tyler kehilangan penglihatannya secara total pada usia delapan tahun akibat retinoblastoma bilateral, kanker mata langka yang memaksanya menjalani operasi pengangkatan kedua bola mata. Namun, semangatnya tak ikut padam. Diperkenalkan dengan golf adaptif pada usia 15 tahun oleh sang kakek, ia langsung jatuh cinta pada sensasi memukul bola dan menebak arah angin dari suara dedaunan.

Golf Tanpa Melihat: Mengandalkan Telinga, Sentuhan, dan Kepercayaan

Berbeda dari pegolf pada umumnya, Tyler sepenuhnya bergantung pada deskripsi verbal caddie-nya. Robert Cashman bertugas menyampaikan segala detail: kontur lapangan, posisi bunker, arah angin, hingga kemiringan green. Sang cucu lalu membangun bayangan tiga dimensi di kepalanya sebelum mengeksekusi pukulan.

Poin-poin kunci persiapan duet Cashman di U.S. Adaptive Open tahun ini:

  • Komunikasi milimeter: Kakek Robert menggunakan kode-kode spesifik — misalnya, “jam 10, setengah kekuatan” — untuk menunjukkan arah dan tenaga yang dibutuhkan.
  • Jam terbang tinggi: Pasangan ini telah berpartisipasi di lebih dari 30 turnamen amatir dan tiga edisi U.S. Adaptive Open sebelumnya.
  • Modal kejutan: Tyler baru saja mengganti set stiknya dengan model graphite yang lebih ringan, disesuaikan untuk pegolf non-visual.
  • Target: sepuluh besar. Tahun lalu ia finis di posisi ke-12; tahun ini ia optimistis menembus papan atas.

Di Woodmont, Cashman bukan sekadar peserta — ia adalah salah satu wajah inspiratif turnamen yang diinisiasi USGA ini. U.S. Adaptive Open, pertama digelar pada 2022, mempertemukan pegolf dari delapan kategori disabilitas: dari amputasi anggota gerak, cerebral palsy, hingga intellectual disability. Kategori untuk pegolf tunanetra (vision impaired) sendiri memiliki regulasi ketat, termasuk keharusan menggunakan caddie yang tidak boleh membantu dalam posisi putting.

“Banyak orang bertanya, ‘Bagaimana cara main golf kalau tidak bisa melihat?’ Saya jawab, ‘Cobalah percaya pada orang di sampingmu.’ Dalam kasus saya, orang itu adalah kakek,” kata Tyler, meraih bahu Robert yang berdiri di sampingnya.

Kehadiran sang kakek bukan hanya soal teknis. Robert Cashman, 72 tahun, veteran Perang Vietnam yang juga seorang pemain golf amatir, tahu persis bagaimana mengelola emosi cucunya. Di hole-hole sulit, ia sering menyelipkan cerita-cerita masa mudanya untuk menenangkan Tyler. Sebaliknya, di momen-momen penuh tekanan, ia hanya berbisik, “Tenang, kita cuma main-main.”

Duo ini memulai putaran pertama pada Kamis pagi waktu setempat. Meskipun hasil akhir belum ditentukan, satu hal sudah pasti: Tyler Cashman tidak sekadar “bersinar” — ia membakar semangat bahwa olahraga tak mengenal batas, apalagi ketika ada cinta seorang kakek yang memandu setiap ayunan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User