Surya Subagja Putra Amati Pergeseran Digital Lewat Penjualan Gorengan
JAKARTA — Di balik dagangan gorengan yang mengepul panas, seorang pedagang kaki lima menangkap sinyal perubahan besar dalam perilaku masyarakat Indonesia.
JAKARTA — Di balik dagangan gorengan yang mengepul panas, seorang pedagang kaki lima menangkap sinyal perubahan besar dalam perilaku masyarakat Indonesia. Surya Subagja Putra, yang akrab disapa Bang iSur, bukan sekadar penjual tahu isi dan tempe mendoan — ia adalah pengamat digital yang jeli membaca pergeseran zaman dari atas gerobaknya.
Sambil melayani pembeli, Bang iSur yang juga seorang penggemar gim ini menyaksikan langsung bagaimana kebiasaan masyarakat bertransformasi dari interaksi fisik menuju keterlibatan digital yang semakin dalam.
Dari Lapak Gorengan ke Layar Ponsel
Fenomena yang diamati Bang iSur bukan sekadar anekdot. Pelanggannya — mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga — kini lebih sering menunduk ke ponsel saat menunggu pesanan. Percakapan tatap muka berkurang, digantikan notifikasi dan scroll tanpa henti.
"Dulu orang ngobrol soal cuaca atau gosip komplek sambil nunggu gorengan mateng. Sekarang mata mereka lengket ke layar. Saya lihat sendiri perubahannya, bertahap tapi pasti,"
Pengamatan Bang iSur selaras dengan data terkini yang menunjukkan penetrasi internet Indonesia menembus angka 79% pada 2025, dengan rata-rata waktu layar harian mencapai 6,5 jam per pengguna.
Poin Kunci Pengamatan Bang iSur
- Transaksi non-tunai melonjak tajam — bahkan untuk pembelian gorengan seharga Rp2.000, pelanggan kini otomatis mengeluarkan ponsel untuk scan QRIS
- Interaksi sosial tergerus — antrean yang dulu riuh dengan obrolan kini senyap, semua sibuk dengan perangkat masing-masing
- Kecanduan gim kasual meningkat — Bang iSur mengenali pola bermain gim mobile di kalangan pelanggannya yang lintas usia dan profesi
- Konten singkat mendominasi — video pendek dan reel menjadi "teman" baru saat menunggu, menggantikan bacaan cetak atau obrolan ringan
Keunikan Bang iSur terletak pada perspektif gandanya: sebagai pelaku ekonomi tradisional yang bertahan di tengah gempuran digital, sekaligus sebagai pengamat yang memahami kedua dunia tersebut berkat hobinya bermain gim.
Ketika Gorengan Bertemu Algoritma
Ironisnya, justru dari kebiasaan digital pelanggannya ini Bang iSur menemukan celah bertahan. Ia mulai memanfaatkan platform pesan instan untuk menerima pre-order, mengurangi waktu tunggu, dan menjaga omzet di tengah perubahan perilaku konsumen. Adaptasi kecil yang lahir dari pengamatan tajam seorang penjual gorengan yang melek digital.
Disadur dari laporan khusus Beritatercepat — liputan langsung dari lapak gorengan Bang iSur.
Comments (0)