Sep 19, 2026
Nasional

Sungai Surut Drastis, Ribuan Ikan Sapu-Sapu Dipanen Warga

Pemandangan luar biasa sekaligus mencengangkan tersaji di bantaran sungai yang mengalami penyusutan debit air secara ekstrem. Hamparan ribuan ekor ikan sap

Sungai Surut Drastis, Ribuan Ikan Sapu-Sapu Dipanen Warga

Pemandangan luar biasa sekaligus mencengangkan tersaji di bantaran sungai yang mengalami penyusutan debit air secara ekstrem. Hamparan ribuan ekor ikan sapu-sapu mendadak tampak jelas ke permukaan, menggeliat di antara lumpur dangkal dan sisa genangan air. Fenomena langka ini sontak memicu kehebohan di kalangan masyarakat sekitar yang langsung berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk menangkap ikan-ikan tersebut.

Kondisi kemarau dan penurunan volume air membuat ekosistem sungai berubah drastis. Spesies ikan yang dikenal memiliki daya tahan tubuh sangat tinggi ini terperangkap di ceruk-ceruk sungai yang mengering. Keberadaannya yang menumpuk bagaikan karpet hitam bertekstur keras di atas endapan lumpur menjadi tontonan sekaligus peluang ekonomi dadakan bagi warga.

Berkah Sesaat di Tengah Surutnya Air

Tanpa membuang waktu, puluhan warga dari berbagai usia turun langsung ke area sungai berbekal ember, karung goni, hingga jaring sederhana. Mereka dengan leluasa menyerok ikan berduri keras ini tanpa perlu bersusah payah memancing. Dalam hitungan jam, puluhan karung berisi ratusan kilogram ikan sapu-sapu berhasil dikumpulkan untuk kemudian dijual kepada para pengepul bahan pakan ternak dan pelet ikan.

"Kami tidak menyangka jumlahnya sebanyak ini. Air baru surut sejak pagi, dan waktu kami lihat ke bawah jembatan, dasarnya sudah penuh ikan hitam ini. Langsung kami panggil warga lain untuk mengumpulkan, lumayan bisa dijual kiloan untuk pakan lele dan bebek," ujar salah seorang warga yang ikut memanen.

Bagi masyarakat setempat, fenomena ini mendatangkan rezeki tak terduga. Pasar penampung ikan sapu-sapu umumnya memanfaatkan dagingnya sebagai sumber protein alternatif pengeringan pakan ternak, sementara cangkang kulitnya yang keras kerap diolah menjadi campuran pupuk organik.

Dominasi Spesies Invasif dan Kerusakan Ekosistem

Kendati mendatangkan keuntungan ekonomi instan bagi warga, kemunculan ribuan ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys) ini menyalakan tanda bahaya dari sisi ekologis. Spesies asal Amerika Selatan ini tergolong sebagai spesies invasif yang sangat agresif mendominasi perairan lokal Indonesia.

Sejumlah pakar lingkungan mengingatkan bahwa melimpahnya populasi ikan ini menunjukkan indikasi ketidakseimbangan rantai makanan dan degradasi kualitas air. Beberapa faktor kunci mengapa ikan sapu-sapu mendominasi sungai meliputi:

  • Daya Adaptasi Tinggi: Mampu bertahan hidup di perairan dengan kadar oksigen sangat minim serta tingkat polusi limbah yang pekat.
  • Minim Predator Alami: Kulit luarnya yang keras berlapis duri membuat predator lokal enggan memangsanya.
  • Reproduksi Masif: Memiliki tingkat keberhasilan pemijahan yang tinggi, sehingga mendesak populasi ikan endemik seperti tawes, gabus, dan wader.
  • Sifat Omnivora Rakus: Memakan alga, detritus, hingga telur-telur ikan asli sungai, sehingga merusak siklus regenerasi fauna lokal.

Peringatan Bahaya Konsumsi Langsung

Pihak terkait dan pemerhati kesehatan mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tidak mengonsumsi daging ikan sapu-sapu tangkapan sungai tercemar secara langsung. Ikan jenis ini memiliki sifat bioakumulator, yakni kemampuan menyerap dan menimbun endapan logam berat beracun seperti merkuri, timbal, dan kadmium yang terdapat di lumpur sungai.

Pemanfaatan terbaik dari fenomena penangkapan massal ini sejatinya adalah pembersihan sungai dari populasi invasif, dengan catatan pemanfaatannya dialokasikan secara ketat hanya untuk sektor non-pangan manusia. Surutnya sungai telah menyingkap fakta nyata mengenai invasi biologi yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan air keruh perkotaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yoga-mahendra

Editor Breaking News. Mantan assignment editor TV nasional.

Comments (0)

User